Sayonara, Tuan Fumikiri

Fitra Firdaus Aden
Chapter #2

Mim dan Tuan Fumikiri

Langit merah, awan mati.

Dalam pagi yang sebentar lagi dipenuhi cahaya matari,

Kami berdua duduk di sini, di rerumputan pinggir perlintasan kereta api yang sepi.

Kami berdua: aku dan laki-laki aneh itu. Iya, laki-laki yang berdandan formal layaknya eksekutif muda, mengenakan jas dan celana kain warna biru tua, ujung dasi yang mencekik lehernya, juga sepatu pantofel yang disemir mengilap bercahaya.

Aku dan laki-laki aneh itu. Laki-laki yang kepalanya berbentuk palang perlintasan kereta, lengkap dengan toa di bagian atas yang bagai otaknya, dan kedua lampu yang bergonta-ganti menyala, seperti mata yang selalu mengawasi lawan bicara.

Tuan Fumikiri namanya.

 

"Jadi bagaimana ya, Tuan Mim? Anda sudah sepakat dengan kontrak ini, bukan? Kita tidak punya banyak waktu lagi. Anda tahu sendiri ya, Mister Kamerad bisa muncul sewaktu-waktu di depan mata kita," tangan kirinya masih memegangi lembaran surat kontrak bermaterai.

"Tentu saja saya sudah sepakat. Sejak awal perjumpaan kita, saya sepakat dengan Anda," kutekankan bagian terakhir kalimatku untuk memastikan memang ada di pihaknya.

"Wow, bagus sekali, ya. Untuk manusia selevel Anda, ini pernyataan yang harus digarisbawahi, ya. Baik, baik. Saya suka bekerjasama dengan Anda. Kalau ada banyak manusia seperti Anda, hidup saya yang penuh derita akan jauh lebih ceria," dia menyodorkan pulpen Standard AE7 warna hitam kepadaku.

"Saya memang ingin pergi ke Neraka," kutatap dia dalam-dalam.

"Wauuwww, jangan bicara sejelas itu, ya! Apakah Anda tidak pernah belajar Semiotika? Soal penanda dan petanda? Atau ketiduran di kelas dan melewatkannya? Tuan Mim, ingatlah yang kita lakukan ini rahasia. Saya ulangi, ra-ha-sia!"

Dari tadi dia yang heboh berbicara, tapi dia pula yang merasa berhak memerintah orang untuk diam mengecilkan volume suara. Aku hanya tersenyum saja.

 

Tuan Fumikiri menyodorkan stopmap folio kuning yang sering kudapati pada orang-orang yang mengetuki pintu rumah untuk mendapatkan sumbangan. "Anda butuh landasan untuk tanda tangan, bukan? Saya ini makhluk paling perhatian, ya. Jangan sampai saat tanda tangan, surat kontraknya jadi rusak, tembus, atau yang lainnya, ya."

"Anda memang cerewet, tapi tampak lebih-lebih-lebih cerewet lagi untuk surat kontrak ini," kuterima stopmap itu. Kuletakkan di kedua paha. Lalu, kubolak-balik lembaran kontrak yang ia maksud itu, sebelum menggoreskan ujung pulpen di sana. Membubuhkan tanda tangan berupa kode F88LA.

Kedua lampu Tuan Fumikiri, ah kedua bola matanya yang besar itu maksudku, tampak berkedip-kedip semakin cepat, seolah bahagia mendapatkan pelanggan baru yang terpedaya oleh bujuk rayunya.

"Sudah berapa orang yang mengikat kontrak dengan Anda?" kataku menyelidik, tapi juga tak menyelidik. Aku memang terjebak olehnya, aku memang sengaja menjebakkan diri kepadanya. Seperti yang sudah kubilang: demi Neraka.

"98 orang, ya. Sepertinya 98. Anda yang ke-99," dia mulai menghitung.

99 ... sama sekali bukan angka yang buruk.

"Baiklah Tuan Fumikiri, saya percayakan sepenuhnya kepada Anda. Hidup saya, mati saya. Hidupnya, matinya, semuanya," kuserahkan satu demi satu benda ke tangannya, mulai surat kontrak, stopmap warna kuning, dan terakhir pulpen Standard AE7 kepadanya.

"Waw, waw, waw. Anda memang mudah dimengerti, ya. Baik, biarkan saya berkemas dulu, ya. Setelah itu, Anda akan memboncengkan saya ke tempat itu. Ke tempat yang rahasia itu. Kita harus bergerak cepat. Secepat kilat. Tuan Mim ingat ya, mata-mata Mister Kamerad ada di mana-mana. Ada di mana-mana-mana .... dia lebih dekat daripada yang bisa Anda terka."

 

jika siapa pun mengikuti jejak langkahku

akankah mereka pahami

Lihat selengkapnya