SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

RUMAH SEDERHANA

Rumah Sederhana Penuh Doa

---o0o---

Di sudut desa yang rindang oleh pepohonan kelapa dan rimbunnya rumpun bambu, berdiri sebuah rumah berdinding papan kayu yang sudah tampak memudar dimakan usia. Atap sengnya senantiasa memperdengarkan simfoni gemertak tiap kali hujan deras membasahi bumi. Di sanalah Fardhan Ar Rimbai diresapi aroma tanah basah dan kehangatan yang tak pernah padam. Pada usianya yang baru menginjak delapan tahun, dunia Fardhan masih sebatas hamparan sawah di belakang rumah, jalan setapak berkerikil menuju surau, dan pelataran rumah yang menjadi saksi bisu kerja keras kedua orang tuanya.

Setiap subuh, sebelum sang fajar menyibak gelap, bayang-bayang Abdul Karim Ar Rimbai sudah sibuk menata perkakas pertaniannya di teras belakang. Suaragesekan cangkul dan dentang ember kaleng menjadi alarm alami yang membangunkan Fardhan. Sementara itu, di dapur yang masih menggunakan tungku kayu bakar, Maryam telah sibuk meniup bara api untuk merajut asap tebal, menyiapkan ketan rebus dan teh hangat untuk suami dan anaknya.

"Fardhan, usap matamu dan segera ambil wudu. Ayahmu sudah menunggu di depan," sapa Maryam lembut, suara khasnya menelusup hangat di antara selimut sarung Fardhan yang lusuh.

Fardhan mengucek kedua matanya yang masih terasa berat, lalu melompat kecil dari ambang kamar. "Ibu, apakah hari ini Ayah akan membawa hasil panen mentimun ke pasar?"

Maryam tersenyum, mengusap kepala putra kecilnya yang berambut ikal itu dengan telaten. "Iya, Nak. Panen kecil-kecilan minggu ini mudah-mudahan cukup untuk membeli beras dan garam, serta sisanya untuk tabungan sekolahmu."

Di rumah itu, keberadaan uang bukanlah sesuatu yang berlimpah, melainkan butiran-butiran rezeki yang dikejar dengan peluh dan diikat rapat-rapat oleh rasa syukur. Fardhan tumbuh menyaksikan betapa sabarnya sang ibu mengolah bahan makanan seadanya menjadi hidangan yang terasa nikmat. Ia juga menyaksikan bagaimana ayahnya tak pernah mengeluh, meski bahunya makin lama makin membongkok menahan beban sekeranjang sayur yang harus dipikul kiloan meter menuju pasar kecamatan.

Namun, anak usia delapan tahun tetaplah seorang anak kecil dengan dunia kepolosannya. Di sekolah dasar tempat Fardhan menimba ilmu, kawan-kawannya mulai membawa sebuah mainan baru yang sedang digandrungi: mobil-mobilan kayu berroda karet bekas sandal yang diukir halus, lengkap dengan tali penariknya. Setiap kali jam istirahat tiba, anak-anak desa itu akan berkumpul di bawah pohon beringin sekolah, saling mengadu kecantikan dan kecepatan mobil-mobilan mereka.

Fardhan kerap berdiri di batas bayangan beringin, mengamati teman-temannya berlari riang sambil memegang tali penarik mainan tersebut. Matanya berbinar setiap kali roda mainan itu berputar membelah debu tanah sekolah. Dalam hatinya yang polos, tumbuh sebuah keinginan yang sangat kuat untuk memiliki mainan serupa. Ia merindukan perasaan menggenggam tali itu dan berlari bebas di bawah terik matahari.

°˖✧✿✧˖°

Sore itu, setelah menyelesaikan shalat Asar di surau bersama Kiai Zulfikar Al-Faruqi, Fardhan tidak langsung pulang untuk bermain di pinggir kali seperti biasanya. Langkah kakinya terasa agak lambat dan ragu-ragu menuju arah pasar desa. Ia tahu, di sudut lorong pasar, ada Pak Somad yang pandai mengukir mainan kayu tersebut.

Fardhan berdiri agak lama di depan lapak Pak Somad, memandangi deretan mobil-mobilan kayu yang dicat warna-warni cerah. Merah, hijau, dan kuning.

"Berapa harganya ini, Pak Somad?" tanya Fardhan pelan, suara kecilnya hampir tenggelam di antara riuk derap langkah para pembeli pasar.

Pak Somad mendongak, lalu tersenyum ramah pada anak Abdul Karim itu. "Oh, Fardhan. Ini harganya tiga ribu rupiah, Nak. Dibuat dari kayu mahoni pilihan, rodanya licin."

Tiga ribu rupiah. Bagi Fardhan kecil, nominal itu terasa bagaikan angka yang sangat besar dan jauh dari jangkauannya. Di saku celana pendeknya, hanya ada dua koin seratusan sisa saku sekolah yang ia simpan rapi. Fardhan mengangguk perlahan, lalu membalikkan badan dan berjalan pulang dengan perasaan yang mendadak terasa mengganjal di dada. Keinginan itu telah membesar menjadi sebuah pemicu yang mengusik ketenangannya.

