Aku masih belum menerima permintaan maaf dari ayah semenjak kejadian rambut dibakar beberapa hari yang lalu. Komunikasi kita masih canggung, tapi dengan ibu sudah baik-baik saja. Mau menghindar bagaimana pun aku masih minta uang bekal dan jajan pada mereka.
Untuk berangkat sekolah, aku jadi sengaja pergi lebih pagi dan naik angkutan umum. Tidak ada komentar dari ayah atau usaha supaya hubungan kami menjadi lebih baik. Mungkin aku memang tidak sepenting itu juga di keluarga.
Kegiatan di sekolah berjalan seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Hari ini adalah Sabtu dan khusus untuk kegiatan ekstrakurikuler. Aku masuk tim voli yang kegiatannya sebagian besar berada di lapangan. Dengan tubuh yang tinggi, katanya aku cocok jadi atlet.
Sesekali aku mendengarkan cerita teman-teman di tim voli jika sedang istirahat. Ada yang punya rencana liburan sekolah nanti dengan keluarga, ada yang baru saja dibelikan hadiah oleh orang tuanya, dan masih banyak lagi yang membuatku ingin memasukkannya ke dalam wish list.
Kalau diingat-ingat, kayaknya liburan keluargaku tidak pernah jauh-jauh. Hanya sekitar kota Bandung. Aku juga jarang dibelikan hadiah karena paling sering mendapatkan barang turunan dari Kak Meylani. Berbeda dengan Nur yang malah sering dibelikan barang baru.
Sebenarnya ada sedikit rasa iri karena mendengar cerita teman-teman. Tapi setidaknya aku ikut senang mendengarkan pengalaman mereka. Kapan, ya, aku bisa merasakan pengalaman seperti itu?
“Kalau kamu nanti liburan sekolah mau ke mana, Rin?” tanya salah seorang dari mereka yang bernama Tania.
“A-Aku paling ke rumah nenek,” jawabku gelagapan karena tidak menyangka akan mendapat giliran untuk ditanya.
“Emang rumah nenek kamu di mana?” tanya Tania lagi.
“Hmm … masih di Bandung sih,” jawabku dengan senyum canggung.
“Yah itu mah bisa main kapan aja tanpa nunggu liburan sekolah,” sahut teman yang lain.
Iya juga sih. Aku hanya bisa terkekeh malu menanggapi kalimat itu. Lagipula ayah dan ibu tidak pernah membuat rencana liburan bersama kami para anaknya. Tahu-tahu sudah pergi saja naik mobil. Tapi seringnya memang ke rumah nenek.
“Karina!”
Aku tersentak kaget saat mendengar ada suara laki-laki yang memanggil. Seketika semua pasang mata langsung menoleh ke sumber suara. Teryata itu Danang yang baru saja datang ke lapang voli sambil berlari.
“Boleh ngobrol sebentar?” tanya Danang sambil tersenyum lebar. Terlihat keringatnya yang mengucur di dahi dan leher, juga membasahi seragam futsal sekolah.
Aku mengangguk dan kemudian berdiri. Danang berjalan duluan dan membawa kami duduk di bangku di bawah pohon rindang. Tidak langsung bicara, Danang mengambil botol air mineral dari dalam tasnya dan meminum beberapa teguk.
“Kamu mau minum? Capek, nggak?”
Aku menggelengkan kepala. “Nggak capek dan udah minum juga tadi. Makasih.”
Danang mengangguk dan kemudian memasukkan kembali botol air mineral itu ke dalam tas. “Sebenernya aku ngajak ngobrol karena mau ngundang kamu ke acara ulang tahun.”
“Kamu ulang tahun? Dirayain?” tanyaku.