Hardiyanta adalah nama keluarga yang cukup dikenal di kawasan Padasri, Kota Bandung. Kata ayah, dulu mendiang kakek adalah jawara dari Banten. Beliau adalah ahli silat, pelatih sepak bola, dan dianggap sesepuh di sini sehingga punya banyak murid dan anak buah.
Kata ayah juga, dulu rumah anak-anaknya kakek juga sampai berjajar di pinggir jalan dan semuanya besar. Kawasan Padasri yang dulu belum punya banyak warga menjadikan keluarga Hardiyanta terlihat seperti keluarga berada yang terpandang.
Namun, seiring berjalannya waktu, rumah-rumah dari adik dan kakaknya ayah yang sudah meninggal dunia pun dijual. Sekarang sudah berganti jadi minimarket, warung besar, tempat makan, dan rumah orang lain. Tersisa rumah kami di antara itu semua.
Salah satau privilege punya kakek seperti itu adalah tidak ada orang yang berani mengusik keluarga kami. Kebanyakan dari mereka suka segan dan terkesan hormat. Tapi, karakter keras dan disiplin yang kuat juga menurun pada masing-masing keluarga kami.
Termasuk ayah yang mendidik kami dengan cukup keras dengan banyak aturan. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, ayah mengikuti jejak kakek sebagai pelatih silat. Beliau juga bekerja sebagai PNS dengan pangkat golongan yang sudah cukup tinggi.
Orang-orang di luar sana mungkin melihat keluarga kami sebagai gambaran yang sempurna. Sukses, memiliki privilege di Padasri, dan ditambah memiliki keturunan yang rupawan. Namun, mereka tidak tahu bagaimana aku mendapatkan perlakuan yang berbeda sebagai anak tengah.
“Rin, sini ke dapur bantuin Ibu.”
Aku yang sedang serius bermain gim di ponsel sambil tiduran terpaksa harus langsung bangkit. Tidak lupa tombol jeda diklik terlebih dahulu karena aku sedang menjalankan misi penting. Sedang ada bonus besar jika aku berhasil menamatkan permainan dalam sehari.
“Iya, Bu.”
Namun, misi penting dari ibu lebih penting. Kalau lama merespon, bisa-bisa aku diomeli seperti habis melakukan kesalahan fatal. Kulihat ibu sedang mewadahi kue bolu marmer ke dalam Tupperware kotak yang cukup besar. Sepertinya sudah tidak panas lagi.
“Buat siapa itu, Bu?” tanyaku. Antara penasaran dan ngiler jadi satu.
“Buat Bibi Atin. Kamu yang anterin, ya.”
Aku tersenyum. “Sore ini, Bu?”
“Iya dong. Ini kan kuenya baru matang,” jawab Ibu.
“Oke!” Aku pun turut membantu Ibu dengan memindahkan peralatan membuat kue yang kotor ke wastafel. “Tapi aku boleh main di sana, kan?”
“Boleh. Asal pulangnya jangan kemaleman,” jawab Ibu.
***