"Sepagian gue stres, asli," gumam Yola. "Sarapan nggak enak, belajar susah ngerti. Ngelepas Mami-Papi pergi kerja aja sambil celingukan. Waktu lo bilang ada di Aroma Patera, gue langsung cabut. Sori gangguin belajar lo."
Aku meminggirkan buku dan melipat tangan di meja. "Nggak apa-apa."
"Yang benar?"
"Oke, sedikit keganggu. Tapi bisalah nanti belajarnya gue kebut. Lo mau di sini sampai perasaan lo mendingan?"
Yola mengiakan. Agar makin tenang, dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sekembalinya dia ke meja, rambut dan poninya sudah tersisir rapi. Seraya merapikan kerah blusnya, dia mendesah.
"Masih rada trauma gue sama lingkungan rumah, Kris. Masih ingat sewaktu cowok itu jalan ke gue. Waktu berangkat ke sini, gue sampai minta dijemput taksi online di dekat pos sekuriti."
"Kalem, La," kataku dengan nada menghibur. "Gue rasa, dia nggak bakal ke kompleks lo lagi. Apalagi lo punya fotonya. Pasti dia juga nggak mau diciduk sekuriti."
Mendengar kalimat yang terakhir, Yola mengembuskan napas keras-keras. Ketegangan lambat laun sirna dari sikapnya. Perlahan, seuntai senyum kecil terbit di wajahnya.
"Betul. Gue pegang buktiādia nggak bakal bisa macam-macam. Malah fotonya udah gue tunjukin ke sekuriti, gue bilang dia penguntit!"
Aku mengacungkan ibu jari.
"Nih, lo lihat fotonya juga," imbuh Yola. "Supaya kalau ketemu di jalan, lo waspada."