Sekali lagi aku berterima kasih pada Bu Martha, lalu mohon pamit. Urusanku di kampus sudah selesai, tapi aku enggan pulang. Luntang-lantung di mal terlalu menyedihkan bila seorang diri. Pilihanku pun jatuh pada kantin fakultas, tempat aku bisa menikmati kudapan.
Kantin terletak di samping salah satu gedung kuliah. Semua mahasiswa yang sedang menongkrong di sana berasal dari prodi lain; tak ada satu pun mahasiswa Geofisika. Aku memesan batagor ekstra pedas serta es teh manis. Selagi aku menempati meja pojok, pikiranku mengembara ke segala arah.
Kerja magang terakhirku selesai beberapa bulan lalu. Selepas sidang skripsi, statusku sah menjadi penganggur. Mulai kini aku harus makin gencar mencari kerja. Kesibukan ini, selain membuat aku merasa berguna, juga mengalihkan pikiran dari Vi. Terus-menerus mencemaskan dia hanya membebani batin, sementara aku wajib menjaga kesehatan fisik dan mentalku sendiri.
"Hei. Psst. Hei, cewek."
Tanpa menoleh pun, aku mengenali suara bernada mencemooh itu. Akibat kasus Vi, namaku sebagai adiknya turut mencuat. Aku yakin, hampir semua orang di fakultas ini—mahasiswa, dosen, karyawan—tahu siapa aku. Kawan-kawan satu prodi mendukungku, menyatakan siap menampung curhatku bila perlu. Sedangkan suara barusan berasal dari mahasiswa prodi lain yang sudah lama kesal padaku.
"Diam aja, lagi ngapain?" lanjut suara itu. Pelan tapi jelas, sebab berasal dari meja sebelah. "Mikir nanti malam buka baju di depan pacar? Kayak yang dilakuin kakak lo itu?"
Sambil menaruh sendok dengan agak keras, aku berpaling ke meja sebelah. Dirga, mahasiswa prodi Kimia, duduk sendirian di sana. Tentu saja dia tak perlu teman untuk mengata-ngataiku, sebab apa pun yang dia ucapkan tentang Vi ada buktinya.
"Apa susahnya sih, urus diri sendiri?" ujarku. "Mesti banget lo komentarin orang lain?"