Mimpi yang Ditertawakan
---o0o---
Matahari siang membakar pelataran Asrama Remaja Desa di pinggir kota kecamatan dengan terik yang menyengat kulit. Di usia lima belas tahun, Fardhan Ar Rimbai tumbuh menjadi remaja berpostur tegap dengan garis wajah yang makin tegas. Namun, matanya yang teduh masih menyimpan kesederhanaan pemuda surau dari Desa Rimbai. Di pangkuannya, tergelar sebuah buku catatan lusuh bergaris yang dipenuhi corak diagram, coretan angka, dan susunan kalimat bertuliskan: “Pendidikan Tinggi & Usaha Mandiri Berbasis Syariah”.
Di sampingnya, duduk Hafiz Al-Manshur yang sedang mengunyah es lilin, merapatkan duduknya seraya mengintip isi catatan Fardhan.
"Fardhan, kamu sedang menulis apa sih dari tadi?" tanya Hafiz penasaran seraya menunjuk lembaran bergambar itu.
Fardhan menengadahkan kepala, menyapu keringat tipis di dahinya, lalu tersenyum tipis. "Ini rancangan mimpiku, Hafiz. Aku ingin melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi terbaik di ibu kota, lalu membangun usaha perdagangan mandiri yang bisa membuka lapangan kerja untuk warga desa kita."
Hafiz tertegun sejenak, lalu mendengus pelan, setengah tertawa. "Kuliah di ibu kota? Punya usaha sendiri? Fardhan, kita ini anak desa. Bisa tamat sekolah menengah dengan beasiswa saja sudah seperti mukjizat kecil untuk keluarga kita!"
"Memangnya kenapa kalau kita anak desa, Hafiz?" balas Fardhan dengan suara tenang namun serius. "Mimpi itu tidak pernah menanyakan dari mana asal tanah tempat kita dilahirkan."
"Bukan begitu, Fardhan," celutuk sebuah suara berat dari arah belakang mereka.
Dzulfikar, seorang remaja kota yang berpenampilan serba mentereng dan dikenal angkuh karena latar belakang keluarganya yang berkecukupan, berjalan mendekati mereka bersama dua orang pengikutnya. Dzulfikar melempar tatapan meremehkan ke arah buku catatan Fardhan.
"Mimpi itu butuh modal, Fardhan!" cibir Dzulfikar seraya menyilangkan tangan di dada. "Orang seperti kamu, yang makan sehari-hari di asrama saja harus mengandalkan kuota beasiswa, tidak usah bermimpi terlalu tinggi. Nanti kalau jatuh, sakitnya bikin kamu gila!"
"Aku tidak menggantungkan harapanku pada modal manusia, Dzulfikar," tegas Fardhan, menatap lurus ke dalam mata Dzulfikar tanpa gentar.
"Alah! Sok puitis kamu!" tawa Dzulfikar pecah, memancing gelak tawa kawan-kawannya di pelataran. "Lihat anak-anak! Anak tukang cangkul dari Desa Rimbai ini bercita-cita mau jadi pengusaha sukses dan kuliah di ibu kota! Mau bayar uang kuliah pakai apa? Pakai daun pisang?"
Cemoohan itu bergema di sudut pelataran asrama, menjadi sebuah peristiwa pemicu yang menorehkan luka tersembunyi di dalam dada Fardhan muda.
°˖✧✿✧˖°
Gema tawa Dzulfikar dan teman-temannya perlahan menyurut seiring langkah kaki mereka yang menjauh menuju ruang rekreasi asrama. Namun, kata-kata tajam yang baru saja terlontar itu meninggalkan bekas yang cukup menganga dalam pikiran Fardhan. Ia memandangi buku catatannya yang penuh dengan impian-impian besar tersebut, lalu perlahan menutupnya dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Sudahlah, Fardhan... Jangan dimasukkan ke hati," hibur Hafiz seraya menepuk-nepuk bahu Fardhan dengan raut bersalah. "Ucapan Dzulfikar memang kasar, tapi... ada benarnya juga. Kita harus realistis. Orang tua kita tidak punya tabungan ratusan juta untuk biaya kuliah di kota besar."
