Setelah makan malam usai, Jennie langsung memberikan flashdisk yang telah ditukar kepada Jimin. Secepat itu pula Jimin memeriksanya dan raut wajahnya justru nampak kesal.
Sehingga, sepanjang jalan pulang mereka tidak membuka obrolan apapun lagi selain ucapan selamat malam dan kecupan sampai jumpa di pipi. Ya, sekali lagi hanya di pipi.
Melangkah masuk kedalam rumah, terlihat Irene sedang menangis pilu di pelataran hanok/rumah. Bertanya ada apa dan kenapa dia menangis, bukannya jawaban yang muncul justru dirinya semakin keras menangis.
"Irene katakan sesuatu ada apa jangan membuat aku bingung" keluh Jennie dengan nada lembut dan memeluk wanita cantik itu erat erat.
"Detektif mengatakan adikku tersandung kasus narkotika dan overdosis di apartemen bersama room mate nya" jelas Irene membuat napas Jennie tercekat mengingat adiknya Irene sama sekali tidak terlihat seperti seorang pemakai.
"Lalu bagaimana?" Tanya Jennie yang kurang paham mengenai apa yang bisa dilakukan saat ini.
"Detektif meminta agar besok aku datang ke kantor polisi untuk mengurus jenazah dan memastikan bahwa adikku hanya sebagai pemakai bukan pengedar" tutur Irene sahabat Jennie yang malang.
"Setelah syuting berakhir aku akan menyusul, tidak apa kan?" Tanya Jennie memastikan.
"Tidak apa apa Jen" jawab Irene yang masih menangis dalam pelukan Jennie.
Cut.
Syuting berakhir dan pembagian kopi juga sudah selesai, Noelle dan seluruh kru mengucapkan salam perpisahan kepada Jennie. Dan dari kejauhan terlihat Jimin yang sedang asik mengobrol dengan Noelle, tidak ambil pusing Jennie pun segera masuk ke van.
Menghapus make up dan mengenakan jaket, Jennie segera bergegas menaiki taxi dan menuju ke kantor polisi menyusul Irene kesana. Bertanya ke salah seorang polisi, Jennie langsung masuk ke ruang tunggu di mana Irene berada.
"Ren, bagaimana? Jenazahnya sudah bisa di bawa?" Tanya Jennie sambil mengusap tangan Irene yang dingin.
"Aku tidak punya cukup uang untuk melakukan upacara kremasi Jen" keluhnya menutupi wajah sambil menangis.
Bingung karena dirinya juga tidak memiliki cukup banyak tabungan dan uang hasil syuting belum bisa di cairkan, pada akhirnya Jennie terpaksa menghubungi sang ibu Song hye kyo.
"Eomma, bisakah membantuku?" tanya Jennie ragu.
"Kamu perlu bantuan apa ce?" Ujar Song hye kyo balik bertanya dan memanggil Jennie masih dengan nama panggilan kesayangan sewaktu kecil dulu.
"Adik dari sahabatku wafat dan dia perlu melakukan upacara kremasi tapi kami tidak punya cukup uang eomma" jelas Jennie menahan malu dan berusaha menenangkan Irene dalam situasi mendesak seperti sekarang.
"Sakit?" Tanya Song hye kyo dengan nada penasaran.
"Overdosis" jawab Jennie seadanya.
"Kalian di mana?" Tanya Song hye kyo.
"Kantor polisi" Jawab Jennie dengan suara pelan dan sedikit menoleh kearah beberapa polisi yang menatap mereka sedari tadi sambil berbisik bisik.
"Cece. Kamu itu anak seorang pengusaha yang disegani banyak kalangan dan sekarang kamu juga seorang aktris kan? Bagaimana kalau sampai ada wartawan yang tau kamu di kantor polisi? Mengurus kasus overdosis pula" Tutur sang ibu dengan nada kesal dan membuat Jennie menarik nafas panjang jengah.
"Jadi, eomma bisa membatu atau tidak?" Tanya Jennie to the point dan tidak ingin melanjutkan reaksi dramatis sang ibu.
"Berikan ponsel kamu ke pihak yang mengurus kasusnya, biarkan eomma bicara dengannya" pinta Song hye kyo dengan suara yang tegas.
Melihat seseorang anggota polisi, Jennie pun lantas bertanya mengenai detektif yang menangani kasus tersebut. Apakah saat ini bertugas atau tidak dan ternyata detektif tersebut berada di ruang sebelah.
Meminta izin meninggalkan Irene sejenak untuk menghampiri sang detektif, tidak lupa Jennie mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Permisi, bisa bicara sebentar?" Tanya Jennie ragu ragu.