SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

MIMPI MENJADI IKHTIAR

Belajar Mengubah Mimpi Menjadi Ikhtiar

---o0o---

Pagi baru saja menetas di ufuk timur Desa Rimbai ketika embun dingin masih menggantung di pucuk-pucuk daun pisang. Fardhan Ar Rimbai duduk di teras samping rumah sederhananya, menatap selembar kertas lusuh berisi daftar perlengkapan dan jadwal pembekalan calon penerima beasiswa di kota besar. Usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun membawa gairah muda yang meluap, tetapi matanya memancarkan gurat kecemasan yang tenang. Di hadapannya, tergeletak sebuah kalkulator saku tua, modul dasar akuntansi sederhana, dan mesin tik manual milik kantor desa yang ia pinjam untuk akhir pekan.

Dari arah pekarangan, Abdul Karim melangkah mendekat seraya membawa dua buah kelapa muda yang baru dipetiknya dari kebun belakang. Suara langkah kakinya yang berat dan teratur mengetuk tanah basah.

"Fardhan, kenapa kamu memandangi mesin tik dan buku-buku tebal itu dengan dahi berkerut sejak subuh tadi?" tanya Abdul Karim seraya meletakkan kelapa muda di atas meja kayu.

Fardhan mendongak, menyapu pelipisnya yang basah oleh peluh tipis. "Ayah, selama ini Fardhan berpikir bahwa doa-doa di sepertiga malam dan hafalan ayat-ayat kita sudah cukup untuk menjadi bekal di kota nanti. Tapi makin dekat hari keberangkatan, Fardhan makin sadar... kota besar tidak hanya menguji iman, tapi juga kecakapan nyata."

Abdul Karim tersenyum tipis, mengambil parang untuk membakar sedikit sabut kelapa. "Lalu, apa yang membuatmu merasa kurang, Nak?"

"Fardhan melihat syarat pembekalan dari yayasan kota," jawab Fardhan seraya menyerahkan lembaran kertas itu kepada ayahnya. "Mereka menuntut calon mahasiswa tidak cuma paham konsep syariah atau teori umum, tapi harus menguasai pembukuan keuangan modern, pengetikan laporan cepat, hingga Bahasa Inggris dasar. Fardhan merasa modal Fardhan selama ini masih terlalu mentah."

"Doa itu spion dan kemudi, Fardhan. Tapi mesinnya adalah ikhtiar nyata," sahut Abdul Karim tegas seraya membelah kelapa muda. "Kiai Zulfikar tidak pernah mengajarkan kita untuk pasrah melamun di dalam surau menunggu keajaiban jatuh dari langit, bukan?"

"Iya, Ayah. Fardhan sadar, mimpi besar tidak boleh dijadikan tempat bersembunyi dari kenyataan bahwa diri ini masih banyak kekurangan," bisik Fardhan menatap jemarinya yang masih kaku menekan tuts mesin tik.

Peristiwa pemicu itu menyadarkan Fardhan bahwa niat mulia dan doa malam harus segera diterjemahkan menjadi keterampilan konkret sebelum ia benar-benar melangkahkan kaki keluar dari batas desanya.

°˖✧✿✧˖°

Matahari makin tinggi menyinari jalan setapak desa yang membelah persawahan. Fardhan tidak membuang waktu. Ia menyadari bahwa keterampilannya membaca neraca keuangan dan mengetik laporan masih sangat jauh dari standar anak-anak kota. Setelah menyelesaikan shalat Dhuha di surau, ia bergegas menuju rumah Pak Kades untuk meminta petunjuk, lalu mengayuh sepeda tuanya menuju Balai Desa.

Di ruang administrasi Balai Desa yang harum kertas tua, Fardhan menemui Pak Ridwan, seorang sekretaris desa paruh baya yang terkenal teliti dan menguasai tata kelola administrasi perbankan lama.

"Assalamu’alaikum, Pak Ridwan," sapa Fardhan dengan sopan di ambang pintu kayu yang terbuka.

Pak Ridwan menurunkan kacamata bacanya, lalu tersenyum lebar. "Wa’alaikumussalam warahmatullah! Eh, Fardhan! Ada apa, Nak? Bukankah minggu depan kamu sudah harus berangkat ke kota?"

