SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

SURAU DI UJUNG DESA

Surau di Ujung Desa

---o0o---

Langit sore di atas Desa Rimbai selalu melukiskan rona jingga yang lembut, membiaskan sinar matahari terakhir di balik deretan bukit hijau. Di sudut desa yang sunyi, berdiri sebuah bangunan tua kayu beratap tumpang dengan menara kayu kecil di sampingnya. Surau itu tidak megah, dinding-dinding papannya telah legam dipahat waktu, tetapi dari dalam ampelas pintunya selalu terpancar kehangatan yang mengundang siapa saja untuk bersimpuh. Di sanalah Fardhan Ar Rimbai, yang kini genap berusia sepuluh tahun, menuntun langkah-langkah kecilnya setiap kali petang mulai menjemput.

Suara kelepak sayap burung gereja yang bersarang di bawah bubungan surau menyambut kedatangan Fardhan. Ia melepaskan sandal jepitnya yang mulai menipis, menatanya rapi di undakan semen teratas, lalu mengambil air wudu dari pancuran bambu yang mengalir jernih. Air dingin desa menyapu wajahnya, menyegarkan sisa-sisa kepenatan setelah seharian membantu ayahnya mengumpulkan kayu bakar.

"Fardhan, kamu datang paling awal lagi hari ini," sapa sebuah suara serak-serak basah namun teramat teduh dari dalam surau.

Fardhan mendongak seraya menyapu sisa air wudu di wajahnya. Kiai Zulfikar Al-Faruqi sedang duduk bersila di atas tikar pandan tua, memegang tasbih kayu cendana di tangan kanannya. Sarung tenun sederhana dan baju koko putihnya tampak sangat bersih, memancarkan kedamaian dari seorang ulama tua yang menghabiskan segenap usianya untuk mengabdi pada ilmu dan umat.

"Iya, Kiai. Tadi Fardhan langsung kemari setelah mandi di sungai," jawab Fardhan seraya membungkuk santun dan mencium punggung tangan sang guru.

Kiai Zulfikar tersenyum lembut, mengusap kepala Fardhan dengan ketulusan seorang ayah. "Bagus, Nak. Masjid dan surau adalah rumah bagi jiwa-jiwa yang merindukan ketenangan. Siapa yang membiasakan dirinya terpaut pada rumah Allah sejak kecil, kelak langkah kakinya di dunia tidak akan mudah tersesat oleh riuk-pikuk zaman."

"Kiai, apakah hari ini kita akan melanjutkan hafalan Surah Al-Kahfi?" tanya Fardhan dengan mata berbinar penasaran.

"Tentu," Kiai Zulfikar menepuk tempat di sampingnya. "Duduklah di sini. Ambillah Rehal dan mushaf Al-Qur'an milikmu. Kita ulangi ayat yang kemarin sebelum anak-anak yang lain berdatangan."

Fardhan dengan sigap berjalan menuju lemari kayu tua berukir di sudut mihrab. Ia mengambil mushaf Al-Qur'an bersampul hijau milik keluarganya, membawanya dengan kedua tangan tertangkup di dada. Saat ia membuka lembaran-lembaran kertas beraroma khas itu, hatinya senantiasa diliputi rasa getar yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

"Coba kau baca ayat ke-thirty sembilan yang kemarin kau hapal, Fardhan," pinta Kiai Zulfikar lembut.

Fardhan menarik napas dalam-dalam, membetulkan posisi duduknya, lalu melantunkan ayat suci itu dengan irama yang merdu dan penuh ketelitian tajwid:

"Wa lau laa idz dakhal ta jannataka qulta maa syaa-Allah, laa quwwata illaa billaah..."

Kiai Zulfikar mengangguk-angguk khusyuk, menyimak tiap desis huruf yang keluar dari tenggorokan murid kecilnya. "Sadaqallahul 'adzim. Suaramu makin tertata, Fardhan. Tapi ingat, membaca Al-Qur'an bukan sekadar mengolah keindahan suara di kerongkongan. Apa kau paham arti dari kalimat yang baru saja kau baca itu?"

Fardhan menunduk ragu. "Fardhan tahu artinya secara harfiah, Kiai. Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tapi... bagaimana menjalankan kalimat itu dalam hidup sehari-hari?"

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfikar mengelus jenggot putihnya yang tertata rapi. "Kalimat itu adalah benteng jiwa, Fardhan. Ketika kau melihat keindahan, keberhasilan, atau kemewahan di dunia ini, kau ucapkan kalimat itu agar hatimu tidak dihinggapi rasa sombong. Dan ketika kau ditimpa kesulitan, ketakutan, atau kegagalan, kau resapi kalimat itu agar hatimu tahu bahwa tidak ada satupun beban di bumi ini yang terlalu berat jika Allah memberi kita kekuatan."

"Jadi, kalau Fardhan merasa lelah atau gagal, Fardhan tidak boleh berkecil hati?" tanya Fardhan memastikan.

"Benar, Nak. Manusia itu lemah, hanya punya ikhtiar. Hasilnya? Pulangkan seluruhnya kepada Sang Pemilik Semesta. Jika kau pegang teguh prinsip ini, kau tidak akan pernah hancur oleh pujian, dan tidak akan pernah binasa oleh celaan."

Penjelasan sederhana dari sang guru meresap dalam-dalam ke relung hati Fardhan. Di surau kayu di ujung desa itu, kebiasaan membaca Al-Qur'an selepas Magrib dan mendalami maknanya bukan lagi sekadar rutinitas formal, melainkan telah menjelma menjadi kebutuhan jiwa bagi Fardhan muda.

