Sayat

Eve Shi
Chapter #11

11. Si Pengkhianat

Ketika itu, sesudah mengisahkan awal hubungan backstreet-nya dengan Kenzo padaku, Vi mengaku bahwa pacaran dengan cowok itu adalah pengalaman yang melenakan. Tanpa menunggu Aldo punya waktu luang, dia dimanjakan perhatian seorang pacar. Kenzo mendengarkan impian dan keluh kesah Vi dengan tekun. Bila menonton film, mereka memilih bioskop yang sekiranya jarang didatangi teman-teman mereka.

"Teman-teman Kenzo tahunya dia jomlo," ujar Vi. "Kagok banget kalau dia kepergok nonton berdua sama cewek yang mereka nggak kenal. Dan teman-teman gue tahu Aldo sibuk jadi panitia dan latihan." Dia menenggak sisa teh panas dalam cangkir, seakan menimba tenaga dari minuman itu. "Tiap lagi jalan bareng, gue dan Kenzo udah kayak maling. Lirik ke sana kemari, takut papasan sama orang yang dikenal."

Pada aku, Mama, dan Papa, Vi tidak pernah menyinggung bahwa Aldo sedang sibuk. Kami mengira mereka berdua pacaran seperti biasa. Binar mata dan tawa Vi saat menulis pesan teks, menurut sangkaan kami, adalah untuk Aldo.

Saat kisah Vi tiba di bagian ini, aku mencetus, "Gue mau tanya satu hal. Lo dan Kenzo ngelakuin ini karena Aldo nggak tahu dan nggak tersakiti. Apa kalian nggak kepikir, gimana pun juga lo udah mengkhianati Aldo?"

Wajah Vi berubah pucat. Dia memalis, tak berani menatap mataku. Jelas mengapa dia bercerita hanya padaku: reaksi Mama dan Papa pasti lebih keras. Orang tua kami amat menentang tindakan selingkuh, apalagi alasan Vi sepele. yakni bosan akibat Aldo sibuk.

"Gue cuma mau semua orang bahagia, Kris," ujar Vi lirih. Perlahan dia berpaling kembali ke arahku, tapi sambil menunduk. "Kenzo punya kenangan indah tentang gue biarpun sedikit. Aldo tetap fokus di kesibukan kampus, nggak mesti bagi waktu buat gue. Dan sementara dia sibuk, gue punya teman."

Aku ingin membantah, tapi bingung dengan caranya. Dari satu segi, Vi, Aldo, dan Kenzo memang sempat bahagia. Sebaliknya, tindakan Vi serupa bom yang dapat meledak sewaktu-waktu—dan terbukti dari tersebarnya foto-foto celaka itu.

Sementara Vi dan Kenzo berkencan diam-diam, The Songster mengumumkan jadwal audisi. Vi pernah mengikuti kursus vokal sampai lulus SMA. Meski tak bermimpi jadi penyanyi tenar, dia masih mencintai seni tarik suara. Dia pun tertarik menjajal ajang cari bakat yang merupakan bagian dari waralaba internasional ini.

Atas izin Mama dan Papa, Vi mendaftar sebagai peserta. Menurut Vi, sekalipun audisinya gagal, dia tetap dapat memetik pengalaman berharga. Aldo juga mendukung niatnya mengikuti audisi. "Suara kamu cakep. Siapa tahu juri suka!"

Pada hari dies natalis, Vi pergi menonton pertandingan futsal kampus. Lewat sedikit perjuangan, dia berhasil duduk di kursi baris terdepan. Sambil mengacungkan banner buatannya sendiri, dia berseru-seru menyemangati tim Aldo. Di akhir pertandingan, tim itu meraih gelar juara satu.

Selamat yaaa!! ♥ komentar Vi di akun Instagram Aldo. Kerja keras kamu dan tim kebayar lunas. Permainan kalian tadi keren, gila! Aldo menjawab komentar itu lewat pesan teks.

 

ALDO: Makasih! Mau tahu rahasiaku bisa main keren?

VIOLET: Hm... Teman-teman satu tim semuanya jagoan?

ALDO: Ya, tapi ada yang lebih utama dari itu. Kamu, Vi. Tenagaku naik tiga kali lipat berkat kamu.

Lihat selengkapnya