Scream on Screen

Annisa Fitrianti
Chapter #1

Rainbow

Rintik air hujan terdengar sangat deras dan mobil yang berlalu lalang sudah semakin jarang terlihat. Malam semakin larut namun dirinya belum juga kembali ke rumah. Ya, dia terjebak hujan. Tidak ada payung untuk melindunginya, hanya ada tas yang dia bawa dan dia senantiasa masih terduduk di halte bus. 

Dari layar monitor terlihat jadwal bus terakhir 5 menit lagi akan segera tiba. Kota Itaewon memang sangat rawan ketika malam hari terlebih saat musim hujan tiba. Semua orang malas untuk beraktivitas di luar rumah. Namun, Jennie harus tetap bekerja untuk menunjang kebutuhan hidupnya. 

Bunyi decitan ban pun terdengar jelas, membuat Jennie berdiri dari keterdudukan dan melangkah memasuki bus terakhir yang dia tunggu sejak setengah jam yang lalu. Tidak lupa dia menempelkan T-money miliknya sebelum duduk dan memilih memejamkan mata. 

Rasa kantuk mulai menghampirinya. 

Dapat dia dengar di detik terakhir ketika pintu ingin tertutup, seseorang penumpang terburu-buru melangkah masuk dan duduk di kursi belakang. Namun, Jennie sama sekali tidak menghiraukannya. 

20 menit menempuh perjalanan dan satu persatu penumpang bus telah turun, kini hanya tinggal dirinya dan juga seorang pria yang terduduk di kursi paling belakang yang wajahnya tertutup masker. Melihat halte pemberhentian tujuannya segera tiba, Jennie pun bersiap untuk turun dan pria di belakangnya pun demikian. 

"Terimakasih pak" ujar Jennie begitu halte pemberhentian tiba seraya mengenakan penutup kepala pada jaket yang dia kenakan. 

"Ya, hati hati Nona" ujar sang supir.

Peringatan itu sudah setiap hari dia dapati ketika turun dari bus lewat tengah malam dan dia sudah menganggapnya seperti wejangan dari seorang ayah terhadap putrinya yang sudah lama tidak dia dapati. 

"Tunggu" ujar seseorang dari arah belakang membuat langkahnya terhenti. 

Menatap kearah belakang, dilihatnya pria yang berada satu bus dengannya tadi. Sejujurnya dia tidak terkejut, hanya saja penasaran siapa pria dibalik masker itu. 

"Ada apa?" Tanyanya. 

"Tiga hari yang lalu saya menemukan ini di halte bus" ujarnya seraya memberikan dompet merk Coach berwarna hitam persis seperti miliknya. 

"Terimakasih" jawab Jennie to the point dan berniat melanjutkan langkahnya namun pria itu lagi lagi menahannya. 

"Tunggu!" Ujar pria yang wajahnya ditutupi masker itu. 

"Ada apa lagi? Saya harus segera pulang sekarang" jawab Jennie merasa kesal dan terganggu. 

"Maaf tapi rumah saya di Myeongdong dan pasti sulit mencari kendaraan di tengah malam begini. Bisakah saya bermalam di tempat anda?" Tanyanya tanpa ragu seolah mereka sudah mengenal cukup lama. 

"Saya tidak menerima orang asing masuk ke rumah" Jawab Jennie sarkas dan melepaskan tangan pria yang menahan pergelangan tangannya. 

"Hanya malam ini" tanya pria itu memaksa. 

"Tidak boleh. Jadi, berhentilah mengikutiku pulang" jawab Jennie yang tetap berjalan melanjutkan langkahnya menuju rumah. 

"Aku berjanji akan membayar sewa" tawarnya membuat langka Jennie kemudian berhenti sejenak dan berbaik badan menghadap pria bermasker itu.

"50 ribu won" ujar Jennie seraya mengarahkan tangan kepada pria di hadapannya. 

"Deal" sanggup pria di hadapannya seraya mengeluarkan uang dari dompet yang berada di saku celananya. 

Lihat selengkapnya