SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

PERTAMA KALI

Pertama Kali Membaca Al-Kahfi

---o0o---

Malam merayap di atas genting Pesantren Darul Hikmah, membawa hawa dingin gerimis yang membasahi pelataran serta rumpun bambu di samping surau. Lonceng berdentang sembilan kali. Santri telah kembali ke bilik asrama, menyisakan kesenyapan yang hanya diselingi derit tiang kayu dan nyanyian jangkrik di selokan. Di sudut teras beralas tikar pandan, seorang anak lelaki berusia dua belas tahun duduk bersila menghadap rehal kayu berukir. Namanya Fardhan. Di hadapannya, sebuah mushaf bersampul beludru hijau terbuka lebar. Lembaran kekuningan itu baru berpindah menuju awal Surah Al-Kahfi. Jemari Fardhan menelusuri baris ayat dengan ragu, sementara matanya dipantuli temaram petromaks.

"Fardhan, kamu belum beranjak masuk ke bilik asrama?" tanya Bashir yang mendadak melongok dari balik pintu surau. "Semua kawan sekamar kita sudah bersiap untuk tidur nyenyak."

Fardhan mendongak seraya membetulkan letak pecinya. "Sebentar lagi, Bashir. Aku masih ingin menyelesaikan beberapa lembar ayat suci malam ini."

"Bukankah hafalanmu untuk seleksi pekan depan sudah beres?" tanya temannya seraya duduk bersila di sampingnya dengan sarung terlipat tebal melingkari bahu. "Semua orang di pondok tahu suaramu paling merdu saat musabaqah kecamatan kemarin. Kamu juara satu. Mau melatih apa lagi malam begini?"

"Bukan soal musabaqah itu," bisik Fardhan pelan, menatap kembara huruf-huruf hijaiyah. "Aku merasa ada yang sangat mengganjal di hatiku sejak menerima piala emas itu."

"Mengganjal bagaimana maksudmu?" tanya Bashir penasaran seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Bukannya kamu sangat bahagia dipuji para ustaz dan seluruh santri senior pondok kita?"

"Justru pujian melimpah itulah yang membuat dadaku terasa begitu sesak dan berat," keluh Fardhan dengan nada getir. "Setiap kali mereka menyebutku anak ajaib yang berbakat, aku merasa takut. Aku takut jika suatu hari suaraku hilang, aku bukan siapa-siapa lagi di pondok ini."

Bashir tersenyum tipis menggelengkan kepala. "Kamu terlalu banyak merenungkan hal yang tidak perlu, Fardhan. Orang tuamu sangat bangga di kampung, Kiai tersenyum lebar padamu, bukankah itu anugerah yang patut dirayakan dengan rasa gembira?"

"Tetapi apakah kemenangan itu murni karena kehebatanku sendiri?" balas Fardhan dengan mata membulat gelisah menatap sahabatnya. "Bagaimana jika semua tepuk tangan itu racun yang membinasakan jiwaku secara perlahan?"

"Kalau kamu terus memikirkan hal serumit itu, kepalamu bisa meledak sebelum imtihan dimulai," canda Bashir menepuk bahunya santai. "Sudahlah, ayo kembali ke kamar kita. Sebentar lagi Kang Mas'ud berkeliling membawa kunci gembok asrama."

"Tidurlah duluan, kawan," pinta Fardhan tersenyum tulus. "Beri aku waktu sepuluh menit lagi untuk membaca surah ini. Aku berjanji tidak akan membuat diriku terkunci di luar asrama."

"Baiklah, awas jangan sampai kamu tertidur di atas tikar lembap ini," pesan Bashir seraya beranjak berdiri. "Udaranya sangat dingin menusuk tulang."

"Tenang saja, sarung katunku cukup tebal untuk mengusir hawa dingin malam," sahut Fardhan meyakinkan sahabatnya. "Aku akan segera beres."

"Janji ya, sepuluh menit lagi kamu harus segera tidur!" seru temannya seraya melangkah pergi ke lorong asrama.

"Iya, aku berjanji padamu, sahabat terbaikku yang setia! Tidurlah, semoga mimpi indah malam ini, Bashir!" balas Fardhan sambil melambaikan tangannya.

Setelah langkah sandal Bashir lenyap di lorong, kesenyapan kembali merengkuh surau. Angin menyusup dari celah papan kayu, meniup lidah lentera hingga bayang-bayang tiang bergoyang di lantai. Fardhan menatap mushaf terbuka. Ini malam pertamanya membaca Surah Al-Kahfi setelah menamatkan juz amma. Ia melafalkan ayat demi ayat dengan tartil hati-hati, hingga matanya terpaku pada ayat tiga puluh sembilan tentang perbincangan dua pemilik kebun.

