Jenuh mampu menerbitkan ide eksentrik. Aku mengalaminya sendiri saat sedang bersisir seusai mandi. Pikiranku terombang-ambing oleh status pengangguran, hari-hari tanpa rutinitas, serta persaingan mencari kerja. Selagi aku menguraikan utas-utas rambut yang kusut, muncullah ide itu: menjenguk Faisal.
Aku mengernyit pada bayanganku di cermin. Untuk apa menjenguk orang yang menyusahkan Yola? Demi melihat wajahnya langsung? Kurang kerjaan amat! Andai pun Faisal sudah siuman, aku bukan polisi yang berwenang menanyai dia.
Namun, sampai aku selesai sarapan, ide itu terus bersarang di otakku. Pemicunya jelas: sikap Yola yang tak acuh pada motif Faisal. Jika aku yang dikuntit, pasti enggan hanya menunggu hasil pengusutan polisi. Minimal aku memandang tepat ke mata si penguntit dan bertanya mengapa dia menggangguku.
Sebaliknya, Yola bukan aku. Dia tidak menyukai konflik atau hal-hal menyedihkan. Di lain pihak, aku sedang tak ada kerjaan, dan membesuk orang sakit terhitung amal. Selain itu, sekalipun Faisal masih koma, setidaknya aku bisa merintang waktu.
Rumah sakit tempat Faisal dirawat berjarak satu jam lebih dari rumahku. Aku mengepaskan waktu berangkat dengan dimulainya jam besuk. Sesampainya di dekat rumah sakit, aku singgah di supermarket, dan membeli jeruk dan anggur sebagai oleh-oleh. Lima belas menit kemudian, aku masuk ke lobi dan menanyakan nomor kamar Faisal pada resepsionis.
Di sepanjang koridor yang kulalui, aku hanya berpapasan dengan perawat yang menuntun pasien. Aroma disinfektan mengawang di udara sampai ke ujung koridor, tempat kamar Faisal berada. Aku berhenti sebentar untuk meneguhkan mental, lalu mengetuk pintu.
"Masuk," jawab suara dari dalam.
Kamar itu luas dan suhu AC-nya disetel rendah. Faisal terbaring dengan mata terpejam, lengan dipasangi infus, serta kepala diperban. Pipinya lecet dan tergores di sana sini. Di tengah ruangan berdiri wanita setengah baya dengan rambut disanggul. Aku menebak bahwa beliau bibi Faisal yang, menurut berita, bernama Bu Dina.
"Permisi, Bu," sapaku.
"Silakan." Dia memberi isyarat agar aku maju. "Temannya Faisal?"
Aku bisa saja mengaku teman kuliah Faisal yang membesuknya ke Jakarta. Namun, aku tak tega, sebab salah rasanya membohongi orang yang terkena mala. Wanita ini mungkin bahkan tak paham mengapa keponakannya menguntit seseorang sampai ke kota lain.
"Nama saya Kris. Saya ... temannya Yola, yang hampir ditabrak mobil." Aku tidak mengatakan Yang ditolong Faisal. Bu Dina tak perlu diingatkan mengapa keponakannya cedera. "Maaf dia nggak menjenguk, masih trauma."
Bu Dina merapatkan mulut. Segaris kerut muncul di antara alisnya. Dalam suasana canggung itu, aku berjalan ke nakas dan menaruh kantong buah.