SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

KALIMAT MENGUBAH NASIB

Kalimat yang Mengubah Hidup

---o0o---

Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun pohon nangka di samping rumah kayu keluarga Ar Rimbai, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas meja belajar sederhana tempat Fardhan Ar Rimbai duduk. Usianya kini beranjak tiga belas tahun. Suaranya mulai agak memberat, dan bahunya tampak lebih lebar dari tahun-tahun sebelumnya. Di hadapannya terhampar sebuah buku catatan lusuh bertuliskan angka-angka matematika dan selembar formulir pendaftaran Lomba Cerdas Cermat Sains dan Agama tingkat kabupaten.

Di pelataran rumah, Abdul Karim sedang mengasah mata cangkul dengan batu asahan, menimbulkan suara gesekan teratur yang ritmis. Sementara itu, Maryam baru saja meletakkan segelas teh hangat manis dan sepinggan singkong rebus yang masih mengepul di sudut meja Fardhan.

"Fardhan, minumlah dulu tehnya selagi hangat," sapa Maryam seraya mengusap lembut rambut ikal putranya yang kini makin tertata rapi.

Fardhan mendongak, menyapu pelipisnya yang sedikit berpeluh. "Terima kasih, Bu. Fardhan sedang mengulang rumus perkalian dan hafalan ayat-ayat hukum untuk persiapan lomba minggu depan."

Abdul Karim menghentikan asahannya sejenak, mengusap dahi dengan lengan bajunya yang tergulung, lalu melangkah mendekati meja belajar Fardhan. "Bagaimana persiapanmu, Fardhan? Apakah kamu merasa yakin bisa memenangkan perlombaan itu nanti?"

Fardhan menghela napas panjang, menatap sang ayah dan ibu secara bergantian. Dulu, ketika masih kanak-kanak, ia mungkin akan menjawab dengan kepastian anak kecil yang penuh emosi seperti, 'Fardhan pasti bisa menang, Ayah!' Namun, bertahun-tahun bimbingan di surau bersama Kiai Zulfikar telah membentuk sudut pandang baru dalam benaknya.

"Fardhan akan berusaha sekuat tenaga, Ayah, Ibu," jawab Fardhan dengan nada mantap namun tetap tenang. "Mempelajari semua materi, latihan soal tiap malam, dan menjaga hafalan Al-Qur'an. Tapi untuk hasilnya... Fardhan serahkan penuh kepada Allah. Allah yang menentukan yang terbaik untuk Fardhan."

Abdul Karim tersenyum bangga, menepuk-nepuk bahu tegap anak sulungnya itu. "Masya Allah. Itu baru anak Ayah. Memiliki impian tinggi itu harus, tapi menggantungkan hasil pada kemampuan diri sendiri adalah awal dari kesombongan dan kekecewaan."

"Iya, Yah," timpal Fardhan. "Dulu Kiai Zulfikar pernah berpesan, tugas manusia itu cuma berikhtiar di bumi, sedangkan garis takdir sudah diukir indah di langit."

Sore harinya, Fardhan melangkah menuju surau desa untuk menghadiri diskusi rutin bersama Ustaz Ahmad Fathan. Di jalan setapak, ia bertemu dengan Hafiz Al-Manshur, teman sebaya di desanya yang juga menjadi salah satu wakil dari sekolah lain untuk lomba yang sama.

"Fardhan! Kamu ikut lomba minggu depan kan?" panggil Hafiz seraya menyajajarkan langkah kakinya di samping Fardhan.

"Iya, Hafiz. Insya Allah aku ikut. Kamu bagaimana?" balas Fardhan ramah.

Hafiz menepuk dadanya dengan percaya diri. "Aku sudah latihan tiap hari bersama guruku! Aku yakin seratus persen piala juara pertama tahun ini bakal aku bawa pulang!"

Fardhan tersenyum tipis, merangkul bahu sahabatnya itu. "Semoga usaha kerasmu membuahkan hasil yang baik, Hafiz. Tapi jangan lupa diselingi doa juga."

"Tentu saja! Tapi yang paling penting kan rasa percaya diri, Fardhan. Kalau kita bilang 'aku pasti bisa', dunia akan tunduk!" seru Hafiz terkekeh.

Fardhan memandangi langit sore yang mulai memerah. Kalimat Hafiz mengingatkannya pada masa lalu. Namun baginya kini, ada kalimat yang jauh lebih sakral dan bertenaga daripada sekadar motivasi kosong. Sebuah peristiwa pemicu kecil telah menanamkan kebiasaan baru dalam hidupnya: memadukan keringat ikhtiar dengan kerendahan hati tawakal.

