Akibat percakapan dengan Mama, konsentrasi belajarku buyar. Isi buku menjadi sekadar huruf-huruf fakir makna. Dengan perasaan karut-marut, aku mematikan lampu dan naik ke tempat tidur.
Esoknya, aku bangun pagi dan mandi awal demi mendinginkan kepala. Sarapan bersama orang tuaku sesunyi biasa; absennya Vi telah melesapkan minat kami mengobrol sebagai keluarga. Selagi aku mencuci piring, kata-kata Mama semalam memenuhi telingaku, segaduh dengung lebah.
Tanpa mengingkari bahwa Vi korban, orang tuaku percaya dia menjerumuskan diri sendiri. Vi mencederai cinta Aldo dan foto-foto itu imbasnya. Sekalipun dia pulih dan melanjutkan hidup, Mama dan Papa lebih suka dia berada jauh dari mereka.
Setega itukah mereka pada Vi? Gara-gara tindakan dia mirip ulah mantan tunangan Mama dan Papa? Sungguh menyedihkan jika Vi seumur hidup tinggal di Surabaya, tak pernah lagi pulang ke Jakarta, hanya bisa kutemui lewat layar ponsel...
Urat nadi di pelipisku berdenyut-denyut. Aku ingin menghindar dari rumah ini—rumah yang pemiliknya menolak kehadiran anak sendiri. Setengah tergesa, aku berganti baju, lalu mengisi tas dengan buku-buku materi skripsi.
Cuaca pagi ini mendung dan hawanya sejuk. Berkat itu, aku tak banyak berkeringat. Para penumpang lain di kendaraan umum berbaju rapi dan menguarkan wangi parfum—orang-orang yang berangkat kerja. Mereka mengingatkan aku akan lamaran kerja yang tak kunjung berbalas, sehingga perasaanku makin keruh.
Aku mengambil ponsel dari tas dan mengetik pesan untuk Yola. Hari ini lo ngapain? Gue lagi jalan ke Aroma Patera. Belajar sambil buang bad mood di sana. Kali-kali aja lo mau gabung.
Di sepanjang jalan, aku membaca berbagai peluang di akun-akun lowongan kerja. Lowongan yang menarik kusalin di aplikasi Notes pada ponsel. Hingga aku turun di tujuan, Yola belum menjawab pesanku. Menurut statusnya tadi malam, dia sudah memboyong semua barangnya ke rumah orang tua. Mungkin dia ada acara mendadak atau sedang mengambil sisa barang dari kamar kos.
Baru ada satu pelanggan di Aroma Patera: seorang wanita sepantar Mama yang tengah menelepon. Pramusaji yang sudah mengenalku menyapa, "Pagi, Kak Kris," dan aku balas menyapa dengan senyum. Setelah memesan di kasir, aku menempati meja favoritku yang terletak dekat jendela.
Ditemani pesananku, aku membaca ulang materi skripsi. Perpaduan asinnya cheesecake dan manisnya teh apel membuai lidah. Atmosfer tea room tenteram dan akrab denganku. Tak ada pesan masuk ke ponselku, bahkan dari grup WhatsApp. Karenanya otakku dengan mudah menyerap hampir seluruh materi.
Seiring berlalunya menit demi menit, rasa percaya diriku tumbuh. Aku siap menghadapi sidang skripsi Kamis besok. Aku akan membuat bangga diri sendiri, keluarga, juga Bu Martha. Nilai sidang skripsi yang tinggi, seperti keahlian Vi mengelola bisnis Oma, akan menjadi cahaya kecil bagi keluarga kami.
Pintu Aroma Patera berayun terbuka. Aku mengangkat kepala tepat saat Yola memburu masuk. Napasnya terengah dan poninya berantakan, seakan dia habis berlari. Begitu melihat aku, Yola berjalan lurus ke arahku.
"Kena dia," desis Yola. Dia mengenyakkan badan di kursi sebelahku dengan wajah puas sekaligus berang. "Kapok itu orang!"
Aku mengedip kaget. "Siapa?"