Sayat

Eve Shi
Chapter #7

7. Makin Mendekat

Di atas meja kantin, layar ponselku menyala oleh panggilan WhatsApp. Muncul foto profil Yola yang tengah berpose bersama seekor chow chow di Fun 'n Fluff. Aku menggeserkan ujung jari di tombol virtual. "Ya, La?"

"Gue ganggu, nggak?"

Suara Yola dilatari riuhnya obrolan dan tawa terbahak. "Nggak. Lo di kampus?" tanyaku.

"Iya. Semua yang wisuda di gelombang berikut datang hari ini." Jeda beberapa detik. "Kris, bisa ketemuan? Gue perlu curhat."

Aku menghirup es teh yang tinggal sepertiga gelas. "Soal apa? Sidang skripsi?"

"Mmm... Ngomongnya empat mata aja, jangan lewat telepon. Gimana kalau gue ke kampus lo?"

Kedua fakultas kami, MIPA dan Ilmu Budaya, saling bersebelahan. Aku cukup berjalan kaki sepuluh menit—jauh lebih baik daripada aku penasaran sampai Yola tiba. "Lo aja yang nunggu. Gue ke sana sekarang."

***

Yola menyongsong aku di halaman fakultasnya. Dibandingkan kampusku, Fakultas Ilmu Budaya penuh oleh mahasiswa yang mondar-mandir dan saling berseru. Kata Yola, kebanyakan mereka anggota klub yang bergiat selama liburan semester. Kata itu, klub, mengingatkan aku pada sesuatu.

"La, waktu SMA kan, lo aktif di pers sekolah," kataku selagi Yola menggandeng aku ke arah salah satu gedung. "Rajin bikin liputan kegiatan ekskul, malah pernah interview klub sekolah lain. Kirain lo bakalan kuliah jurnalistik."

Dia mengangkat bahu. "Jurnalisme cukup jadi hobi aja. Bahasa lebih menantang buat gue. Tapi dua hal itu ada kesamaannya." Sejenak lengannya melingkar dengan rapat di lenganku. "Sama-sama bisa dipakai membelokkan kebenaran dan makna."

Aldo harus tahu kebenaran biarpun pahit. Itulah pengantar dalam pesan yang dikirim Kenzo. Tanpa perlu dibelokkan pun, kebenaran kadang mampu menggerogoti hidup manusia.

Lihat selengkapnya