SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

SEPEDA TUA

Sepeda Tua dan Sebuah Harapan

---o0o---

Pagi masih berupa remang kebiruan ketika angin dingin membelus dari celah-celah dinding papan rumah keluarga Ar Rimbai. Di usia enam belas tahun, Fardhan Ar Rimbai telah tumbuh menjadi pemuda yang kokoh. Otot-otot lengannya mengeras oleh kebiasaan mengangkut hasil bumi, dan sorot matanya makin memancarkan kedalaman jiwa yang matang. Di pelataran samping rumah, Fardhan sedang berlutut di tanah, memegang kunci pas dan kain lap lusuh berpelumas. Di hadapannya terbaring sebuah sepeda jengki tua berwarna hijau legam yang telah terkelupas catnya di sana-sini.

Di teras depan, Abdul Karim Ar Rimbai baru saja meletakkan sekeranjang besar hasil panen mentimun dan terung. Bahunya yang mulai membongkok tampak agak tegang usai mengangkat beban berat itu dari kebun di kaki bukit.

"Fardhan, apakah rantai sepedanya sudah bisa dipasang?" tanya Abdul Karim seraya menyapu peluh di dahi dengan ujung sarungnya.

Fardhan mendongak, memutar pedal sepeda tua itu hingga roda belakangnya berputar memperdengarkan derit besi yang berisik namun lancar. "Sudah, Ayah! Rantainya sudah Fardhan lumasi dengan oli bekas, rem belakangnya juga sudah Fardhan kencangkan paku klemnya."

"Alhamdulillah," ujar Abdul Karim tersenyum lega. "Sepeda jengki bekas ini memang sudah tua sekali, tapi kalau tidak ada sepeda ini, Ayah harus memikul keranjang hasil panen berjalan kaki tiga kilometer ke pasar kecamatan setiap pagi."

Fardhan berdiri, mengusap tangannya yang berlumur oli hitam pada kain lap. "Sepeda ini tidak tua, Ayah. Sepeda ini sakriik perjuangan kita. Fardhan janji, selagi Fardhan ada di desa sebelum berangkat kuliah ke kota, Fardhan yang akan mengayuh sepeda ini membawa hasil panen Ayah ke pasar setiap subuh."

Dari ambang pintu dapur, Maryam melangkah keluar membawa nampan berisi dua cangkir teh tubruk hangat dan piring seng berisikan singkong goreng yang masih ngebul.

"Minum dulu tehnya, Fardhan, Ayah," sapa Maryam penuh kehangatan. "Melihat kalian berdua merawat sepeda itu, Ibu jadi teringat waktu Fardhan masih kecil dulu, menangis minta dibelikan mobil-mobilan kayu di pasar."

Fardhan tertawa kecil, melirik ayahnya. "Ibu masih ingat saja. Waktu itu Fardhan belum paham betapa sulitnya Ayah mencari uang tiga ribu rupiah."

"Tapi sekarang anakmu ini sudah enam belas tahun, Bu," timpal Abdul Karim bangga. "Dia tidak cuma paham arti mencari uang, tapi dia sendiri yang mengumpulkan uang saku hasil mengajar anak-anak di surau dan membantu Pak Khalid mengangkut beras untuk membeli sepeda bekas ini."

"Sepeda ini murah, Bu, cuma tujuh puluh ribu rupiah," kata Fardhan seraya menyesap teh hangatnya. "Tapi buat Fardhan, ini adalah langkah awal kemandirian Fardhan sebelum melangkah ke kota besar nanti."

Peristiwa pemicu sederhana itu hadir ketika Fardhan menyadari bahwa membantu beban ayahnya bukan lagi sekadar kewajiban anak, melainkan sebuah bentuk baktinya sebelum ia benar-benar pergi merantau.

°˖✧✿✧˖°

Matahari pagi mulai menyembul di ufuk timur, membiaskan sinar keemasan yang menembus kabut tipis Desa Rimbai. Fardhan mengikat dua keranjang bambu besar di sisi kanan dan kiri boncengan belakang sepeda tua itu. Keranjang itu padat berisi terung manis, mentimun segar, dan beberapa ikat bayam hasil keringat ayahnya.

"Fardhan, hati-hati mengayuhnya. Jalanan menuju pasar kecamatan agak menurun dan berkerikil tajam," pesan Abdul Karim seraya membantu memegang stang sepeda.

"Siap, Ayah. Fardhan berangkat dulu. Assalamu’alaikum!" seru Fardhan seraya menaiki pedal sepeda dan mulai mengayuh perlahan.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah... Hati-hati, Nak!" sahut Maryam melambaikan tangan dari pelataran rumah.