Sesampainya di rumah, aroma sangrai kopi buatan ibu tak mampu menghibur gumpalan angan di kepalanya. Fardhan duduk di ambang pintu depan, menatap halaman rumah tempat ayam-ayam peliharaan mereka sedang mengais tanah. Ketika melangkah masuk ke dalam rumah, ia melihat ayahnya baru saja meletakkan keranjang bambu yang kini telah kosong di sudut ruangan. Abdul Karim menyapu keringat di dahi dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.

"Kenapa melamun di pintu, Fardhan?" tanya Abdul Karim seraya duduk meluruskan kakinya yang tampak letih di atas balai-balai kayu.

Fardhan mendekat, memilih duduk di lantai bambu dekat kaki ayahnya. Ia menggulung-gulung pinggiran sarungnya dengan jemari kecilnya yang gemetar. "Ayah... tadi di pasar Fardhan melihat mainan mobil kayu buatan Pak Somad."

Abdul Karim memandangi putranya dengan tatapan teduh. "Lalu?"

"Anak-anak di sekolah semuanya punya, Yah. Mobilnya bisa ditarik dan rodanya berputar cepat sekali," Fardhan memberanikan diri menatap mata ayahnya. "Bolehkah Fardhan minta uang tiga ribu rupiah untuk membelinya?"

Suasana di dalam ruangan kayu yang remang-remang itu mendadak hening sejenak. Suara gesekan daun pisang di luar rumah tertiup angin sore terasa makin nyaring menembus dinding papan. Dari arah dapur, langkah kaki Maryam terhenti. Ia berdiri di ambang pintu dapur dengan memegang kain lap, mendengarkan percakapan anak dan suaminya itu.

Abdul Karim tak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, bukan menghela napas kegusaran, melainkan sejenis helaan napas yang sarat dengan beban kasih sayang seorang ayah yang menyadari batas kemampuannya. Tangan kerasnya yang kasar karena gesekan gagang cangkul perlahan terulur, mengusap lembut bahu Fardhan.

"Tiga ribu rupiah ya, Nak?" bisik Abdul Karim dengan nada suara yang sangat pelan namun bening. "Hasil penjualan mentimun Ayah hari ini tadi hanya tersisa seribu lima ratus rupiah setelah dipotong modal bibit dan belanja dapur ibumu untuk tiga hari ke depan."

Fardhan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kecewa langsung menusuk relung hatinya yang paling dangkal. Kalimat sang ayah seperti garis batas yang sangat tegas, menandai sebuah jurang antara impian sederhananya dan kenyataan pahit yang dialami keluarganya.

°˖✧✿✧˖°

"Apakah minggu depan Ayah tidak bisa membelikannya untuk Fardhan?" cicit Fardhan, suaranya mulai serak menahan genangan air mata yang merembes di sudut matanya. "Hanya tiga ribu rupiah, Yah... Fardhan janji tidak akan minta mainan apa-apa lagi sampai tahun depan."

Maryam melangkah mendekat, lalu berlutut di samping Fardhan. Ia merangkul bahu mungil anak tunggalnya itu dengan hangat. "Fardhan, dengar Ibu ya, Nak. Bukan Ayah tidak mau membelikan. Kalau ada uangnya sekarang, jangankan mobil kayu, Ayah dan Ibu pasti akan langsung membelikannya untukmu."

"Tapi kenapa teman-teman Fardhan bisa punya, Bu? Kenapa cuma Fardhan yang tidak punya?" protes Fardhan kecil. Rasa iri dan rasa tidak puas yang alami pada anak-anak seusianya mulai membakar pertahanan dirinya.

Abdul Karim merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Wajahnya yang tembaga disorot sinar matahari sore yang menerobos dari celah ventilasi. "Fardhan, rezeki setiap keluarga itu Allah yang atur jalurnya. Ada yang diberi cukup uang untuk beli mainan hari ini, tapi mungkin ada hal lain yang tidak mereka miliki. Allah beri keluarga kita kecukupan makan hari ini, kesehatan, dan rumah untuk berteduh. Itu rezeki yang sangat besar."

"Tapi Fardhan cuma ingin mobil kayu itu, Ayah..." tangis Fardhan akhirnya pecah juga. Air mata hangat menetes membasahi pipinya yang kemerahan. Rasa tertekan karena merasa berbeda dari kawan-kawannya menguasai benak Fardhan. Ini adalah titik tekan pertama dalam pemahamannya tentang makna memiliki dan ketidakmampuan.

"Menangislah kalau itu membuat dadamu lega, Nak," ujar Abdul Karim tanpa bernada marah sedikit pun. "Tapi ingat satu hal ini baik-baik. Jangan pernah mengukur kasih sayang Ayah dan Ibu dari barang yang bisa kami belikan. Dan jangan pernah mengukur kebaikan Allah dari mainan yang belum bisa kamu genggam hari ini."

Lihat selengkapnya