Di dunia ini pasti banyak orang bernama Kenzo. Namun, berapa yang usia dan nasibnya sama dengan mantan selingkuhan Vi? Jatuh dari tangga sampai pernah koma, lalu melewatkan sidang skripsi dan wisuda. Sama persis dengan Kenzo si penyebar foto, yang juga mahasiswa semester akhir. Tak pelak lagi, dialah abang tiri Faisal.
Akan tetapi, yang dikuntit Faisal justru Yola, bukan Vi. Pasti bukan karena Surabaya terlalu jauh. Apa kaitannya Yola dengan Kenzo?
Segala pertanyaan ini memantul-mantul dalam kepalaku. Akibatnya, aroma disinfektan di koridor nyaris tak terhidu olehku. Kakiku mengayun secara otomatis sampai ke lobi. Di sana aku membuka aplikasi taksi online. Lalu aku batal mengetik dan keluar dari gedung rumah sakit.
Berpikir sambil menggerakkan badan lebih mangkus, sebab melancarkan sirkulasi oksigen ke otak. Seraya menyusuri trotoar, aku mereka-reka langkah selanjutnya.
Pilihan paling praktis adalah yang diambil Yola: bersikap masa bodoh. Faisal kini menjadi urusan keluarganya. Jalan hidupnya sudah terpisah dari Yola.
Akan tetapi, jalan mereka tentunya pernah bersinggungan. Apa yang pernah dilakukan Faisal, atau Kenzo, pada Yola? Adakah hubungannya dengan Vi?
Argh! Terlalu banyak pertanyaan tanpa satu pun titik terang; aku butuh rehat sebelum otakku berasap. Aku menepi ke sebuah halte bus dan kembali mengeluarkan ponsel. Di kolom tujuan aplikasi taksi online, aku mengetik: Fun 'n Fluff.
Siang ini dog cafe dipenuhi ibu-ibu muda dan anak mereka. Semuanya bermain dengan anjing, mengelus-elus bulu dan ekor mereka, di bawah pengawasan staf. Aku menanti giliran sambil bersila di sudut karpet. Seperti saat di Kamar Aksara sebelum kecelakaan, suara anak-anak terdengar imut di telingaku. Mereka patuh pada instruksi staf serta tertawa-tawa.
Dari dasar ingatanku, suara Vi melampung. "Kalau pasangan gue kelak setuju, gue nggak mau punya anak."
"Kenapa?" tanyaku.
Vi mengedikkan bahu. Kala itu sehari setelah Aldo menunjukkan foto-foto kiriman Kenzo. Karena Vi masih dicekam shock, aku menghiburnya dengan membicarakan hal-hal lain. Saat aku mengungkit nama sepupu kami yang baru melahirkan, Vi mencetuskan keinginannya tidak punya anak.
"Terus terang, gue takut," ujar Vi. "Anak itu manusia yang bakal tumbuh dewasa. Tanggung jawab orang tua atas anak berat banget, Kris. Lo lihat aja—anak nakal, atau pelaku kriminal, pasti ortunya yang pertama dikomentari. Dasar nggak becus didik anak. Diajari apa anaknya sampai tega membunuh?"