Ketika aku membuka mata, Vi duduk di samping tempat tidur. Wajahnya kuyu dan matanya gelap oleh lingkaran hitam. Aku menatapnya, takut dia tiba-tiba raib. Lima detik berlalu dan dia tetap berada di sampingku.
Begitu sadar aku terbangun, Vi menggeser posisi duduk hingga menghadapku. "Hei," sapanya.
Dadaku yang kena tikam masih ngilu. Tiap helaan napas bagaikan tinju pada tulang iga. Bahkan perutku ikut mengerut oleh rasa sakit. "Kapan ... sampai Jakarta?"
"Barusan. Dari bandara gue langsung ke sini." Aku melirik jam dinding, dan Vi melanjutkan, "Sekarang pukul satu siang. Begitu Papa kabarin Oma-Opa, gue cari flight ke Jakarta—rada susah, soalnya ini weekend. Masih untung tabungan gue cukup buat satu tiket pergi-pulang."
Air mataku meleleh. Pertama hanya setitik, lalu berlinang-linang dan merembes ke telinga. Bahuku terguncang oleh sedu sedan yang tak sanggup kutahan.
Vi menekan lenganku dengan lembut. "Ssh," bisiknya. "Jangan nangis. Jahitan lo kebuka nanti."
Dengan sehelai tisu, dia membersihkan wajahku. Tangan kakak kembarku, yang lama kurindukan, menyentuh kulitku dengan hati-hati. Aku memejamkan mata, meresapi tiap detiknya. Setelah selesai, Vi membelai kepalaku. Telapak tangannya terasa begitu sejuk di dahiku.
"Nggak apa-apa, Kris. Ada gue di sini. Lo aman sekarang."
Aku menyedot sisa ingus. "Yola? Gimana dia? Bu Dina? Mama-Papa nggak cerita, gue juga belum kuat baca internet lama-lama."
Kali terakhir Yola berada di dekatku adalah saat kami tiba di IGD. Aku setengah pingsan selagi para perawat mengangkatku ke atas brankar. Setelah itu, Yola menghilang. Dia tak pernah membesuk maupun mengirim pesan. Persis dengan permintaanku: Jangan kontak gue lagi.
Vi menggumpalkan tisu dan membuangnya ke tempat sampah. "Mama-Papa sengaja nggak cerita supaya lo nggak kepikiran."
"Yang bikin kepikiran itu justru karena gue nggak tahu."
"Ceritanya panjang. Mau mulai dari mana?"
Aku menghirup udara dalam-dalam sambil menahan sakit. "Mulai dari gue masuk ruang operasi."
Peristiwa sebelum itu campur aduk dalam ingatanku. Sesudah pisau Bu Dina menikamku, aku tak melihatnya lagi. Asumsiku, beliau melarikan diri. Yola mengeluarkan mobil dari garasi dan, dibantu seorang tetangga yang mendengar jeritannya, mengangkat aku ke dalam mobil. Dia mengebut ke rumah sakit, turun di depan IGD, dan memanggil perawat.
"Yola nggak punya nomor Papa, jadi telepon ke bistro," ujar Vi. "Mama-Papa ke sini, dan tetap di sini sampai lo selesai operasi dan dipindah ke kamar. Itu kemarin. Sampai pagi tadi, Mama-Papa bergiliran jagain lo. Mereka baru aja pulang."