
Pertolongan yang Tak Disangka
---o0o---
Matahari sore memanggang atap seng gedung SMA Negeri dengan hawa gerah yang menusuk ubun-ubun. Bel tanda kepulangan sekolah telah berdering lima belas menit yang lalu, meninggalkan lorong kelas yang berangsur senyap dan berdebu. Namun, langkah kaki Fardhan justru memaku ragu tepat di depan pintu ruang bimbingan dan administrasi.
“Fardhan, kemari sebentar, Nak. Masuklah ke dalam,” panggil Pak Marwan, wali kelas sekaligus guru bimbingan konseling yang terkenal ramah.
Fardhan meremas tali ransel kainnya yang sudah mulai robek di bagian kelim bawah. “Selamat sore, Pak Marwan. Ada apa memanggil saya kemari?”
“Duduklah dulu di kursi depan meja Bapak ini,” tutur pria berkacamata tebal itu seraya menyodorkan selembar map karton kuning.
Fardhan duduk di ujung kursi kayu jati yang berderit pelan. Pandangannya langsung terarah pada secarik kertas bermaterai dengan stempel merah menyala di pojok kanan atas.
“Apakah ini mengenai berkas verifikasi kelulusan saya, Pak?” tanya Fardhan dengan tenggorokan yang mendadak kering.
“Bukan sekadar berkas administratif biasa, Dhan,” desah Pak Marwan lembut namun sarat beban pikiran. “Ini surat ketetapan mutlak dari bendahara sekolah dan dewan komite. Ada tunggakan iuran semester akhir, biaya uji kompetensi kejuruan teknik, serta uang muka pendaftaran politeknik negeri kemarin.”
“Berapa total semuanya yang harus dilunasi, Pak?”
“Tiga juta delapan ratus ribu rupiah,” jawab Pak Marwan lugas.
Fardhan menelan saliva getir. Nominal itu bagaikan sebongkah batu kali yang menghantam dadanya tanpa ampun.
“Bukankah batas pelunasan biasanya sampai seminggu menjelang wisuda bulan depan, Pak Marwan?”
“Tahun ini aturannya diperketat oleh pihak dinas, Dhan. Jumat pekan ini, tepat pukul tiga sore, seluruh laporan verifikasi kuota harus diserahkan ke politeknik. Jika tidak terselesaikan, statusmu sebagai peraih rekomendasi beasiswa otomatis dialihkan kepada cadangan berikutnya.”
“Jumat pekan ini? Itu artinya hanya tersisa empat hari lagi, Pak!” seru Fardhan dengan suara tercekat.
“Bapak tahu situasi keluargamu sangat berat sejak kepergian almarhum ayahmu,” ucap Pak Marwan prihatin. “Tapi sekolah terikat aturan sistemik terpusat. Usahakanlah semaksimal mungkin, Dhan. Nilai rapormu sangat cemerlang, sungguh sayang jika pupus di garis akhir.”
“Baik, Pak. Saya akan coba sampaikan pada Ibu nanti malam di rumah,” bisik Fardhan lirih seraya menerima amplop cokelat tersebut.
Di koridor luar, Aris sudah berdiri bersandar pada pilar beton sambil mengunyah cilok dingin kesukaannya.
“Bagaimana hasil pertemuannya, Dhan? Wajahmu pucat pasi begitu,” tegur Aris cemas.
“Aku harus melunasi tiga juta delapan ratus ribu rupiah sebelum hari Jumat sore, Ris,” keluh Fardhan lesu.
“Astaga! Tiga juta delapan ratus ribu dalam empat hari? Dari mana kamu bisa dapat uang sebanyak itu secepat kilat?”
“Itulah yang membuat kepalaku mau pecah. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengatakannya pada Ibu.”
“Ibumu sedang menggarap pesanan seragam pengajian, kan? Apakah tidak ada sisa uang muka di rumahmu?”
“Modal kainnya saja dibeli secara utang tempo di toko pasar baru, Ris. Untungnya paling cuma lima puluh ribu per potong. Kalau aku todongkan surat tagihan ini sekarang, Ibu pasti menangis lagi.”
“Kalau butuh bantuan tenaga buat cari pinjaman atau kerja serabutan, kabari aku ya, Dhan,” tawar Aris tulus menepuk bahunya.
“Terima kasih banyak, Ris. Sahabat terbaikku memang kamu.”
