"Lo ke Fun 'n Fluff?" Suara Yola tajam, begitu pula pandangannya. "Buat apa? Ngecek cerita gue? Memang dari awal lo curiga gue bohong, kan?"
Mulutku ternganga. "Huh? Kenapa gue mesti curiga? Gue bukannya sengaja nyelidikin lo, La! Lagi suntuk, keingat doggos, terus main ke dog cafe—itu aja!"
Sepulang dari Fun 'n Fluff, aku meminta pada Yola agar kami bicara lewat video call. Kami sepakat waktunya adalah sesudah makan malam. Begitu koneksi tersambung, aku bertanya ke mana dia dua hari lalu. Reaksinya yang sengit di luar dugaanku.
Alis Yola bertaut. "Main sama doggos sambil nanya-nanya staf soal gue?"
"Astaga!" tukasku. Aku paham, Yola bersikap defensif akibat dustanya terbongkar. Namun, itu bukan alasan untuk sembarangan menuduhku. "Gue ulangi—gue ke Fun 'n Fluff bukan sengaja ngecek omongan lo. Gue cuma pengin main sama hewan-hewan di sana, titik. Mas Afri nanya kenapa gue nggak bareng lo. Gue bilang lo ke sana dua hari lalu, dia ngakunya nggak lihat lo padahal bertugas seharian. Sampai sini jelas?"
Suaraku lebih ketus daripada yang kuniatkan dan aku agak menyesal. Dalam pertengkaran, emosi semua orang mudah tersulut sehingga situasi meruncing. Lebih baik jika aku menjadi pihak yang berkepala dingin, dan menurunkan suhu bila perlu.
Yola meniupkan napas pelan-pelan tanpa menjawab. Sepertinya dia berpikiran sama denganku: kami harus menahan diri. Selama beberapa saat, kami sama-sama membungkam. Tatapan Yola menyapu sisi layar, lalu kembali ke mataku.
"Tadinya memang gue mau ke Fun 'n Fluff," katanya. "Main sama doggos buat nenangin diri. Tapi batal, habis pengunjungnya membeludak—yang lagi main dan yang antre. Gue bayanginnya dog cafe yang sepi, ini malah isinya orang-orang berisik."
Destinasi Yola pun bergeser ke perpustakaan kecil yang terletak beberapa ratus meter jauhnya. Berbeda dari Kamar Aksara, perpustakaan ini juga berfungsi sebagai coffee shop. Tak ada jadwal untuk kegiatan anak-anak, dan sebagian besar pengunjung adalah mahasiswa yang mengerjakan tugas.
Yola membaca sebuah novel sampai tamat. Selain novel itu pendek, kecepatan baca Yola lumayan fenomenal. Dia memotret sejumlah kutipan untuk posting Instagram. "Koneksi internet ponsel sengaja gue matiin," imbuhnya. "Malas ditanya-tanya soal kecelakaan, termasuk sama lo. Sori."
Dari perpustakaan, dia berjalan-jalan sebentar. Menjelang sore, dia mampir di restoran khusus mi. Sambil menikmati pho dan jus alpukat, Yola mengunggah satu post Instagram yang memuat kutipan dari novel. Pendeknya, dia tak terburu-buru pulang. Rumah orang tuanya mengingatkan pada Faisal, pada saat cowok itu memapasnya di taman kompleks dan saat tertabrak mobil.
"Itu yang gue lakuin selama hari Jumat," ujar Yola. "Baca, makan mi, nge-post di Instagram."
Dia mengambil dompet, mengeluarkan bon dari restoran mi, lalu mendekatkannya ke layar. Nama dan alamat restoran tertera pada bon tersebut. Sesudah aku membacanya, Yola menyelipkan bon kembali ke dalam dompet.
"Tapi kenapa lo bilangnya ke Fun 'n Fluff?" tanyaku.
"Mmm..." Seraya menunduk, Yola menggaruk telinga dan tertawa kecil. "Takut lo nge-judge gue, mungkin. Sehari penuh ngeluyur sendirian, kayak anak hilang aja. Sedangkan Fun 'n Fluff punyanya Mami, rumah kedua buat gue. Wajar gue ke sana."