SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

KALIMAH THOYIBAH

Masya Allah, La Quwwata Illa Billah---o0o---

Angin sore berembus pelan di pelataran surau desa, membawa aroma tanah basah dan dedaunan jati yang gugur. Di sudut teras berbahan kayu ulin yang mulai licin, Fardhan Ar Rimbai yang baru berusia empat belas tahun duduk melempar pandang ke arah hamparan sawah. Di atas pangkuannya, sebuah piala kayu bersudut tumpul dan piagam penghargaan juara harapan dua tergeletak tanpa gairah.

Sore itu, keputusasaan merayap pelan di dada Fardhan. Lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat kabupaten yang baru saja diikutinya tidak berujung pada kemenangan manis yang ia impikan selama berbulan-bulan.

"Mengapa wajahmu ditekuk seperti itu, Fardhan?" tegur sebuah suara berat yang sangat akrab di telinganya.

Fardhan menoleh. Abdul Karim Ar Rimbai, ayahnya, melangkah mendekat seraya membawa sebuah sarung tenun yang baru saja dilipat. Lelaki tua itu duduk bersila di samping putranya.

"Fardhan kalah, Ayah," cicit Fardhan pelan, menundukkan kepala dalam-dalam. "Hanya juara harapan dua. Padahal Fardhan sudah latihan tiap malam sampai suara Fardhan habis."

"Apakah kamu sudah berusaha sekuat tenagamu selama persiapan kemarin?" tanya Abdul Karim seraya menatap teduh wajah putranya.

"Sudah, Ayah. Fardhan tidak pernah absen latihan," jawab Fardhan dengan tenggorokan bergetar menahan kecewa. "Fardhan juga selalu membaca doa yang Ayah ajarkan sebelum naik ke atas panggung."

"Kalimat apa yang selalu kamu baca di dalam hati itu, Nak?" pancing ayahnya lembut.

Fardhan meremas pinggiran piagam kertas di pangkuannya. "Masya Allah, la quwwata illa billah."

"Lantas, jika kamu sudah membaca kalimat agung itu, mengapa hatimu masih diselimuti rasa sesak dan kecewa yang berlebihan?" tanya Abdul Karim lagi, suaranya tenang tanpa ada nada menyalahkan.

Fardhan terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba mencerna pertanyaan sang ayah. "Fardhan kira... kalau Fardhan sudah berusaha keras dan membacanya dengan sungguh-sungguh, Allah pasti akan memberikan Juara Pertama untuk Fardhan."

Abdul Karim tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Fardhan dengan lembut. "Di situlah letak kelirumu, Fardhan. Kamu mengira kalimat itu adalah mantra untuk memaksa takdir menuruti kemauanmu."

"Maksud Ayah bagaimana?" tanya Fardhan, matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata sang ayah.

"Kalimat itu bukan jaminan bahwa kamu akan selalu menjadi pemenang di mata manusia," sahut Abdul Karim tegas namun penuh kasih. "Mari kita temui Kiai Zulfikar di dalam surau. Beliau yang lebih paham menjelaskan hakikat kalimat yang sedang kamu pelajari ini."

Fardhan menyapu air mata tipis di sudut matanya. Ia mengangguk pelan, lalu berdiri mengikuti langkah kaki ayahnya memasuki pintu surau yang terbuka lebar.

°˖✧✿✧˖°

Di dalam ruangan surau yang adem dan beraroma wangi kayu cendana, Kiai Zulfikar Al-Faruqi sedang duduk bersandar pada tiang utama. Di sampingnya, Ustaz Ahmad Fathan yang masih muda tampak sedang menyusun beberapa kitab kuning di atas meja kecil.

"Assalamu’alaikum, Kiai, Ustaz," salam Abdul Karim seraya membungkuk hormat, diikuti Fardhan di belakangnya.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Pak Karim, Fardhan. Duduklah," panggil Kiai Zulfikar dengan senyum hangat yang menentramkan jiwa.

Ustaz Ahmad Fathan melirik piala kayu di tangan Fardhan, lalu tersenyum ramah. "Bagaimana hasil lombanya tadi siang di kota kabupaten, Fardhan? Kamu mendapat juara, bukan?"

"Fardhan hanya dapat juara harapan dua, Ustaz Ahmad," jawab Fardhan lirih, rasa malu kembali merayap di dadanya saat menyerahkan piala itu untuk ditunjukkan.

