Dadaku ditikam di sebelah kiri, tapi mata pisau memeleset dari jantung. Aku terhitung mujur, jika luka sobek pada daging serta memar parah dapat disebut mujur. Dokter menetapkan rawat inap minimal tujuh hari—melewati hari wisuda.
Vi, Kenzo, lalu aku. Gagal ikut wisuda ternyata bisa menular. Lelucon itu sama sekali tidak lucu, tapi aku tersenyum. Dalam situasi ini, lelucon sereceh apa pun terasa menghibur.
Dua petugas polisi datang ke kamar rawat dan menanyaiku di bawah pengawasan dokter. Apakah aku teman Faisal, keponakan dari Bu Dina yang menyerangku? Tidak, kataku. Aku menjenguk dia semata-mata karena iba, sebab dia ditabrak mobil akibat menolong Yola, temanku. Aku sama sekali tidak kenal Faisal dan keluarganya. Polisi pun menyimpulkan aku korban salah sasaran.
Teman-teman kuliahku silih berganti membesuk. Mereka membawakan kisah-kisah hari wisuda: AC balairung sempat mati, ijazah tertukar. "Ijazah lo bisa diambil di tata usaha sesudah sembuh," kata Rama, ketua angkatan kami.
Yola tidak datang membesuk. Dia pun tidak mengirim pesan teks sama sekali. Meski sudah menduga, aku tetap merasa ada yang hilang dari hidupku.
Tiga hari setelah operasi, tenagaku berangsur pulih. Aku sanggup memegang ponsel dan meramban internet dalam waktu cukup lama. Tanpa menunda, aku mencari berita kasusku.
Bu Dina tengah disidik atas tindakannya. Dia mengaku datang ke rumah Yola didorong oleh murka. Karena sangat menyayangi Faisal, dia sempat gelap mata.
"Sombong betul anak yang namanya Yola itu. Menjenguk keponakan saya saja tidak sudi! Padahal, gara-gara menolong dia, pinggul dan tengkorak Faisal retak."
Setelahnya terkuak bahwa Kenzo, abang tiri Faisal, adalah teman sekampus Yola dan baru cedera. Kata Bu Dina, semua teman Kenzo pernah membesuknya kecuali Yola. Faisal mencari Yola untuk meminta dia menjenguk Kenzo, tapi rupanya Yola ketakutan dan menyangka yang bukan-bukan.
Meski bagiku keterangan ini terasa dibuat-buat, polisi tak mengusutnya lebih lanjut. Saat ini Bu Dina sedang menunggu putusan pengadilan. Faisal dirawat oleh ayah tirinya yang juga ayah Kenzo.
Menilik betapa murkanya Bu Dina sampai nekat ingin menikam Yola, aku menduga beliau tahu Yola mendorong Kenzo di tangga. Berarti Kenzo juga tahu, tapi merahasiakannya. Tentu saja, sebab dampaknya bisa merembet, dan ulahnya menyebar foto Vi ikut terbongkar. Sedangkan keluarga mereka sudah cukup menanggung ujian bertubi-tubi.
Dari berita yang kubaca, Bu Dina tidak mengatakan apa-apa pada polisi tentang Yola yang mendorong Kenzo. Barangkali beliau letih dengan api dendam yang telah membakar banyak orang, termasuk dirinya sendiri. Maka Bu Dina memutus dendam sampai di sini. Langkah yang bijak—sekaligus pasti menikam jantung, kalau aku boleh bergurau sedikit.