Kepergian Vi melahirkan hampa di rumahku. Tak ada lagi suara alto-nya yang ribut mencari ponsel atau sandal—Vi yang ceroboh kerap lupa tempat dia menaruh barang. Kadang dia menyanyikan lagu favorit sambil menari-nari kecil.
Kini nyanyian Vi tinggal kenangan. Sepulang kerja, Mama dan Papa langsung masuk ke kamar. Selain mengecek kemajuan skripsiku, mereka jarang menyapaku. Aku sampai ingin ditanyai apa yang dipelajari di prodiku, serta prospek kerja bagi lulusannya, seperti dahulu. Bagi orang tuaku, yang sama-sama alumni fakultas ekonomi, prodi Geofisika ibarat ilmu planet lain. Padahal objek studinya adalah bumi.
Terkadang amarah dan rasa kangenku pada Vi menggelegak sepanas lava. Aku mengutuk orang yang mengakibatkan Vi terpuruk, lalu ingat dia telah menerima hukuman. Sialnya, aku tak lantas girang, sebab Vi tetap berada jauh dari kami.
Persis hari-hari sebelumnya, pada Senin pagi ini Mama dan Papa menyarap tanpa bicara. Mereka duduk, mengambil nasi dan lauk, lalu makan. Bunyi yang ada hanya denting sendok, serta ketukan cangkir dan pisin saat orang tuaku menyesap kopi. Kesenyapan ini begitu pekat hingga mengunci kata-kata yang sudah sampai di ujung lidahku.
Aku membuka suara. "Pa, Ma. Besok aku dan Vi ulang tahun. Kita kasih Vi ucapan selamat lewat video call, yuk?"
"Apa Vi mau menjawab video call kita?" sahut Papa. Hambar, tanpa sedikit pun suka cita atas ulang tahun kedua anaknya. "Pesan teks saja seringnya hanya dibaca."
"Tapi ini ucapan selamat ultah dari keluarga sendiri. Masa Vi nggak mau nerima?"
Papa menaruh cangkir kopinya. "Peristiwanya belum genap satu bulan, Kris. Vi pasti masih terpukul. Oma malah bilang, Vi jarang pegang ponsel. Biarkan dia menyepi dulu."
"Kalau Kris ingin mengirim ucapan selamat, lewat pesan teks saja," ujar Mama. "Supaya Vi baca sesempatnya, tidak wajib saat itu juga."
Ucapan Papa dan saran Mama masuk akal. Akan tetapi, aku tak tega bila Vi hanya mendapat pesan teks dari keluarga di hari istimewanya. Minimal ada bukti lebih atas perhatian dari kami. Perhatian yang dia butuhkan, walau mungkin belum dia inginkan.
"Kita bikin video pendek bertiga, gimana?" cetusku. "Buat dikirim besok pagi. Sekarang aja bikinnya, nanti malam Mama-Papa udah cape."