Kena macet. Pesan dari Yola itu tiba setelah aku memesan minuman di kasir Aroma Patera. Tabrakan mobil, jalur lalu lintas dialihkan. Bakal telat sekitar sepuluh menit.
Biasanya tea room ini adalah tempat aman bagiku. Kenangan yang terukir di sini manis belaka: suasana damai, alunan musik merdu, beragam jenis teh dan kudapan sesuai selera. Bahkan ramainya pengunjung tak mengurangi rasa nyamanku.
Akan tetapi, hari ini Aroma Patera mungkin jadi saksi kenangan jenis lain. Firasatku berkata, Yola akan mengatakan sesuatu yang merombak persahabatan kami selamanya. Dengan gelisah, aku menyandarkan punggung di kursi dan menyesap teh.
Yola tiba seperempat jam kemudian. Berbeda dari biasa, penampilannya tidak cute and girly. Dia memakai topi, jaket dan celana jeans hitam, dengan rambut digelung di tengkuk. Ketika dia menghampiriku, aku hampir tak mengenalinya.
"Yuk," ujar Yola.
"Eh? Ke mana?"
"Gue bawa mobil. Kita ngomong di tempat lain."
Terus kenapa lo minta ketemuan di sini? Namun, aku menelan pertanyaan itu dan bangkit dari kursi. Masalah Yola dengan Faisal pastilah amat pribadi, maka lumrah bila dia berubah pikiran dan tak ingin ada yang menguping.
Selagi kami keluar dari Aroma Patera, aku mencetus, "Jarang gue lihat lo nyetir, La. Kirain SIM lo udah mati."
Dia merogoh saku jaket dan mengeluarkan kunci mobil. "Nggak. Masih berlaku sampai tahun depan. Kadang-kadang gue nyetir kalau sopir lagi libur. Biasanya ngantar Mami mani-pedi atau belanja keperluan doggo."
Orang tua Yola memiliki dua mobil, dan yang diparkir di halaman tea room adalah milik maminya. Kendati lawas, sedan merah itu terawat baik, bebas penyok maupun bekas goresan. Jok belakang bersih tanpa tas, bantal, maupun boneka. Aku memasang sabuk pengaman, Yola menyalakan mesin, dan mobil meluncur ke jalan raya.
Di sepanjang jalan, Yola menyetir dengan lincah dan gesit. Terpikir olehku bahwa, walau tubuhnya kecil, tenaga Yola cukup kuat. Sewaktu SMA, selain aktif di pers sekolah, dia menjadi anggota tim atletik dan larinya termasuk paling kencang. Teman-teman pernah bercanda bahwa yang dimiliki Yola bukan kaki, melainkan mesin turbo.
"Kemarin Vi nelepon gue," kata Yola.