"Kita mau ketemu orang tua kamu?" tanya Vi. Mobil Aldo masuk ke jalan raya dan bergabung dengan puluhan kendaraan lain. Untuk ukuran malam Minggu, lalu lintas tak terlalu padat.
"Ortuku punya acara masing-masing," jawab Aldo. "Kita nonton film di rumahku aja. Aku lagi nggak mood ke tempat ramai."
"Ayolah," kata Vi, meskipun dia makin heran. Aldo baru meminta persetujuan sekarang, padahal biasanya dia mengutamakan keinginan Vi. Satu lagi hal yang janggal: tak ada bunyi dari speaker mobil, sementara Aldo selalu menyetel musik bila sedang menyetir.
Mereka membungkam sampai Aldo memarkir mobil di halaman rumahnya. Tanpa sepatah pun kata ajakan, dia menuju ruang tamu, dan Vi setengah berlari menyusulnya. Rumah itu lengang; lampu ruang tengah bahkan padam. Tiba-tiba saja tengkuk Vi dingin.
Ada yang tidak beres. Aldo bukan malas ke tempat ramai, melainkan sengaja menggiring mereka berdua ke tempat sepi. Firasat Vi berkata—bukan, berkeras—demikian.
"Adik-adik kamu keluar juga?" tanyanya.
"Malam mingguan bareng pacar," jawab Aldo. Dia menyalakan lampu ruang tengah dan menuding kursi. "Vi, duduk. Aku mau bicara."
Bulu-bulu halus di lengan Vi berdiri tegak. Hawa dalam rumah seakan anjlok sepuluh derajat. Ada yang amat sangat tidak beres—dan Aldo ingin mengatakannya sejak sore, atau bahkan seharian tadi. Yang paling merisaukan, Vi bahkan tak dapat mengira-ngira apa yang akan dikatakan pacarnya.
Aldo mengeluarkan ponsel dari saku. Dengan cepat ujung jemarinya mengeklik layar beberapa kali. Dia menghadapkan layar ke depan, dan kepala Vi serasa dihantam batu.
Galeri menampilkan foto-foto seseorang yang menelungkup di tempat tidur. Matanya terpejam dan dia tidak mengenakan baju. Wajahnya yang tertoleh ke arah kamera sangat mirip Vi.
Seorang cowok bertelanjang dada berbaring di belakang Vi, menempel di punggungnya. Lengan cowok itu teracung ke depan—jelas untuk memegang ponsel dan memotret. Wajah dan kepalanya tertutup oleh stiker. Jika pun ada tanda khas di badannya, seperti tahi lalat, tanda itu telah dihapus lewat suntingan.