Fardhan menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa menyumbat tenggorokan. "Apakah aku memang terlalu tidak tahu diri ya, Hafiz? Apakah anak dari keluarga sederhana seperti keluargaku tidak berhak bercita-cita mengubah nasib?"
"Bukan tidak berhak, Fardhan," jawab Hafiz pelan. "Hanya saja... kenyataan hidup ini kadang terlalu keras untuk sekadar dilawan dengan mimpi."
Sore itu, rasa ragu dan minder yang belum pernah dirasakan Fardhan sebelumnya mulai merayap naik, menggerogoti rasa percaya dirinya. Titik plot pertama dalam pergulatan batinnya tercipta ketika bayang-bayang keterbatasan ekonomi keluarga seolah menjadi tembok raksasa yang mustahil untuk dilompati.
Setelah menyelesaikan shalat Asar di mushala asrama, Fardhan tidak segera kembali ke kamar. Ia memilih berjalan kaki menyusuri jalan setapak sejauh dua kilometer menuju tepi sungai kecil tempat ia biasa menyendiri. Fardhan duduk di atas sebuah batu kali yang rata, melempar kerikil-kerikil kecil ke dalam aliran air yang jernih.
Di benaknya, bayangan wajah ayahnya, Abdul Karim, yang bekerja membanting tulang di bawah terik matahari desa, serta ibunya, Maryam, yang menghemat tiap lembar rupiah untuk kebutuhan sehari-hari, terus berkelebat. Bisikan ragu menyiksanya: Apakah aku hanya akan menambah beban orang tuaku jika aku memaksakan diri mengejar impian tinggi ini?
Saat sedang terbenam dalam lamunan yang dalam, suara derap langkah kaki yang teratur mendekatinya dari balik rimbunnya pohon bambu.
"Sedang menimbang beratnya dunia, Fardhan?" sapa sebuah suara ramah yang teramat akrab di telinganya.
Fardhan menoleh cepat. Ustaz Ahmad Fathan berdiri di sana dengan senyum hangat, memegang sebuah tongkat kayu kecil dan tas kain yang tersandang di bahunya.
"Ustaz Ahmad?" seru Fardhan terkejut seraya bangkit berdiri dan mencium tangan gurunya itu. "Mengapa Ustaz ada di sini?"
"Kiai Zulfikar memintaku menjengukmu di asrama kota untuk menyatukan beberapa berkas kitab," terang Ustaz Ahmad seraya duduk di samping Fardhan di atas batu kali. "Tapi Hafiz bilang kamu sedang jalan-jalan ke tepi sungai dengan wajah muram. Ada apa, Fardhan?"
Fardhan menunduk, memandangi pusaran air sungai di bawah kaki mereka. "Ustaz... apakah salah jika seorang anak desa seperti Fardhan bermimpi untuk kuliah tinggi dan punya usaha besar?"
°˖✧✿✧˖°
Ustaz Ahmad Fathan menatap Fardhan dengan pandangan yang teduh, menyimak gurat kecemasan yang terpancar di wajah murid mudanya itu.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu, Fardhan? Siapa yang telah mengusik ketenangan jiwamu?" tanya Ustaz Ahmad lembut.
Fardhan menghela napas, menceritakan peristiwa di pelataran asrama tadi siang tentang cemoohan Dzulfikar dan keraguan yang disampaikan oleh Hafiz. "Fardhan merasa... mungkin Fardhan yang kurang realistis, Ustaz. Dzulfikar benar, modal kami tidak ada. Uang kuliah di ibu kota sangat mahal, dan membangun usaha butuh dana yang tidak sedikit. Fardhan takut mimpi ini cuma akan jadi beban untuk Ayah dan Ibu."
Ini menjadi titik tekan pertama bagi Fardhan, sebuah fase di mana ia diuji untuk memilih: menyerah pada narasi keputusasaan yang diciptakan orang lain, atau bertahan mengukir keyakinan di atas ketidakpastian.
Ustaz Ahmad tersenyum tipis, merangkul bahu Fardhan dengan erat. "Fardhan, dengarkan Ustaz baik-baik. Manusia sering kali mengukur masa depan orang lain menggunakan penggaris keterbatasan mereka sendiri. Ketika seseorang bilang mimpimu terlalu tinggi, sebenarnya merekalah yang sedang mengaku bahwa jiwa mereka terlalu penakut untuk terbang tinggi."