SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

DI SIMPAN DALAM DOA

Keinginan yang Disimpan dalam Doa

---o0o---

Angin malam di penghujung musim kemarau berembus perlahan, menggoyangkan daun-daun pohon nangka di pekarangan rumah kayu keluarga Ar Rimbai. Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter itu, sinar kuning temaram dari lampu minyak tanah menari-nari di atas permukaan dinding papan. Fardhan Ar Rimbai, yang kini genap berusia tujuh belas tahun, duduk bersila di atas tikar pandan yang mulai terkelupas di bagian pinggirnya.

Di hadapannya tergelar sebuah tas kain lusuh yang berisi tiga stel pakaian bersih, sebuah sarung tenun, dan mushaf Al-Qur'an kecil berpenutup kain hijau yang diberikan Kiai Zulfikar saat ia khatam pertama kali. Malam ini adalah malam terakhirnya tidur di bawah atap rumah kayu yang telah membesarkannya. Besok subuh, bus antarkota akan membawanya melintasi ratusan kilometer menuju kota besar, memulai lembaran hidup baru sebagai penerima beasiswa pendidikan tinggi dan wirausaha muda.

Jemari Fardhan meraba sampul sebuah buku catatan kecil beratap kulit sintesis berwarna cokelat tua. Buku itu adalah pemberian Ustaz Ahmad Fathan sebelum beliau berangkat mengajar di pesantren lain minggu lalu. Dengan menggunakan pulpen berujung runcing, Fardhan mulai membuka halaman pertama yang masih putih bersih.

Di luar kamar, terdengar langkah kaki yang pelan mendatangi pintu. Abdul Karim melangkah masuk, lalu duduk perlahan di sebelah putra sulungnya. Matanya yang mulai meredup memandangi setiap gerakan tangan Fardhan di atas kertas.

"Fardhan, kamu belum tidur, Nak?" sapa Abdul Karim dengan nada suara yang dalam dan serak.

Fardhan menoleh, mengoleskan senyum tipis seraya meletakkan pulpennya sebentar. "Belum, Ayah. Fardhan sedang merapikan tas dan mencatat beberapa hal di buku ini."

"Apa yang sedang kamu tulis malam-malam begini?" tanya Abdul Karim seraya mendekatkan dadanya pada meja kecil Fardhan.

Fardhan meraba permukaan halaman buku catatannya. "Ini adalah lembaran cita-cita Fardhan, Ayah. Ustaz Ahmad pernah berpesan, impian yang hanya disimpan di dalam kepala mudah bergoyang oleh angin cobaan, tapi impian yang dituliskan dan diikat dengan doa akan menjadi janji antara hamba dengan Penciptanya."

"Coba Ayah dengar, apa saja yang anak Ayah tuliskan di buku itu?" ujar Abdul Karim dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

Fardhan mendekatkan buku itu ke arah sinar lampu minyak, lalu membaca poin pertama yang ditulisnya dengan huruf tebal dan rapi:

"Satu: Membahagiakan dan mengangkat derajat Ayah dan Ibu di dunia dan akhirat."

Abdul Karim terdiam seketika. Tenggorokannya terasa menyempit oleh gumpalan rasa haru yang mendadak menyeruak.

"Fardhan," bisik Abdul Karim, jemarinya yang kasar dan dipenuhi kapalan bekas cangkul merengkuh jemari Fardhan. "Melihatmu tumbuh menjadi anak yang taat pada agama dan menghormati orang tua saja sudah menjadi kebahagiaan terbesar bagi Ayah dan Ibu. Kamu tidak punya utang apa-apa pada kami."

"Tidak, Ayah," potong Fardhan dengan keteguhan yang lembut. "Ayah sudah memeras keringat di bawah terik matahari bertahun-tahun demi menyuapkan sebutir nasi yang halal ke mulut Fardhan. Ibu sudah mengorbankan masa mudanya merawat Fardhan. Fardhan ingin kelak Ayah dan Ibu tidak perlu lagi bekerja membanting tulang di usiamu yang makin tua."

Peristiwa pemicu itu terukir indah dalam keheningan malam desa, di mana niat murni seorang anak merantau ditegaskan bukan untuk mengejar kemewahan pribadi, melainkan demi berbakti pada kedua orang tuanya.

°˖✧✿✧˖°

Maryam masuk ke dalam kamar membawa segelas air hangat dan piring seng berisi pisang goreng hangat. Ia meletakkannya di samping meja Fardhan, lalu ikut duduk di sisi lain tikar pandan. Matanya sembap, menahan genangan air mata yang siap tumpah kapan saja.

"Ibu dengar kalian sedang bicara soal cita-cita," ujar Maryam seraya mengusap lembut bahu tegap Fardhan. "Apa poin berikutnya yang kamu tulis, Nak?"

Fardhan memandangi ibunya, lalu melanjutkannya membaca poin kedua di buku kecilnya:

"Dua: Memiliki pekerjaan dan sumber penghidupan yang benar-benar halal, jujur, serta jauh dari riba dan subhat."

Maryam mengangguk-angguk penuh kesyukuran. "Alhamdulillah... Itu yang paling penting, Fardhan. Lebih baik makan nasi garam tapi hasil halal, daripada makan daging lezat tapi didapat dari jalan yang dibenci Allah."

"Iya, Bu," kata Fardhan mantap. "Di kota besar nanti, Fardhan tahu godaan uang cepat dan cara-cara curang dalam berbisnis pasti sangat banyak. Makanya Fardhan mengunci niat ini dari sekarang."

"Lalu apa poin ketigamu, Fardhan?" tanya Abdul Karim melirik baris ketiga di lembaran kertas tersebut.

Fardhan membaca poin ketiga yang ditulisnya:

"Tiga: Membangun usaha mandiri berbasis syariah yang kuat, agar dapat membuka lapangan kerja bagi warga Desa Rimbai dan orang-orang yang membutuhkan."

Titik plot pertama tercipta saat Fardhan menegaskan bahwa cita-cita wirausahanya bukan sekadar impian menjadi kaya raya, melainkan sebuah misi sosial dan keagamaan yang berakar dari penderitaan warga desanya.

"Usaha mandiri?" ulang Maryam pelan. "Apakah itu usaha perdagangan yang pernah kamu menangkan di kompetisi kota dulu, Nak?"

"Iya, Ibu," jawab Fardhan. "Fardhan ingin membuktikan bahwa anak desa yang memulai dari nol bisa membangun usaha yang jujur. Fardhan tidak mau melihat petani-petani di desa kita terus-menerus dipermainkan oleh tengkulak nakal seperti yang dialami Ayah bertahun-tahun."

"Tapi perantauan di kota besar itu kejam, Fardhan," puji Abdul Karim dengan gurat cemas yang jujur. "Di sana kamu tidak punya kerabat, tidak punya modal harta. Kamu hanya membawa beasiswa dan tas lusuh ini."

"Fardhan punya Allah, Ayah," balas Fardhan dengan senyum yang sangat tenang. "Bukankah Ayah sendiri yang selalu mengajariku di surau bahwa tidak ada orang yang benar-benar miskin selama ia masih memiliki iman di dadanya?"

Abdul Karim memandangi putra sulungnya itu dengan rasa bangga yang tak terukur. Ia menyadari bahwa anak laki-laki kecil yang dulu sering menangis saat sepedanya mogok kini telah menjelma menjadi seorang lelaki sejati yang siap menaklukkan kerasnya dunia perantauan.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya