Sayat

Eve Shi
Chapter #12

12. Putus

Kenzo terbelalak. "Maksudmu..." Mulutnya berkomat-kamit tanpa bunyi. Lalu dia menggeleng tak percaya. "Maksudmu, kita putus?"

"Ya. Terima kasih kamu udah bersamaku selama ini. Semoga kamu cepat ketemu orang lain yang lebih pantas bagimu."

Kenzo bergeming. Tatapannya pada Vi sarat tanda tanya. Vi diam, menanti cowok itu mencerna ucapannya. Tiba-tiba kebingungan lenyap dari wajah Kenzo. Bibirnya melengkung ke bawah dan sinar matanya berapi-api.

Melihat perubahan ekstrem ini, Vi mengernyit. "Kenzo?"

"Habis manis, sepah dibuang," kata Kenzo. Gerahamnya terkatup dan nada suaranya kasar. "Hah! Tapi kenapa juga gue heran? Orang yang tega selingkuh cuma gara-gara bosan udah jelas sifatnya—egois dan kejam."

Vi mengerjap. "Kenzo, kamu ngomong apa, sih?"

"Aldo udah punya waktu lagi. Lo tinggal buang cowok yang selama ini dampingi lo. Nampung segala curhat nggak penting dari lo. Buat lo, gue memang cuma ban serep!"

Ganti Vi yang bingung, juga sedikit terintimidasi. Sejak mereka saling kenal, Kenzo tak pernah gusar pada Vi maupun pada hal yang menimpa dirinya sendiri. Dosen pelit nilai, komentar tak sedap di media sosial—semuanya dia tanggapi dengan kalem. Amukan pasif agresif tadi sama sekali di luar perkiraan Vi.

"Kok, kamu marah?" tanyanya. "Kapan aku janji kita pacaran selamanya?"

"Gue pernah bilang, kita lihat dulu ke mana arahnya perasaan kita ini." Wajah Kenzo merah padam oleh emosi. "Dan lo jawab iya. Ingat? Atau pura-pura lupa?"

"Tapi kamu tahu aku pacar Aldo," balas Vi. "Itu hal paling mendasar dalam hubungan kita. Kirain kamu paham tanpa harus aku jelasin. Kenapa kamu jadi halu begini?"

"Halu?"

Wajah Kenzo semakin merah dan napasnya berat. Sekilas Vi takut Kenzo akan memukulnya. Rumah kosong, jalanan di depan sepi; tak akan ada yang menolong Vi. Beberapa menit lalu, dia percaya Kenzo bahkan tak tega membentaknya, tapi kini—

Lalu Kenzo berdiri dengan cepat. Tanpa melepaskan pandangan dari Vi, dia berjalan mundur. Vi ikut bangkit, lalu gerakannya terhenti saat Kenzo tertawa dengan bunyi yang mendirikan bulu roma.

"Nggak usah diantar," ujar Kenzo. "Gue bisa pulang sendiri."

Tangan Vi saling meremas dengan resah. "Kenzo, aku mohon, tolong jangan marah. Ini sekadar salah paham aja. Jangan sampai kita berpisah sebagai musuh."

Lihat selengkapnya