
Anak Desa Bernama Fardhan Ar Rimbai
---o0o---
Kabut putih menuruni lereng perbukitan, membelai dedaunan kelapa yang menitikkan embun jernih ke atas pekarangan basah Desa Rimbai, terletak di dataran rendah gugusan Bukit Barisan, Sumatera. Hawa dingin menyusup lewat celah dinding bambu rumah panggung sederhana, menyapa seorang bocah lelaki kecil di balik selimut perca.
“Fardhan... bangunlah, Nak. Kokok ayam jantan Pak RT sudah yang ketiga kali berkumandang di lembah,” bisik Maryam lembut seraya membelai kening putranya.
Fardhan Ar Rimbai menggeliat malas, menarik selimut perca menutupi dagunya. Matanya masih teramat berat untuk terbuka memandang fajar.
“Masih gelap sekali, Ibu... Suara jangkrik di bawah kolong rumah juga masih bersahutan ramai,” keluh Fardhan serak parau.
“Rasa dingin bukan alasan melalaikan fajar, sayang. Air pancuran sudah menanti menyegarkan keningmu,” bujuk Maryam seraya merapikan bantal kapuk. “Jangan biarkan rasa malas mengikat langkah sucimu.”
“Apakah dinginnya air wudu Subuh bisa membekukan jemariku, Ibu?” tanya Fardhan manja.
“Tentu tidak, Nak, melainkan menyalakan cahaya di wajahmu,” jawab Maryam tersenyum teduh seraya mengusap kedua pipinya yang kemerahan.
Langkah kaki tegap mendekat bersama derit lantai meranti. Abdul Karim berdiri di pintu bilik, berbalut sarung tenun hijau lumut dan baju koko gading.
“Bangunlah, Fardhan. Lelaki sejati tidak membiarkan matahari mendahuluinya membuka mata,” tegur Abdul Karim dengan suara berat berwibawa.
“Apakah hari ini aku harus ikut ke surau, Ayah? Udara di luar dingin sekali, menusuk seperti air tempayan,” tawar bocah tujuh tahun itu seraya mengucek matanya.
Abdul Karim tersenyum tipis, lalu berlutut di sisi dipan bambu putranya.
“Dengarlah panggilan agung itu baik-baik dengan hatimu, anakku.”
Tepat saat itu, lantunan azan Subuh berkumandang syahdu dari menara surau tua di ujung jalan setapak desa, merobek keheningan lembah yang berkabut.
“Hayya ‘alash shalaah... Hayya ‘alal falaah...”
Dada Fardhan berdesir mendengar alunan bilal tua tersebut. Rasa kantuknya perlahan menguap ke udara pagi.
“Kenapa bilal selalu menyerukan bahwa salat itu lebih utama daripada tidur lelap, Ayah?” tanya Fardhan dengan mata bulat penuh kepolosan.
“Karena tidur hanya mengistirahatkan jasad yang fana, Fardhan. Sedangkan salat menyalakan lentera jiwa yang kekal abadi menghadap Sang Pencipta,” jawab ayahnya seraya mengusap lembut rambut ikal putranya. “Dan hari ini, usiamu genap tujuh tahun. Langkahmu bukan lagi sekadar bermain tanpa arah. Mulai pagi ini, namamu dicatat malaikat sebagai anak yang mulai memikul adab dan tanggung jawab.”
Maryam datang membawa secangkir air jahe hangat bertutup kaleng seng.
“Minumlah ini dulu penawar dingin, Fardhan. Segeralah berwudu di pancuran bambu. Ayahmu sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa di meja serambi.”
“Sesuatu yang istimewa? Apakah ketapel kayu baru seperti punya Abang Ilham, Ibu?” tanya Fardhan ceria.
Maryam tertawa renyah mendengar tebakan polos anak semata wayangnya.
“Bukan ketapel pemburu burung pipit, sayang. Tetapi sayap pusaka untuk menerbangkan cita-citamu menuju keridaan langit.”
“Benarkah itu, Ayah? Boleh aku melihatnya sekarang?” selidik Fardhan penasaran.
“Basuhlah dirimu terlebih dahulu dengan air wudu yang suci, baru engkau boleh memegangnya,” tegas Abdul Karim tersenyum. “Membasuh muka dengan wudu akan membukakan pintu keberkahan hari baru pagimu.”
Fardhan melompat dari ranjang. Air dingin pancuran bambu membasuh muka, tangan, dan kakinya, menyegarkan raganya. Saat kembali ke serambi membetulkan sarung kotak-kotak yang kebesaran, matanya terpaku pada bungkusan beludru hijau tua bermotif sulur emas di atas meja bundar jati.
Abdul Karim mengangkat bungkusan itu dengan kedua belah tangan penuh takzim.
“Kemarilah mendekat, Fardhan. Ulurkan kedua telapak tangan sucimu yang bersih.”
