Sayat

Eve Shi
Chapter #15

15. Tanpa Ampun

Cara Kenzo menghancurkan reputasi Vi cukup untuk menjadi alasan tidak berbelas kasihan pada cederanya.

Ketika itu, sebuah akun Instagram mengunggah foto-foto laknat tersebut, ditambah tagar The Songster dan nama lengkap Vi. Dalam sekejap, foto-foto itu beredar luas di internet. Di tengah kegemparan yang timbul, akun Instagram tadi hilang—seolah dibuat hanya demi menyebarkan foto.

Sampai mati pun, aku tak akan lupa hari saat Vi diadili oleh Mama dan Papa. Persis Aldo, kedua orang tua kami menatapnya dengan ekspresi membatu. Sambil berlutut di lantai, Vi menangis hebat, memohon ampun karena telah mempermalukan keluarga. Aku merangkulnya begitu erat sampai-sampai kausku ikut basah oleh air mata Vi.

"Betul kamu selingkuh?" tanya Mama. "Padahal Aldo begitu baik dan perhatian padamu. Anak macam apa yang Mama dan Papa besarkan ini?"

"Ma... Aku—aku menyesal, sungguh," ratap Vi. "Aku tahu minta maaf nggak mengubah apa pun, tapi tolong, jangan perlakukan aku seperti ini. Menghadapi apa pun aku kuat, asal Papa-Mama mendukungku. Kumohon..."

Orang tua kami bergeming. Ucapan bernada mendukung, apalagi memberi maaf, tak kunjung terlontar dari mulut mereka. Isak tangis Vi makin mengiris-iris jantungku.

"Malam ini Papa tulis pernyataan pengunduran dirimu dari The Songster," kata Papa. "Besok kamu sampaikan ke pihak stasiun TV dan yang lainnya—siapa saja itu, kamu yang lebih paham. Kalau perlu, kita datangi kantor mereka untuk beri pernyataan langsung."

Dinginnya sikap orang tua kami melukai hati Vi sedalam penyebaran foto-foto. Setelah resmi mengundurkan diri dari The Songster, dia selalu membisu. Selama berkemas untuk pindah ke Surabaya dan naik mobil ke bandara, Vi tetap diam.

Di bandara, dia hanya mengangguk saat aku memeluknya dan berbisik, "Hati-hati di jalan." Dengan wajah tertutup kaca mata dan masker, dia melangkah cepat ke boarding lounge. Perpisahan kami ini begitu getir hingga aku berupaya melenyapkannya dari ingatan.

***

Sore ini Mama dan Papa sama-sama pulang awal. Pada pukul tujuh mereka tiba di rumah, lolos dari kemacetan jam sibuk. Aku menata piring dan hidangan di meja, lalu menggandeng orang tuaku ke ruang makan.

"Lama kita bertiga nggak makan malam bareng," cetusku sambil memegangi bahu mereka. "Mama pulangnya lewat pukul delapan terus. Kalau Papa sif pagi, malamnya nonton OTT. Mumpung kita bertiga di rumah jam segini, makan bareng, yuk."

Lihat selengkapnya