Fardhan mengayuh sepeda onthel tuanya melintasi jalan kampung berdebu. Rantai karatan berderak-derak mengikuti irama kayuhan kakinya yang berat. Angin senja menerpa wajah pemuda tujuh belas tahun itu, membawa aroma tanah kering.
Sesampainya di halaman rumah petak berdinding papan, telinga Fardhan disambut derit teratur mesin jahit Singer tua. Di ruang depan yang remang, tampak Ibu Nurjanah duduk membungkuk tekun di bawah pendar lampu pijar lima watt.
“Fardhan pulang, Bu,” sapa Fardhan seraya menyandarkan sepedanya di dinding bambu.
“Alhamdulillah. Tumben sore sekali pulangnya, Nak?” sambut Ibu sambil menyeka peluh di pelipis menggunakan kerudung kusamnya.
“Tadi ada pembekalan singkat dari Pak Marwan di sekolah, Bu,” jawab Fardhan seraya mencium takzim punggung tangan ibunya.
“Makanlah dulu, Nak. Ada tempe orek dan lalap daun singkong di bawah tudung saji bambu,” ujar Ibu tersenyum hangat.
“Ibu sudah makan siang?”
“Nanti saja, tanggung ini benangnya putus melulu.”
Fardhan menatap punggung kurus wanita itu dengan dada berdenyut perih. Di saku seragamnya, surat tagihan resmi berstempel merah itu terasa.
°˖✧✿✧˖°
Selepas adzan isya berkumandang dari musala seberang selokan, keheningan merayap di rumah mungil itu. Fardhan menaruh secangkir teh melati hangat di samping meja mesin jahit ibunya. Langkahnya ragu-ragu, namun kenyataan tak bisa lagi disembunyikan di balik saku seragamnya yang lusuh.
“Ibu, ada yang perlu Fardhan bicarakan sekarang,” ucap Fardhan pelan, memecah kesunyian malam.
Ibu meletakkan gunting kainnya ke nampan kaleng lalu mendongak menatap putranya lekat-lekat. “Ada apa, Dhan? Wajahmu tampak tegang sejak tiba dari sekolah tadi sore.”
Dengan tangan gemetar, Fardhan mengeluarkan amplop cokelat berstempel merah itu lalu membentangkannya di atas tumpukan kain perca.
“Surat apa ini, Fardhan?” tanya Ibu seraya meraba kacamata tuanya yang telah dieratkan benang nilon hitam.
“Surat tagihan administrasi kelulusan dan verifikasi kursi politeknik negeri, Bu. Totalnya tiga juta delapan ratus ribu rupiah. Harus diserahkan paling lambat hari Jumat pukul tiga sore.”
Mata Ibu menyapu deretan angka yang tercetak hitam tebal. Seketika itu juga, rona wajahnya pudar menjadi pucat pasi tanpa darah. Bibirnya bergetar.
“Tiga juta delapan ratus ribu rupiah... dalam tiga hari ke depan?” bisik Ibu tercekat di tenggorokan.
“Iya, Bu. Jika tidak lunas, kartu kelulusan ditahan dan rekomendasi beasiswa politeknik akan dicabut panitia pusat.”
Ibu terduduk menyandarkan punggungnya pada kursi kayu. Pandangannya kosong menatap lantai semen yang retak.
“Ya Allah, ya Rabbi... mengapa datangnya bersamaan seperti ini?” rintih Ibu menutup wajah dengan kedua telapak tangan kasarnya yang lelah.
“Apakah tabungan simpanan peninggalan almarhum Ayah di celengan kaleng masih ada, Bu?” tanya Fardhan cemas.
Ibu menggeleng lemah dengan air mata merembes di sela jemarinya. “Tabungan itu sudah habis tak tersisa bulan lalu, Dhan. Ibu pakai untuk melunasi biaya rumah sakit nenekmu sebelum beliau wafat di kampung. Sekarang uang tunai di dompet Ibu tidak sampai seratus ribu rupiah sama sekali.”
Pengakuan itu bagaikan palu godam yang meremukkan harapan Fardhan. Kamar depan seketika terasa mencekik napasnya.
“Kalau begitu, Fardhan batalkan saja kuliah politeknik, Bu,” tegas Fardhan tersumbat duka mendalam. “Fardhan tidak perlu kuliah. Fardhan akan langsung bekerja jadi kuli kasar di pasar induk!”