Sayat

Eve Shi
Chapter #19

19. Menetap

"Ya," sahut suara saudara kembarku. Suara yang terakhir kudengar tiga pekan silam dan kerap merasuki mimpiku. Namun, ini bukan mimpi: Vi benar-benar menjawab teleponku.

Sekadar perbincangan telepon dengannya sudah terhitung langkah maju. Cara Vi melangkah terserah dia, dan aku tinggal menyokongnya.

"Tadi lo nelepon?" tanyaku.

Sunyi beberapa jenak. "Selamat buat nilai A-nya."

"Eh?"

"Sidang skripsi."

"Ah. Iya." Gara-gara kecelakaan Faisal, sidang skripsi terasa berbulan-bulan jauhnya.

Bagai meraba isi pikiranku, Vi berkata, "Gue dengar berita kecelakaan di depan kampus lo. Yola nggak apa-apa?"

"Kemarin dia bilangnya lagi butuh sendiri," ujarku. "Jadi gue biarin aja dulu." Aku ragu sejurus, lalu mencetus, "Lo sendiri gimana? Sehat?"

"Pengin ganti warna rambut."

Tawaku kontan tersembur. "Hoh! Lo jadi senang eksperimen sama rambut, nih?"

"Gitulah."

"Waktu semester empat kuliah, lo pernah pirang, kan? Tapi balik lagi ke hitam, gara-gara salah sampo dan rambut lo hampir putih."

"Sekarang gue lebih bijak. Lebih ngerti tips dan trik ngurus rambut. Kayaknya gue cocok dengan rambut ngejreng, misalnya neon pink."

"Baru tahu gue, ngewarnai rambut bisa bikin nagih."

Lihat selengkapnya