Mataku mengerjap. "Pangkal masalahnya ... Kenzo? Kalian bukan cuma satu fakultas, tapi kenal dekat?"
"Sebentar. Kita mundur dikit ke foto-foto yang jadi kasus itu. Menurut lo, siapa yang motret?"
"Siapa lagi?" Aku merentangkan kedua tangan. "Jelas Kenzo, lah. Kelihatan dari posisi tangannya."
"Betul. Kenzo yang ambil foto-foto itu. Karena Vi yang minta."
Napasku tertahan di tenggorokan. Pemandangan ruang tamu—dinding hijau muda, foto orang tua Yola, lampu bohlam—bagaikan mengabur. Aku menggeleng, berusaha menjernihkan kepala. "Apa?"
"Vi yang minta," ulang Yola. "Buat kenang-kenangan masa pacaran mereka. Nggak tahunya, foto-foto itu jadi senjata makan tuan. Itu yang paling dia sesali. Sentimentil cuma semenit, imbasnya segini besar."
"Lo ... lo tahu dari mana, La?" Aku tergeragap.
"Dari Vi sendiri."
Butuh waktu bagiku untuk memafhumi setiap patah kata. Juga kenyataan bahwa Vi bercerita pada Yola, bukan aku. Dia memilih Yola di atas saudara kembarnya sendiri. Mengapa? Apa yang Yola punya dan gue nggak? Rasa penasaran membelitku begitu erat, sampai aku nyaris meluputkan pertanyaan Yola berikutnya.
"Waktu lo jenguk Faisal, apa bibinya bilang kondisi Kenzo gimana?"
"Dia udah siuman," jawabku. Suaraku kecil dan mengambang, seperti suara orang lain dalam mimpi. "Pelan-pelan membaik, sekarang lagi jalani terapi. Diperkirakan terapinya sampai beberapa bulan ke depan."
Kembali Yola tersenyum tipis. "Terus, gimana perasaan lo waktu tahu kondisi orang yang hancurin keluarga lo? Senang?"
Kehilangan kata-kata, aku hanya mampu menatap Yola.
"Kenzo nggak ikut sidang skripsi dan wisuda. Sama kayak Vi. Masih untung dia nggak jadi bulan-bulanan warganet. Padahal di foto-foto itu ada orang satu lagi—dia. Tapi yang dikata-katai pelacur cuma Vi. Kakak lo sendiri, Kris. Cuma karena dia sering tampil di TV dan gampang dikenali."
Senyum tipis tadi luruh dari wajah sahabatku. Sebagai gantinya, rahang Yola mengeras dan sinar matanya menyala-nyala. Dadanya kembang kempis membendung gejolak amarah.
"Kesatria banget kelakuan Kenzo. Lempar tahi sembunyi tangan. Ortu lo, saking malunya, sampai khusus minta polisi nggak usut kasus ini. Iya, kan? Habis itu, mereka buang Vi, anak mereka sendiri, ke Surabaya."
Suara Yola meninggi.