"Masya Allah, juara harapan dua tingkat kabupaten itu pencapaian yang sangat luar biasa untuk anak usia empat belas tahun!" puji Ustaz Ahmad Fathan dengan mata berbinar.

Namun, Fardhan menggelengkan kepala pelan. "Tapi Fardhan tidak menjadi juara pertama, Ustaz. Padahal target Fardhan adalah membawa piala kemenangan utama untuk surau kita."

Kiai Zulfikar membetulkan letak kacamata tuanya, lalu menatap Fardhan penuh kecermatan. "Fardhan, apakah kamu merasa kecewa pada dirimu sendiri, atau kamu merasa kecewa pada keputusan Allah?"

Pertanyaan Kiai Zulfikar yang menusuk langsung ke dalam kalbu membuat Fardhan tertegun. Ia menundukkan pandangannya ke lantai kayu.

"Saya... saya bingung, Kiai," aku Fardhan jujur. "Setiap kali latihan, saya selalu membaca Masya Allah, la quwwata illa billah. Saya percaya tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Tapi kenapa Allah tidak memberikan kemenangan itu kepada saya?"

Kiai Zulfikar mengangguk-angguk pelan, seolah sudah menduga pergolakan batin yang sedang dialami pemuda tanggung di hadapannya itu.

"Duduklah lebih dekat, Fardhan," pinta Kiai Zulfikar.

Fardhan bergeser maju hingga lututnya hampir menyentuh meja kecil di depan sang Kiai.

"Kalimat Surah Al-Kahfi ayat 39 yang kamu pegang itu bukan mantra kebal dari kegagalan," ujar Kiai Zulfikar dengan suara baritonnya yang mantap. "Banyak orang membaca kalimat itu, tetapi hatinya masih menuntut agar dunia berjalan sesuai dengan skenario kepalanya sendiri."

"Bukankah kalau kita bertawakal, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita, Kiai?" tanya Fardhan ragu.

"Benar, Allah pasti memberikan yang terbaik," jawab Kiai Zulfikar. "Namun 'yang terbaik' menurut ukuran Allah sering kali berbeda dengan 'yang diinginkan' oleh nafsu manusia."

Ustaz Ahmad Fathan menimpali dengan lembut, "Fardhan, saat kamu menuntut kemenangan sebagai satu-satunya bentuk kebaikan, saat itulah kamu sedang mendikte Allah."

"Mendikte Allah?" ulang Fardhan dengan nada tak percaya.

"Ya," tegas Kiai Zulfikar. "Tawakal itu letaknya di dalam hati setelah ikhtiar maksimal dilakukan. Jika hasil yang keluar tidak sesuai dengan impianmu, namun hatimu tetap tenang dan bersyukur, itulah bukti tawakal yang sejati."

°˖✧✿✧˖°

Konflik batin di dalam dada Fardhan makin bertambah pelik. Sepanjang malam setelah perbincangan di surau, Fardhan tidak bisa tidur dengan tenang. Kalimat nasihat dari Kiai Zulfikar bergema berulang kali di telinganya, berbenturan dengan rasa gengsi dan kecewa yang belum sepenuhnya padam.

Di teras rumahnya yang sepi, Fardhan duduk menatap bulan separuh yang tertutup kabut tipis. Adiknya, Raihan Ar Rimbai yang berusia sepuluh tahun, keluar dari kamar seraya mengucek matanya yang mengantuk.

"Bang Fardhan belum tidur?" tanya Raihan seraya duduk di samping abangnya.

"Belum, Raihan. Abang masih memikirkan perlombaan tadi," jawab Fardhan pelan.

"Piala Bang Fardhan bagus, kok. Raihan suka melihatnya," tutur Raihan polos seraya memegang piala kayu milik abangnya.

Fardhan tersenyum tipis, mengelus rambut adiknya. "Ini cuma piala harapan dua, Raihan. Bukan piala juara utama yang Abang janjikan pada Ibu dan Ayah."

"Tapi Ibu tadi bilang, Ibu bangga sekali sama Bang Fardhan," kata Raihan jujur. "Ibu bilang, Bang Fardhan sudah berjuang keras dan membaca Al-Qur'an dengan sangat indah tadi siang."

Lihat selengkapnya