Sayat

Eve Shi
Chapter #17

17. Celaka

"Sebentar amat?" tanya Rama selagi aku keluar dari ruang sidang. Dibandingkan saat masuk, batere dayaku serasa telah berkurang dua puluh persen. "Pertanyaannya dikit?"

Aku mencebik. "Buat lo sih, sebentar! Gue di dalam mulas-mulas. Mana dosen penguji nanyanya beruntun-runtun kayak interogasi!"

"Bu Helen, ya?" tanya Niki. "Hobinya memang bikin mahasiswa mencret. Gah, itu salah satu dosen penguji gue, lagi!"

Di luar omelanku barusan, sidang berjalan lumayan lancar. Prakiraan soal dari Bu Martha terbukti jitu, dan pertanyaan selain itu dapat kujawab dengan runut. Bu Helen, dosen yang ditakuti mahasiswa seantero fakultas, hanya mengajukan tiga pertanyaan. Jika boleh jujur, aku optimis memperoleh nilai minimal A-.

Nilai-nilai peserta sidang baru diumumkan setelah jam makan siang. Yola masih menunggu giliran sidangnya, dan aku sedang ingin menyepi. Maka aku menuju gerbang kampus, menyeberangi jalan raya, dan masuk ke perpustakaan kecil bernama Kamar Aksara.

Di perpustakaan berlantai satu ini, mahasiswa kampusku biasa bersantai dan meminjam buku. Siang ini, Kamar Aksara ingar-bingar oleh rombongan murid TK, sebab hari-hari tertentu dikhususkan bagi kegiatan anak-anak. Bersama dua orang guru, mereka bermain susun kata.

Suara anak-anak saling bertumpang tindih dan, anehnya, terdengar menggemaskan alih-alih bising. Barangkali, tanpa disadari, aku muak dengan orang dewasa dan segala kerumitan mereka. Aku mengambil dua jilid buku komik, lalu membaca dengan santai.

Tak lama kemudian, guru TK mengumumkan bahwa kunjungan usai. Anak-anak merapikan mainan huruf dan buku yang berserakan. Sesudah itu, guru memimpin mereka berbaris ke meja petugas.

"Sampai ketemu hari Senin," ujar petugas, seorang cowok sebayaku. "Terima kasih sudah kemari, ya."

"Terima kasih, Kak!" sahut anak-anak sekompak paduan suara.

Setelah rombongan itu keluar, Kamar Aksara lengang. Tak ada pengunjung lain, dan petugas sibuk mencatat di buku tulis. Aku sedang berjongkok di depan rak, mencari jilid ketiga dari komik yang kubaca, saat ponselku bergetar oleh panggilan WhatsApp.

"Halo."

Lihat selengkapnya