“Rin, kamu potong rambut?”
Hari ini aku mendapat pertanyaan seperti itu terlalu banyak. Entah sejak kapan anak-anak di kelas memperhatikan aku sampai ke rambut. Memang agak mencolok sih. Yang tadinya sepunggung, sekarang jadi sebahu.
Namun, aku membalas dengan anggukan kepala dan senyum tipis. Aku tidak baik dalam berpura-pura. Terlebih lagi karena aku juga tidak terlalu akrab dengan mereka. Kalau aku menunjukkan wajah sedih, takutnya mereka malah lebih kepo.
“Rambut kamu ada kutu ya makanya dipotong pendek?”
Pertanyaan menyebalkan itu keluar dari mulut Santi yang kini duduk di kursi sebelah. Kedua mataku langsung melotot tidak terima. Di sisi lain, aku juga tidak mungkin cerita apa alasan sebenarnya rambut ini dipotong. Apalagi aku dan dia bukan teman dekat.
“Enak aja,” jawabku yang kemudian memalingkan wajah untuk kembali membaca buku.
“Tapi itu potongannya nggak rapi tau. Kamu potong sendiri, ya?” tanya Santi lagi.
Aku kembali menoleh ke samping kanan dan kini wajah Santi sudah sangat dekat dengan kepalaku. Seketika aku langsung memundurkan bahu, memberikan jarak. “Apa sih? Kepo banget!”
Santi malah tertawa seperti puas sudah mengganguku. “Gitu aja sewot. Aku kan cuma penasaran.”
“Nggak penting tau,” jawabku dengan ketus.
Padahal niatnya aku ingin belajar di jam kosong dengan menandai setiap kalimat penting menggunakan stabilo kuning. Sekarang aku memilih untuk keluar dari kelas karena Santi kalau sudah mengganggu tidak akan sebentar. Ujung-ujungnya malah minta jajan supaya berhenti.
Aku duduk sendirian di atas tembok pembatas pendek depan kelas. Tiba-tiba ada angin yang cukup kencang berembus, membuat rambutku bergerak sampai menutupi sebagian wajah. Ingatan tentang kejadian di sore kemarin kembali berputar di kepala sampai membuatku merinding sendiri.
Aku tidak punya waktu untuk merapikan potongan rambut ini ke salon. Mungkin nanti saja pas hari Minggu. Minta tolong ke ibu juga aku tidak mau karena mengingat beliau tidak melindungiku saat ayah membakar ujung rambut ini.
Aku memotong rambut sebisanya. Bekas kena api yang tidak beraturan membuatku memotongnya sampai hampir sebahu. Jangan tanya perasaanku bagaimana. Di malam hari aku menangis sendirian dari memotong rambut sampai menyimpan mereka ke dalam toples karena masih sayang.
“Karina.”
Tubuhku tersentak kaget saat mendengar seseorang memanggil dari jarak dekat. Ternyata itu adalah Danang yang kini duduk di sebelahku. Seketika kurapikan rambut ini dengan menyelipkannya ke belakang telinga agar tidak berantakan saat tertiup angin.
“Kamu … potong rambut?” tanya Danang dengan nada ragu. Tatapannya tidak bisa aku artikan. Seperti kasihan dan bingung di waktu yang sama.
“Iya,” jawabku singkat.
“Kenapa? Tiba-tiba banget? Kemarin?”
Danang melihat sendiri bagaimana sikap ayah di sore itu. Kalau aku jadi Danang, mungkin aku akan merasa aneh dan menyatakan pertanyaan yang sama. Memangnya apa yang menjadi landasanku untuk potong rambut di sore hari setelah ayah marah-marah?
Namun, Danang kan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Aku tersenyum, mencoba meyakinkan. “Gerah aja.”