Aku menghentakkan kaki ke tanah seraya menunggu mobil angkutan umum datang. Jam sudah hampir menunjukkan pukul lima sore, tapi yang lewat selalu penuh atau beda jurusan. Mengharapkan ojek lewat pun peluangnya sangat kecil. Kalau begini terus, bisa jadi aku pulang naik becak.
“Danang udah lewat belum, ya?”
Aku terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulut. Kenapa aku jadi tiba-tiba kepikiran Danang? Kalau dia lewat sini, mungkin aku akan setuju untuk nebeng pulang, tapi risikonya terlalu besar. Apalagi aku tidak tahu apakah ayah sudah pulang atau belum.
Seolah semesta tahu apa yang sedang aku pikirkan, sesaat kemudian aku seperti melihat datang menaiki motor dari gerbang khusus keluar sekolah. Ada sedikit harapan ingin diajak pulang bersama, tapi cepat-cepat aku membuang muka dan melihat ke arah lain.
“Karina!”
Oh itu suara Danang. Aku tetap dengan posisi memalingkan wajah, ingin pura-pura tidak dengar. Namun, pada akhirnya Danang berhenti di depanku sambil tersenyum. Reflek, aku menoleh dan ternyata dia membawa dua helm.
“Masih nungguin angkot, ya?” tanya Danang.
“Iya,” jawabku singkat.
“Ayo aku anter aja. Keburu sore banget, lho.”
Bagian kecil dalam diriku ingin sekali menerima tawaran tersebut. Selain karena menunggu angkot lebih lama tidak menjanjikan, pulang dengan Danang juga dijamin sampai ke rumah dalam waktu cepat. Hanya saja risiko ketahun ayah tidak ada yang tahu.
“Sekarang aku bawa helm dua. Jadi, nggak ada alasan soal keselamatan,” ucap Danang sambil tersenyum tengil.
“Tapi anter sampai warung lagi kayak waktu itu,” ucapku menawar.
“Emang kenapa sih nggak boleh sampe rumah? Karena ayah kamu galak?” tanya Danang.
Sifat ayah yang keras mungkin jarang dilihat orang sekitar. Yang orang lain lihat adalah pembawaannya yang penuh wibawa dan tegas. Sebenarnya aku juga belum pernah membuat ayah marah yang melebihi batas dan tidak ada niatan demikian.
“Iya,” jawabku lagi.
Danang tiba-tiba tertawa. “Kan rumah kita searah. Ayah kamu pasti ngerti kok kenapa kita pulang bareng. Lagian niat aku cuma mau nganter aja biar kamu bisa pulang cepet dan nggak perlu ngeluarin ongkos.”
“Iya, aku tau niat kamu baik,” jawabku. “Ya udah aku mau ikut pulang bareng.”