°˖✧✿✧˖°

Seminggu kemudian, gedung aula serbaguna di pusat kota kecamatan tampak ramai oleh ratusan siswa, guru, dan pendamping dari puluhan sekolah menengah pertama se-kabupaten. Suara riuh gemuruh percakapan bersahutan di bawah atap gedung yang tinggi. Spanduk besar bertuliskan “Lomba Cerdas Cermat Sains dan Agama Tingkat Kabupaten” terbentang anggun di panggung utama.

Fardhan berdiri di balik panggung bersama tim sekolahnya. Jemarinya saling bertautan, terasa sedikit dingin oleh gumpalan rasa gugup yang wajar. Di sudut lain aula, ia melihat Hafiz sedang membolak-balik catatan dengan wajah yang tampak tegang, dikelilingi oleh teman-teman sekolahnya yang memberikan sorakan dorongan.

Ustaz Ahmad Fathan, yang mendampingi Fardhan hari itu, menepuk pelan punggung Fardhan. "Gugup, Fardhan?"

Fardhan mengangguk jujur. "Sedikit, Ustaz. Soal-soal di tingkat kabupaten pasti jauh lebih rumit daripada tingkat desa."

"Ingat prinsip yang selalu diajarkan di surau," bisik Ustaz Ahmad lembut. "Rasa gugup itu tanda bahwa kamu menghargai proses ini. Tapi jangan biarkan rasa takut gagal menguasai dadamu. Apa kalimat yang selalu kamu bisikkan di dalam hati?"

Fardhan memejamkan mata sejenak, menghirup udara dingin aula dalam-dalam, lalu berbisik pelan: "Masya Allah, la quwwata illa billah... Aku akan berusaha sekuat yang aku bisa, dan biarlah Allah yang menentukan penutupnya."

Saat kalimat itu diucapkan, perlahan-lahan keheningan yang menenangkan menjalar di seluruh aliran darahnya. Titik plot pertama dalam perjuangannya dimulai saat namanya dipanggil oleh pembawa acara untuk memasuki babak penyisihan pertama.

"Peserta nomor urut 07, Fardhan Ar Rimbai dari SMP Negeri 2 Desa Rimbai, silakan mengambil tempat di meja tiga!" seru pembawa suara dari pengeras suara gedung.

Fardhan melangkah mantap menuju panggung. Kakinya tidak lagi gemetar. Di atas meja kayu lapis bercat putih itu, terdapat sebuah tombol bel kuningan dan mikrofon. Di hadapannya, tiga orang dewan juri berwajah tegas duduk berderet mengawasi setiap gerak-gerik peserta.

Babak penyisihan berlangsung dengan sangat sengit. Soal demi soal dilemparkan oleh dewan juri—mulai dari matematika terapan, hukum fisika dasar, hingga tafsir ayat-ayat Al-Qur'an tentang alam semesta. Fardhan menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan tenang dan teratur. Ketika peserta lain terburu-buru menekan tombol bel hingga melakukan kesalahan fatal, Fardhan memilih mendengarkan seluruh kalimat soal hingga tuntas sebelum mengeksekusi jawabannya.

"Soal nomor sepuluh untuk babak rebutan!" seru dewan juri utama. "Sebutkan bunyi Surah Al-Kahfi ayat 39 beserta korelasi prinsip sains modern tentang hukum sebab-akibat dalam pembentukan rezeki!"

Jantung Fardhan berdegup kencang. Itu adalah ayat yang menjadi fondasi hidupnya sejak kecil di bawah bimbingan Kiai Zulfikar. Tanpa ragu, Fardhan menekan tombol bel dengan cepat.

Tiiiing!

"Meja tiga, silakan!" tunjuk juri.

Fardhan menarik mikrofon dekat ke bibirnya. Suaranya bergema nyaring dan bening di seluruh ruangan aula yang mendadak hening:

"Wa lau laa idz dakhal ta jannataka qulta maa syaa-Allah, laa quwwata illaa billaah. Ayat ini menegaskan bahwa segala keberhasilan fisik dan materi adalah atas kehendak Allah. Dalam korelasi sains, ikhtiar manusia adalah bentuk penerapan hukum sebab-akibat melalui usaha fisik yang terukur, namun hasil akhirnya tunduk pada hukum variabel Mahakuasa yang tidak terbatas oleh rumus matematis manusia."

Dewan juri saling berpandangan, lalu mengangguk-angguk puas dengan senyum terkembang. "Nilai seratus sempurna untuk meja tiga!"

Sorak tebal penonton membahana di tribun aula. Fardhan berhasil meloloskan sekolahnya menuju babak final bersama dua sekolah favorit lainnya dari pusat kota.

°˖✧✿✧˖°

Memasuki babak final yang dijadwalkan usai istirahat Dzuhur, ketegangan makin memuncak. Dua tim lawan Fardhan di babak final adalah sekolah-sekolah unggulan yang langganan menjuarai kompetisi tingkat provinsi. Mereka didampingi oleh tim pelatih khusus dan fasilitas belajar yang serba lengkap.

Lihat selengkapnya