Roda besi sepeda tua itu berputar menembus jalanan desa yang berdebu. Suara derit keranjang bambu dan dentang besi sepeda menjadi musik pengiring perjalanan pagi Fardhan. Mengayuh sepeda penuh beban berat di jalanan menanjak dan menurun membutuhkan stamina dan konsentrasi tinggi. Peluh bening mulai membasahi kaos kusam dan kening Fardhan, namun senyum kepuasan tak pernah lepas dari bibirnya.

Titik plot pertama terjadi ketika Fardhan tiba di persimpangan jalan raya kecamatan. Di sana, lalu lintas pagi mulai ramai oleh sepeda motor, angkutan umum, dan mobil-mobil pribadi warga kota.

Di dekat tugu persimpangan, Fardhan terpaksa berhenti karena rantai sepedanya mendadak terlepas akibat guncangan jalanan berlubang. Keranjang beban yang berat membuat sepeda itu hampir terguling ke selokan jika Fardhan tidak menahannya dengan sekuat tenaga menggunakan kedua kakinya.

"Aduh, lepas lagi rantainya," cicit Fardhan seraya menyandarkan sepeda pada tiang tugu.

Saat Fardhan berlutut untuk memasangkan kembali rantai yang kotor itu, sebuah mobil minibus mengilap berhenti di sampingnya. Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan sosok Dzulfikar yang duduk santai di jok belakang bersama ayahnya yang seorang pengusaha terpandang di kecamatan.

"Eh, lihat siapa ini!" seru Dzulfikar dengan nada ejekan yang sangat jelas. "Anak jenius penerima beasiswa ternyata sedang jadi tukang sayur keliling!"

Fardhan mendongak, menyapu peluh di dahinya dengan lengan baju. "Selamat pagi, Dzulfikar. Mau berangkat ke sekolah?"

Dzulfikar tertawa sinis, menunjuk sepeda tua Fardhan yang penuh lumuran oli dan keranjang sayur. "Fardhan, Fardhan... kamu ini calon mahasiswa ibu kota atau pemulung besi tua? Masih zaman ya mengayuh sepeda rombeng begini hanya untuk jualan terung?"

"Sepeda ini sangat berguna untuk membantu ayahku, Dzulfikar," jawab Fardhan tenang, tangannya tetap telaten memasukkan rantai ke gigi roda. "Halal dan tidak merugikan siapapun."

Ayah Dzulfikar dari dalam mobil melirik Fardhan sepintas, lalu berkata pada anaknya, "Sudah, Dzul, tutup kacanya. Nanti kita terlambat rapat di kantor kabupaten."

"Dadah, Fardhan si Tukang Sayur! Jangan sampai sepedamu patah di tengah jalan ya!" cibir Dzulfikar seraya menaikkan kaca mobil yang perlahan melaju meninggalkan debu tebal di hadapan Fardhan.

°˖✧✿✧˖°

Fardhan berdiri mengibaskan debu jalanan dari bajunya. Jemarinya penuh dengan oli hitam kental. Sindiran Dzulfikar tidak membuatnya marah, tetapi gumpalan rasa lelah fisik dan ujian mentalitas sempat mengusik relung hatinya.

Ia memandangi sepeda tua itu, lalu memandangi keranjang sayur milik ayahnya. Ada desiran halus ketidaknyamanan yang mencoba menggoyahkan keteguhannya. Mengapa di saat anak-anak lain seusianya menikmati masa remaja dengan kendaraan bagus dan baju bersih, ia harus berdarah-darah mengayuh sepeda tua berbeban berat di jalanan berdebu?

Ini menjadi titik tekan pertama bagi Fardhan. Sebuah momen di mana gengsi remaja berusia enam belas tahun diuji secara nyata di hadapan publik.

Fardhan melanjutkan kayuhannya menuju Pasar Kecamatan. Di lorong pasar yang sempit dan becek, Fardhan menurunkan keranjang-keranjang sayurnya di lapak Pak Khalid Al-Basri, seorang pedagang grosir dermawan yang menjadi langganan tetap ayahnya.

"Assalamu’alaikum, Pak Khalid," sapa Fardhan seraya menurunkan keranjang beban.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah! Eh, Fardhan!" sambut Pak Khalid dengan senyum hangat melingkupi wajahnya yang teduh. "Kamu sendiri yang mengantar hari ini? Mana ayahmu?"

"Ayah sedang mengolah tanah untuk tanam bibit baru di kebun, Pak. Jadi Fardhan yang gantikan bawa sayur ke pasar," terang Fardhan seraya menyapu keringat di lehernya.

Pak Khalid memperhatikan jemari Fardhan yang hitam berlumur oli dan wajahnya yang berpeluh. Pedagang tua yang bijaksana itu menghampiri Fardhan, menepuk bahu tegap pemuda itu dengan ketulusan yang mendalam.

Lihat selengkapnya