Fardhan melangkah masuk, memeluk erat berkas catatannya. "Justeru karena tinggal seminggu lagi, Pak. Fardhan datang ke sini ingin belajar dari Bapak. Fardhan ingin diajari cara membuat neraca rugi-laba yang benar dan cara mengetik sepuluh jari tanpa melihat papan tuts."

Pak Ridwan tertawa kecil, memajukan kursi kayunya. "Kamu ini calon mahasiswa beasiswa hebat, Fardhan. Kenapa harus repot-repot belajar hal teknis begini di kantor desa yang serba tertinggal?"

"Kota besar itu kejam untuk orang yang cuma punya modal nekat, Pak Ridwan," jawab Fardhan jujur seraya duduk di hadapan meja kayu jati tersebut. "Fardhan tidak mau memalu-malukan nama Desa Rimbai di sana nanti. Fardhan ingin membuktikan bahwa anak desa sanggup bekerja cepat dan rapi."

Titik plot pertama dalam perjuangan persiapan ini dimulai ketika Pak Ridwan menyetujui permintaan Fardhan dan langsung menyodorkan tumpukan arsip laporan keuangan desa yang berdebu.

"Baiklah, Fardhan! Kalau kamu memang sungguh-sungguh," tegas Pak Ridwan seraya menunjuk mesin tik besar merk Underwood di sudut meja. "Kerjakan rekapitulasi anggaran kas desa bulan lalu. Kamu harus merapikan angka-angka ini ke dalam tabel neraca balance dalam waktu dua jam tanpa boleh ada koreksi tip-ex sedikit pun!"

Fardhan menelan ludah. Tantangan nyata pembuktian ikhtiarnya telah dimulai. Jemarinya yang biasa memegang cangkul dan kitab suci kini harus beradaptasi dengan besi-besi dingin mesin cetak manual.

"Baik, Pak Ridwan! Bismillah, Fardhan akan coba sekuat tenaga," ujar Fardhan mantap.

°˖✧✿✧˖°

Dua jam pertama berjalan dengan sangat menyiksa bagi Fardhan. Tuts mesin tik yang berat sering kali tersangkut, pita hitam berpindah miring, dan angka-angka neraca keuangan desa yang rumit berkali-kali tidak menemukan titik seimbang antara debet dan kredit. Peluh dingin membasahi pelipis dan punggung Fardhan.

Pak Ridwan berdiri di sampingnya seraya membawa mistar kayu, memperhatikan setiap gerakan tangan Fardhan dengan pandangan disiplin.

"Salah lagi, Fardhan!" tegur Pak Ridwan seraya menunjuk angka selisih di bagian bawah kertas. "Di sini kamu salah memasukkan beban operasional pemeliharaan saluran irigasi. Kalau neraca tidak seimbang seribu rupiah pun, dalam bisnis nyata kamu bisa dituduh melakukan manipulasi!"

Fardhan menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tegang. "Maafkan Fardhan, Pak Ridwan. Angka-angka ini rasanya saling berbenturan di dalam kepala Fardhan. Mengapa sulit sekali menyatukan teori di buku dengan tabel nyata ini?"

"Karena kamu mengetik pakai emosi dan ketakutan, Fardhan!" tegas Pak Ridwan, senyumnya menyiratkan pelajaran mendalam. "Mengetik dan menghitung itu butuh ketenangan jiwa seperti saat kamu melantunkan hafalan Al-Qur'an. Ritmenya harus dijaga, ketelitiannya harus menyatu dengan pikiranmu."

Ini menjadi titik tekan pertama bagi Fardhan. Rasa lelah, jari tangan yang pegal, dan ketakutan akan kegagalan membayangi pikirannya. Ia menyadari betapa jauhnya jarak antara impian menjadi pengusaha sukses dengan kenyataan rumitnya mengelola selembar laporan keuangan.

Sore harinya, Fardhan berjalan pulang menuntun sepedanya dengan rasa lunglai. Di perjalanan, ia bertemu dengan Hafiz yang sedang membawa keranjang rumput untuk ternak keluarganya.

Lihat selengkapnya