Fardhan melangkah pelan, menghirup aroma harum gaharu yang menguar lembut.
“Buka dan peganglah dengan penuh kehormatan serta keikhlasan jiwa, Nak.”
Jemari Fardhan menyingkap kain beludru. Tampaklah mushaf Al-Qur'an bersampul kulit rusa berwarna cokelat gelap dengan lembaran menguning berhiaskan kaligrafi indah bertinta hitam.
“Ini adalah mushaf peninggalan kakek buyutmu,” tutur Abdul Karim haru. “Tiga generasi keluarga kita belajar mengeja kebenaran hidup dari kitab ini. Hari ini, kupercayakan amanah pusaka keluarga kita ke dalam tanganmu.”
Fardhan menengadah menatap ayahnya.
“Apakah aku sanggup menjaganya dengan baik, Ayah? Aku bahkan belum khatam membaca surah pendek di Juz Amma.”
“Bukan kesempurnaan lidahmu yang mula-mula dituntut, Fardhan,” bisik Abdul Karim menepuk pundak anaknya. “Melainkan kesungguhan hatimu untuk tidak membiarkan kalam Ilahi ini berdebu dalam kelalaian. Mari berangkat, jalan setapak surau telah menanti langkah barumu.”
°˖✧✿✧˖°
Kabut belum terusir ketika kaki telanjang Fardhan menjejak tanah merah lembap desa. Di tangan kanannya, mushaf bersampul kulit rusa itu didekapnya erat merapat ke dada kecilnya. Di sampingnya, obor bambu ayahnya berderak menebarkan aroma minyak tanah.
“Peganglah mushaf itu lebih tinggi, Fardhan. Jangan sampai sarungmu menyentuh kubangan lumpur,” tegur sang ayah seraya memperlambat langkahnya.
“Ayah, kenapa kakek buyut mewariskan kitab suci ini, bukan kebun durian atau petak sawah seperti milik kakeknya Abang Ilham?” tanya Fardhan penasaran.
Abdul Karim menghentikan langkah di tepi titian bambu penyeberangan parit desa.
“Kebun durian bisa tumbang diterpa badai, Fardhan. Sawah bisa kering jika hulu sungai surut. Namun kitab suci ini berisi petunjuk abadi yang tak pernah lapuk oleh zaman. Bila jiwamu kaya dengan isinya, engkau tidak akan pernah miskin di mana pun kelak engkau merantau.”
“Apakah menjadi anak tujuh tahun artinya aku tidak boleh lagi bermain lumpur bersama kawan-kawan?” tanya Fardhan cemas.
Abdul Karim tersenyum bijak menatap manik mata putranya.
“Bermainlah selagi engkau ingin bermain, Nak. Tetapi ketahuilah, ada waktu melempar gundu dan ada waktu bersujud. Hari ini engkau melangkah melewati batas kanak-kanak yang lalai menuju pemuda yang belajar membedakan perkara hak dan batil.”
“Aku berjanji akan selalu mengingat nasehat berharga ini di hatiku, Ayah,” bisik Fardhan patuh seraya mengangguk mantap dengan penuh rasa hormat seorang anak desa.
Selepas salat Subuh di surau, matahari pagi menampakkan semburat keemasan. Ayah mengajak Fardhan singgah ke bengkel kayu bersahaja samping rumah. Di sana berserakan bilah meranti dan serutan kayu jati.
“Duduklah di atas balok itu, Fardhan,” perintah ayahnya seraya meraih sebilah kayu jati yang masih kasar.
Fardhan duduk patuh seraya mengusap kayu itu.
“Kayu ini kasar sekali, Ayah. Menusuk telapak tanganku jika digosok kuat.”
“Benar, Nak. Semua kayu di rimba memang bermula kasar,” sahut Abdul Karim seraya mengambil ketam serut. Srek... srek... pisau ketam mengupas lapisan luar kayu, menebarkan serpihan tipis beraroma damar. “Tengoklah perubahannya sekarang. Jika bilah kayu ini menolak diserut karena takut terkelupas dan merasa perih, ia hanya berakhir menjadi kayu bakar di tungku dapur ibumu. Namun jika ia ikhlas diserut dan diluruskan, kelak ia bisa menjadi tiang penyangga surau yang kokoh menopang atap selama ratusan tahun.”
Fardhan terdiam takjub merenungkan perkataan itu.
“Apakah mendidik adab diriku juga seperti menyerut kayu ini, Ayah?”
“Tepat sekali, Fardhan,” sahut Abdul Karim bangga. “Disiplin agama mungkin terasa mengikis kebebasanmu saat ini. Tetapi percayalah, kami sedang menempa jiwamu agar tidak patah ketika kelak badai ujian kehidupan menghantammu di dunia luar.”
°˖✧✿✧˖°