"Wa lau laa idz dakhalta jannataka... Qulta maasyaa-Allaahu laa quwwata illaa billaah," gumam Fardhan mengeja dengan suara lirih bergetar di tenggorokan.

Fardhan mendadak berhenti bersuara. Matanya terkunci pada kata suci tersebut. Tubuhnya membeku di atas tikar pandan yang dingin.

"Masya Allah, la quwwata billah... Apa sebenarnya rahasia di balik kalimat agung yang menggetarkan ini?" ulangnya dengan suara parau tertahan.

"Mengapa kalimat ini terasa seperti hantaman godam yang menghujam tepat ke jantungku? Seolah ia menelanjangiku," desis Fardhan seorang diri di keheningan malam sunyi. Dadanya bergemuruh hebat. Kalimat pendek itu seolah datang khusus malam ini untuk meruntuhkan seluruh kegelisahan yang menyiksanya belakangan ini. Namun ia masih belum mengerti mengapa kalimat sederhana mampu menciptakan guncangan batin sedahsyat ini dalam jiwanya yang belia.

°˖✧✿✧˖°

Keresahan di dada Fardhan menolak untuk reda. Pandangannya menerobos pelataran menuju ndalem Kiai Zulfikar. Di balik jendela kaca, pendar kuning lampu teplok masih menyala. Hatinya berbisik bahwa jawabannya ada di sana. Fardhan merapikan mushafnya, mengepitnya di bawah lengan kanan, lalu melangkah di atas jalan setapak berbatu kerikil basah.

Setibanya di serambi terakota, pintu jati tampak terbuka sedikit. Kiai Zulfikar tengah bersila membaca kitab kuning tebal, ditemani cangkir teh jahe yang mengepul harum semerbak memikat.

"Assalamu’alaikum, Kiai," salam Fardhan lirih dari balik ambang pintu seraya menundukkan kepala takzim.

Kiai Zulfikar mendongak seraya tersenyum teduh menyambutnya. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Masuklah, Fardhan. Ada apa gerangan malam-malam begini belum beristirahat di bilik asramamu bersama kawan-kawanmu?"

Fardhan melangkah pelan dengan lutut beringsut santun, meletakkan mushafnya di atas meja kayu jati. "Mohon maaf mengganggu waktu istirahat panjenengan, Kiai. Ada ayat Al-Qur'an yang baru saja saya baca di surau, dan maknanya terus mengusik ketenteraman batin saya."

Kiai Zulfikar menutup kitabnya perlahan seraya membetulkan serbannya. "Ayat yang mana, anakku? Katakan padaku apa yang membuat dadamu bergetar hebat hingga kamu datang ke sini selarut ini?"

"Tentang dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi, Kiai," jawab Fardhan dengan napas tertahan di dada. "Di sana ada penggalan mulia: Masya Allah, la quwwata billah. Mengapa kalimat itu terasa begitu berat menggoncang seluruh relung hati saya?"

Mata Kiai Zulfikar memancarkan binar takjub yang dalam penuh kasih. "Subhanallah. Kamu baru dua belas tahun, Fardhan, tetapi hatimu sudah peka menangkap ketukan ayat suci itu. Kemarilah, duduk lebih dekat di hadapanku."

Fardhan menggeser duduknya mendekat, merasakan ketenangan mengalir dari tatapan gurunya yang lembut penuh welas asih.

"Apakah kalimat itu terasa asing di telingamu, atau justru terasa seperti cermin yang memantulkan rahasia hatimu?" tanya sang Kiai menyelidik perlahan seraya tersenyum arif.

"Rasanya seperti cermin bening yang menelanjangi ketakutan terbesar saya, Kiai," aku Fardhan dengan suara tercekat menahan getaran haru yang membuncah di tenggorokan.

"Ketakutan apa yang sedang bersembunyi di balik dadamu yang belia itu, wahai anakku?" tanya Kiai seraya menuangkan teh jahe hangat ke cangkir kecil tanah liat. "Katakanlah dengan jujur padaku."

"Saya takut kehilangan segala hal yang membuat orang-orang memuji dan mengagumi kemampuan saya di pondok ini," bisik Fardhan menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lantai kayu jati tua. "Pujian itu membuat jiwa saya merasa haus dan tersiksa."

Kiai Zulfikar mengangguk-angguk mafhum, menatap santri kecilnya dengan kelembutan yang menyejukkan sanubari. "Jangan takut, anakku. Malam ini kita akan membedah rahasia agung di balik kalimat itu agar hatimu kembali merdeka dan damai." 

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya