"Cuma empat?" Yola menghadapkan telapak tangan ke atas sebagai isyarat memberi izin. "Silakan."
"Satu, soal Faisal. Selama ini, yang gue dengar cuma cerita lo. Dia datangi lo di banyak tempat, tapi baru ngomong di taman kompleks. Apa ada versi lain dari cerita lo ini? Misalnya, tentang Faisal yang bukan penguntit, tapi adik yang cari kebenaran di balik cedera abangnya."
"Ahh." Yola mengembuskan napas. Dia melepaskan topi dan poninya berjatuhan ke dahi. "Gitu. Sekali gue ketahuan bohong, semua cerita gue jadi terduga palsu juga, ya."
Aku tak berkomentar.
"Tebakan lo betul." Yola menaruh topinya di meja ruang tamu. "Tiap kali ketemu gue, Faisal ngajak ngomong. Tapi, begitu dengar nama Kenzo, gue takut duluan dan ninggalin dia. Di kampus, taman kompleks—"
"Gue mulai curiga di bagian itu," kataku. "Pagi-pagi Faisal ada di taman kompleks, apa sebelumnya nggak ditanyai sekuriti di gerbang? Sekalipun dia bilangnya bertamu ke rumah lo, sekuriti pasti heran lihat dia jalan ke arah taman."
Sudut bibir Yola berkedut. "Wah. Cerita gue bolong ternyata. Soal ketemu di taman itu memang buat efek dramatis aja. Yang betul, gue papasan sama dia di luar gerbang kompleks, sewaktu gue on the way ke Aroma Patera. Karena gue nggak lari, Faisal mendekat. Langsung gue foto mukanya. Sekuriti keluar dari posnya, ngira dia ganggu gue, jadi Faisal cepat-cepat pergi."
"Sewaktu di kampus lo juga gitu?"
"Di kampus, dia nggak sempat ngomong banyak karena teman gue keburu datang."
Mulutku terasa kering. Aku jeri mengucapkan pertanyaan kedua, tapi kupaksakan juga. "Dua, Faisal ditabrak mobil karena selamatin lo. Ke semua orang—gue, polisi—lo bilang gitu. Tolong ulangi sekali lagi bahwa itu kenyataannya."
"Maksud lo apa?" Yola tertawa dengan nada tak percaya. "Gue sengaja dorong dia supaya ditabrak mobil, kayak gue dorong Kenzo dari tangga?"
"La, please—"
"Gue lari ke jalan biar nggak diikutin. Ternyata Faisal nyusul, terus selamatin gue sampai dia sendiri celaka. Gue menyesal, serius. Tapi mau gimana lagi? Yang bisa gue lakuin cuma berharap dia lekas sehat."
Aku menggigit bibir. "Pertanyaan ketiga. Apa yang bikin lo segini tega? Yola yang gue kenal bahkan nggak mau ganggu orang, biarpun mereka yang salah."
"Gue berprinsip begitu supaya situasi tetap terjaga. Kayak permukaan air, tenang, nggak ada riaknya. Sedangkan Kenzo nyakitin Vi dengan sengaja. Kalau lo sengaja hancurin hidup orang, jangan heran orang lain bertindak yang sama ke elo."
"Jadi menurut lo, Vi selingkuh itu nggak nyakitin siapa-siapa?"
Yola mengernyit. "Nyakitin Aldo, maksud lo? Gini, Kris. Vi udah berusaha nutupi hubungannya dengan Kenzo supaya Aldo nggak terluka. Bandingin sama Kenzo, yang malah buka rahasia! Jelas kan, yang nyakitin Aldo itu sebetulnya Kenzo!"
Tak ada lagi yang dapat kutanyakan pada Yola tentang Kenzo dan Faisal. Semuanya telah terpapar dengan gamblang. Pening kepalaku surut seiring hatiku yang makin nyeri.
Setelah ini aku akan pulang. Meninggalkan rumah ini sekaligus orang yang pernah jadi sahabat baikku. Yola telah mengakibatkan manusia lain cedera, dan bersandiwara dengan amat lihai—menampilkan dirinya sebagai korban. Yang dia cederai, selain Kenzo dan Faisal, juga kepercayaanku padanya.