Sayat

Eve Shi
Chapter #8

8. Langkah Pertama

"Begitu cowok itu pergi, Pak Zein datang," kata Yola pelan. "Tapi, selama bimbingan, pikiran gue ke mana-mana. Takut banget gue, Kris! Orang itu tahu lokasi rumah kos dan kampus gue!"

Siapa saja, asal mirip mahasiswa, bebas melenggang masuk ke lingkungan universitas kami. Petugas sekuriti, kecuali punya photographic memory, pasti sukar menghafal ribuan wajah. Merepotkan pula jika tiap mahasiswa yang melewati gerbang wajib menunjukkan kartu identitas.

"Dan lo sama sekali nggak punya gambaran siapa dia?" tanyaku.

"Asli, gue blank! Dia pasti tahu itu, makanya berani kasih lihat mukanya."

Yola melirik pintu ruang kuliah, seolah takut cowok tak dikenal itu tiba-tiba masuk. Aku mengulurkan tangan, dan Yola menggenggamnya. Setelah menyengap beberapa saat, dia melanjutkan kisahnya.

"Begitu bimbingan beres, gue telepon lo di luar ruang dosen. Sampai turun ke halaman kampus pun, gue selalu bareng orang lain. Nggak berani sendirian. Nunggu lo sambil celingukan, kali-kali cowok itu masih di kampus."

Aku mengeratkan genggamanku. "It's okay, La. I'm here. Kalau orang itu nyamperin lo lagi, bakal gue teriakin copet, biar kapok!"

Gayaku yang agresif membuat Yola tertawa lemah. "Thanks, Kris. Lo emang bestie gue terbaik se-Indonesia."

You're the best sister ever. Demikian kata Vi malam itu sepulangnya dari rumah Aldo. Namun, sebagai saudara, aku gagal melindungi Vi. Sebagai gantinya, aku akan menjaga Yola dengan segenap daya.

"Apa yang lo butuh dari gue?" tanyaku. "Antar lo pulang? Temenin lo ke tempat lain?" Aku pernah membaca, bila menawarkan bantuan, kita harus menyebutkan tawaran secara spesifik. Dengan demikian, orang yang kita tawari dapat cepat memilih dan terbantu.

"Temenin gue, deh." Yola bangkit dari kursi. "Udah lama lo pengin ke Fun 'n Fluff, kan? Kita ke sana aja."

"Yeah!" Semangatku langsung melambung; bermain dengan hewan-hewan imut akan jadi obat ampuh bagi kami berdua. Lupakan reward untuk skripsi—menghibur diri sendiri saat ini lebih penting. Aku mengguncang tangan Yola dengan semringah. "Lo salah, La. Yang bestie nomor satu itu lo!"

Yola tertawa lagi, kali ini karena antusiasme yang meluap-luap dariku. Kami keluar dari Fakultas Ilmu Budaya dengan perasaan cerah. Dalam taksi menuju Fun 'n Fluff, Yola menjelaskan bahwa ini waktunya anjing-anjing tidur siang.

"Tapi kita boleh nontonin mereka, asal nggak diajak main," tuturnya. "Lagi tidur pun, semuanya unyu dan ganteng, kok."

"Boleh foto bareng?" tanyaku.

"Lebih baik tunggu mereka bangun dulu, biar posenya bisa macam-macam. Lo belum pernah ke kafe lantai dua, kan? Nanti gue tunjukin pernak-pernik di sana."

Iseng aku mencetus, "Oya, Fun 'n Fluff lagi perlu staf magang, nggak? Pengin coba ngelamar ke sana."

"Lagi nggak perlu. Mami juga belum tentu nerima lo."

"Lah, kenapa? Takut gue jijik dan nolak disuruh bersihin kotoran doggo?"

Yola menyengir jengah. "Gini, Kris. Gue tegasin ke Papi-Mami, mau cari kerja sendiri tanpa bantuan mereka. Misalkan lo, teman gue, dapat kerja di Fun 'n Fluff melalui gue, kurang pantas rasanya."

"Oh!" Aku terperanjat. "Oke, oke, gue ngerti." Prinsip Yola yang tidak memakai koneksi juga dia terapkan pada teman-temannya. Aku menghargai keteguhan sahabatku, sekaligus makin terpacu untuk memperoleh kerja lewat usaha sendiri.

Dog cafe milik ibu Yola terletak di tengah deretan tempat-tempat usaha lain: butik, restoran, dan karaoke lounge. Kami turun dari taksi, lalu masuk ke Fun 'n Fluff. Pada waktu tidur siang bagi hewan, dog cafe tertutup untuk pengunjung umum. Yola bicara sebentar dengan staf, lalu mengajak aku ke lantai atas.

Lantai itu didekorasi dengan tema cute puppies, mulai dari lukisan, bantal kursi, sampai jam beker. Ada pula suvenir yang bisa dibeli seperti dompet dan plushie. Harganya tak terlalu ramah kantong, tapi desainnya cantik, maka aku berniat menabung.

Seorang staf tiba dengan nampan berisi jus soda pesanan kami. "Wah, Mas Afri," cetus Yola. "Udah baikan? Sakit apa kemarin?"

Lihat selengkapnya