Di awal masa pacarannya dengan Aldo, Vi merasa dialah gadis paling beruntung di dunia.
Seperti Yola, Vi menyukai bahasa asing sejak kecil. Menuruti minatnya pada budaya negeri sakura, dia mendaftarkan diri di prodi Sastra Jepang. Aku dan Vi diterima di universitas yang berbeda; seperti Yola pula, Vi tinggal di rumah kos dekat kampusnya.
Pada tahun ketiga Vi berkuliah, Aldo pindah ke salah satu rumah kos di lingkungan yang sama. Mereka berdua kerap saling memapas bila pergi dan pulang kuliah. Dari situ, lambat laun Vi dan Aldo menjadi akrab. Terlebih karena selera mereka menyangkut makanan dan film banyak yang serupa.
Suatu kali, Aldo menunggu Vi di pelataran parkir kampusnya. Kala itu hari ulang tahun Vi, dan Aldo ingin memberi kejutan: mengajaknya makan malam bareng. Pada titik itulah Vi benar-benar jatuh hati.
"Nunggunya satu jam lebih, lagi!" cetus Vi padaku. Kami sedang menekuni ponsel masing-masing; Vi menonton acara kompetisi memasak, aku bermain fashion game. "Pasti bosan banget dia di mobilnya."
"Hm," gumamku sambil lalu, sibuk memadu-padankan baju dan aksesori untuk cocktail party.
"Bisa aja kan, dia ke rumah kos gue sehabis jam kuliah? Tapi dia sengaja jemput gue di kampus supaya kami langsung ke restoran. Belum pernah ada cowok yang segitu perhatian sama gue, Kris."
"Modus. Kelakuan manusia yang ada maunya memang gitu. Lo jangan ketipu."
Saat Vi tidak menyahut, aku menengadah. Wajah Vi bersemburat merah muda dan dia tersenyum-senyum. Aku memutar bola mata; kami berdua kembar beda telur, dan bukan wajah kami saja yang tidak mirip. Hati Vi mudah direbut oleh tindakan manis, sedangkan aku cenderung skeptis. Menurut Vi, sifatku yang mudah curiga itulah yang menyebabkan aku sulit punya pacar.
"Makan malamnya pasti istimewa dong, secara dia lagi modus," lanjutku.