Namun, dunia anak-anak berusia sepuluh tahun tidaklah sesederhana lorong surau yang tenang. Di luar sana, riak-riak gairah muda kawan-kawan sebayanya menawarkan godaan yang sama sekali berbeda.

Hari berganti minggu. Suatu sore yang cerah, usai waktu Asar, udara desa terasa begitu segar. Angin bertiup perlahan membenturkan dedaunan mangga di sepanjang jalan desa. Fardhan berjalan menuju surau dengan membawa kitab juz 'Amma dan Al-Qur'annya. Namun, tepat di lapangan rumput dekat pemakaman tua desa, langkah Fardhan terhenti oleh suara teriakan riuh penuh kegembiraan.

"Fardhan! Hei, Fardhan! Ke sini!" seru Bayu, salah seorang teman sekelasnya di sekolah dasar, sambil melambaikan tangan dengan antusias.

Di tengah lapangan, belasan anak laki-laki desa sedang berkumpul. Di tangan mereka menggantung gulungan benang layangan dan beberapa buah layangan kertas beraneka warna yang siap diudara.

Fardhan menghampiri pinggir lapangan. "Kalian sedang apa? Sebentar lagi kan sudah mau memasuki waktu Magrib?"

"Kami baru mau memulai pertempuran layangan, Fardhan!" sahut Rian, teman lainnya, seraya memamerkan layangan kencit hitam berkepala merah milik dasarnya. "Angin sore ini sangat bagus! Lihat itu, anginnya kencang sekali mengarah ke bukit!"

"Ayo bergabung, Fardhan! Aku punya satu layangan cadangan untukmu!" ajak Bayu seraya menyodorkan sebuah layangan berwarna kuning cerah pada Fardhan. "Hari ini kita main sampai malam! Nanti malam ada hiburan adu jangkrik juga di Pos Ronda!"

Fardhan menatap layangan kuning di tangan Bayu, lalu mengalihkan pandangannya pada tas kain berisi Al-Qur'an yang tersandang di bahunya. Ada pergolakan kecil di dadanya. Keinginan untuk berlari bersama kawan-kawan sebayanya, mengejar angin sore, dan tertawa lepas tanpa beban adalah hal yang sangat wajar bagi anak seusianya.

"Tapi... sebentar lagi azan Magrib, Bayu," ujar Fardhan pelan. "Kiai Zulfikar sudah menunggu kita di surau. Bukankah sore ini jadwal kita melanjutkan tadarus dan setoran hafalan?"

Bayu tertawa meremehkan, mengibaskan tangannya di udara. "Ah, Fardhan! Kamu ini seperti orang tua saja! Mengaji kan bisa besok-besok! Sekali-kali bolos tidak akan membuatmu berdosa besar!"

"Iya, Fardhan," timpal Rian seraya tertawa bersama anak-anak yang lain. "Tiap hari kamu sudah di surau terus. Apa tidak bosan? Kiai Zulfikar juga paling cuma ceramah hal yang sama. Mending main layangan bersama kami, mumpung anginnya lagi enak!"

Tawa kawan-kawannya bergema di tengah lapangan, menyindir keteguhan Fardhan yang dianggap terlalu kaku dan membosankan. Konflik kecil ini menjadi pemicu awal yang menguji di mana Fardhan harus menempatkan prioritas hidupnya.

°˖✧✿✧˖°

"Ayo, Fardhan! Ambil layangan ini! Jangan ragu-ragu!" desak Bayu lagi, menjejalkan gulungan benang ke tangan Fardhan. "Kita ini masih anak-anak! Masa kecil itu untuk bermain, bukan cuma duduk melipat kaki di atas tikar pandan sampai malam!"

Fardhan memandangi gulungan benang di tangannya. Suara gelak tawa kawan-kawannya terasa begitu menggoda, memanggil sisi anak-anak dalam dirinya untuk menyerah pada kesenangan sesaat. Namun, di saat yang sama, bayangan wajah tenang Kiai Zulfikar yang duduk menyendiri menyalakan lampu teplok surau membayang di pelupuk matanya. Ia juga teringat pesan ayahnya, Abdul Karim, bahwa waktu muda yang dilewatkan tanpa fondasi agama bagaikan membangun rumah di atas pasir hisap.

"Maaf, Bayu... Rian..." Fardhan perlahan menyerahkan kembali gulungan benang itu ke tangan Bayu. "Aku tidak bisa ikut main sore ini. Aku sudah berjanji pada Kiai Zulfikar untuk menyimak hafalan."

Rian mencibir, "Ah, Fardhan tidak asyik! Sok suci!"

"Ya sudah, biarkan saja dia!" seru Bayu dengan nada kecewa bercampur kesal. "Paling-paling nanti dia cuma bisa duduk diam di surau sendirian sementara kita bersenang-senang di sini! Ayo kawan-kawan, naikkan layangannya!"

Anak-anak itu berpaling dari Fardhan dan mulai berlari menentang angin, bersorak-sorai saat layangan mereka membubung tinggi menembus awan sore. Fardhan berdiri sendirian di pinggir lapangan, memandangi kawan-kawannya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa sepi yang mendadak menyelinap di dadanya. Mengapa memilih jalan yang benar terasa begitu mengasingkan? Mengapa ketika ia berusaha taat, ia justru harus dijauhi oleh kawan-kawan sepermainannya?

Dengan langkah yang terasa agak berat, Fardhan membalikkan badan dan melanjutkan perjalanannya menuju surau di ujung desa.

Lihat selengkapnya