"Yang kirim foto-foto ke Aldo namanya Kenzo," kata Vi padaku. Seraya mengusap matanya yang basah, dia berbisik, "Disimpan di ponselnya, terus disebar buat balas dendam."
Peristiwa Aldo memutuskan Vi terjadi tadi malam. Aku dan Vi hanya berdua di rumah; Mama dan Papa pergi, Mbak Usi sedang pulang. Setelah minum teh panas sampai tenang, Vi akhirnya sanggup bercerita lebih banyak, sesekali diselingi sedu sedan.
Ketika itu kampus Vi dan Aldo merayakan dies natalis. Hari-hari Aldo tersita oleh kegiatan selaku panitia sekaligus berlatih futsal untuk pertandingan antarfakultas. Sejak dulu tim fakultas Aldo selalu jadi juara harapan. Tahun ini, dia berharap mereka merebut gelar juara satu. Dari pagi hingga magrib dia sibuk di kampus, hanya memegang ponsel seperlunya. Akibatnya, dia jarang mengontak Vi.
"Gue kangen parah sama dia, Kris," gumam Vi. "Pengin ketemu muka, tapi kirim pesan aja dia cuma sempat kalau malam. Pengin ajak ngobrol panjang lebar, gue sungkan, soalnya waktu dia terbatas."
Di tengah desakan rindu tanpa pelampiasan, dia berkunjung ke kampus temannya. Di sanalah dia bertemu Kenzo, satu dari sekian mahasiswa yang makan semeja dengan teman Vi. Perkenalan mereka dipicu oleh hal remeh: Vi kebetulan melihat Kenzo menerima pesan LINE dari ayahnya.
"Langka, ih," komentar Vi. "Cowok yang gue kenal semuanya pakai WhatsApp."
"Gue lebih cocok sama LINE," sahut Kenzo. "Nggak kebanyakan grup. Tampilan pesannya renggang, enak di mata."
"Wah, sama, dong!" sahut Vi. "Itu juga makanya gue dan keluarga pakai LINE."
Mereka berdua membicarakan stiker dan tema favorit, dan ujung-ujungnya bertukar nomor ponsel. Obrolan mereka lewat LINE meluas ke hobi sampai hal-hal yang lebih pribadi. Saling berkirim pesan dengan Kenzo menambal kekosongan dalam hati Vi, hingga perasaan suka pada Kenzo pun mekar.
Semakin Vi mengenal Kenzo, dia terpesona oleh betapa kedua cowok yang disukainya saling bertolak belakang. Bila Aldo luwes bergaul dengan siapa saja, Kenzo lebih betah berkumpul dengan sekelompok kecil teman. Aldo gemar berolahraga dan hiking. Hobi Kenzo adalah menggubah lagu dengan gitar di kamarnya.
Bersama Aldo laksana menjelajahi lereng gunung di bawah matahari. Bersama Kenzo bagaikan duduk di tepi sungai saat senja, dibuai bunyi gemerecik air. Keteduhan yang diberikan Kenzo itu menjerat Vi, terlebih karena dia kesepian. Dia bahkan bisa curhat soal kesepian itu pada Kenzo.
Saat Kenzo menembaknya, Vi mengungkit nama Aldo. "Tapi gue suka lo juga," imbuh Vi. "Suka asli, bukan kaleng-kaleng. Gimana, ya? Ada usul?"
Kenzo mendeham. "Ah. Ternyata kita sama-sama nggak bertepuk sebelah tangan. Itu aja udah awal yang menjanjikan. Kita lihat dulu ke mana arahnya perasaan kita ini. Asal Aldo nggak tahu..."
"Asal nggak tahu, dia nggak tersakiti," sambung Vi. Kenzo mengangguk, dan pacaran backstreet mereka pun dimulai.
***
KRIS: Selamat ulang tahun, Vi! Ini video pendek dari gue, Mama, dan Papa. Semoga lo sehat terus dan lekas bahagia lagi.