Kali pertama Yola berkata ada yang menguntitnya, aku menyangka dia melebih-lebihkan.
"Orang lewat yang iseng lihatin lo, kali," sahutku. "Terus lo ge-er, mentang-mentang selebgram."
"Nggak lah, Kris!" bantah Yola. Dia menggeleng kuat-kuat hingga rambut ikalnya berayun. "Orang ini sengaja banget merhatiin, sampai guenya nyadar. Gue bisa bedain, kok!"
Aku dan Yola sedang berada di Aroma Patera, tea room langganan kami. Pada Minggu siang ini, hampir seluruh meja dan kursi kayu terisi oleh pengunjung. Mereka menonton video di ponsel, mengobrol, atau bekerja dengan laptop. Speaker di sudut langit-langit mengalunkan "Stolen" dari Prince Husein. Ucapan Yola tadi mengalihkan perhatianku dari lagu yang sempat menyayat hati.
Bukan karena lirik lagunya serupa dengan pengalamanku. Melainkan karena penyanyinya lulusan ajang cari bakat. Mengingatkan aku pada Vi, kakak kembarku—yang seharusnya bersinar sebagai penyanyi, sebelum hidupnya terkoyak-koyak.
Yola tiba di Aroma Patera lima menit yang lalu. Dalam cardigan longgar, rok bermotif tartan, dan kaus kaki wol merah muda, tubuhnya yang setinggi 155 cm tampak makin mungil. Pakaian Yola memang selalu girly dan unyu, berbeda dariku yang lebih menyukai kaus dan celana jeans.
Begitu duduk, Yola langsung berkata ada yang menguntitnya. Atas usulku, dia memesan minuman sebelum bercerita demi meredam gelisah. Sekembalinya dia ke meja, aku berkata mungkin itu orang iseng, dan Yola menyangkal karena yakin orang itu sengaja memperhatikannya.
"Kapan dan gimana kejadiannya?" tanyaku. "Apa ciri-ciri orangnya?"
Yola menyesap tehnya yang berisi sebutir leci. Tampaknya dia tengah merunut jawaban. Seraya menanti dia siap berbicara, aku mengunyah roti bakar selai srikaya. Belakangan ini, itulah yang sering aku lakukan: menanti jawaban dari orang-orang yang kusayangi. Termasuk jawaban atas pesan yang kukirim selagi menunggu Yola.
Vi, udah bangun? Demikian isi pesan untuk kakak kembarku. Sarapan yang betul, ya. Jauh dari Mama-Papa, lo makannya mesti banyak.
Pesan itu kuimbuhi dengan selfie tanpa kaca mata. Vi pernah menyuruhku sering-sering memakai lensa kontak dengan alasan praktis. "Malah ribet, tahu," tampikku. "Nggak betah gue sama ganjalan di dalam mata." Vi pun tidak menyuruh lagi, dan selalu menemaniku kontrol ke dokter mata.