Malamnya aku bermimpi Vi menyanyi di panggung The Songster. Rating acara melonjak tinggi, dan episode yang juga diunggah ke YouTube ini ditonton di berbagai negara. Hampir semua komentar menyanjung vokal Vi.
Suaranya kayak malaikat! Calon juara, nih. Apa nama akun medsos-nya? Follow dan vote buat dia, yuk!
Lagu berakhir, dan Vi membungkuk pada juri. Di belakangnya, Kenzo naik ke panggung. Dia hanya berdiri dan menatap Vi, tapi baju Vi seketika tercabik-cabik. Dia berteriak panik, berupaya menutupi badan dengan tangan—tapi dalam beberapa detik saja dia tak mengenakan sehelai benang pun.
Kolom komentar sontak dipenuhi emoji tawa dan wajah setan. Rasakan! Itu hukuman menyakiti pacar dan melempar lumpur ke wajah keluarga! Masih berani ingin pulang ke Jakarta? Orang tuamu saja sudah lupa pernah punya anak kamu! Lalu aku terbangun, menggigil dengan wajah bersimbah air mata.
Yang ingin Vi pulang ke Jakarta hanya aku seorang. Bahkan Vi sendiri lebih memilih tinggal di Surabaya. Sambil mengelap mata dengan lengan, aku terbayang masa depan yang gersang: puluhan tahun tanpa pernah bertatap muka langsung dengan Vi, sampai akhirnya aku mengiringi jenazahnya ke liang lahat.
***
Esoknya, aku memantapkan tekad melupakan mimpi buruk itu. Selama aku terjaga, otakku sudah dirusuhi terlalu banyak hal. Selama tidur, tak perlu aku dirongrong pula oleh mimpi. Rugi di gue, nggak faedah juga buat orang lain.
Seraya mengeringkan rambut sehabis keramas, aku mengetik pesan untuk Yola.