Sayat

Eve Shi
Chapter #2

2. Melodi Yang Dibungkam

Di akhir cerita Yola, aku bertanya, "Itu alasannya lo ngira dia stalker? Dia sengaja merhatiin dan tatapannya nusuk?"

"Iya, terutama karena dua hal itu. Yang gue tangkap dari sikapnya, gue kayak pernah bikin salah ke dia." Yola memutar-mutar mason jar berisi tehnya dengan kedua tangan. "Gimana gue mastiin kenal dia atau nggak? Kan, susah ngenalin orang dari jauh gitu. Mana dia pakai masker, lagi."

Aku mengelap jemari dengan tisu. "Dia hater, kali? Like, warganet yang nggak suka posting Instagram lo? Ajaib memang, tapi banyak orang yang dibenci cuma gara-gara hal sepele."

Yola punya hobi mengumpulkan kutipan yang dia sukai dari buku-buku bacaannya. Dia membuat grafis untuk setiap kutipan, lalu mengunggahnya secara rutin di akun Instagram khusus. Sedikit demi sedikit, jumlah followers akun itu meningkat hingga angka puluhan ribu. 97% komentar bernada positif; 3% lagi dari akun jualan, meminta vote, dan celaan.

Mendengar teoriku tadi, Yola berdecak. "Benci sama akun gue, terus cari tempat tinggal dan nguntit? Ih, seram amat!"

"Yah, ada aja, sih, orang kurang kerjaan. Gue sendiri nggak kebayang kenapa akun lo sampai bisa dibenci. Kutipan di posting lo kebanyakan puitis atau imut. Jadi ya, gue rasa orang itu bukan hater akun lo."

Yola manggut-manggut.

"Atau lo baru berantem sama teman kos? Dia sakit hati, ngadu ke cowoknya, terus cowoknya neror lo?"

"Waduh." Mulut Yola membulat. "Teman kos gue nggak ada yang dendaman gitu, deh. Gue dan mereka juga nggak pernah berantem, akur terus."

Aku pun sulit membayangkan Yola menyakiti seseorang. Sedari kecil dia terbiasa menjadi anak teladan. Dia rajin belajar demi menjaga nilai akademisnya tetap tinggi. Pacaran hanya satu kali, itu pun dengan anak kenalan keluarganya, dan putus baik-baik. Bagi Yola, perilakunya ini wajar: bagian dari hidupnya, sama seperti bulu matanya yang lentik.

"Moga-moga bukan stalker," lanjutku. "Kayak gue bilang di awal, orangnya sekadar lewat dan iseng lihatin lo."

Lihat selengkapnya