SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

HARI KELULUSAN

Hari Kelulusan

---o0o---

Pagi berselimut kabut menyambut hari yang telah dinantikan selama tiga tahun di SMA Negeri 1 Kecamatan Rimbai. Suara gemerisik dedaunan pohon mahoni di halaman sekolah beradu dengan riuh langkah kaki para siswa dan orang tua murid yang datang mengenakan pakaian terbaik mereka. Di usianya yang kini genap delapan belas tahun, Fardhan Ar Rimbai berdiri tegap di depan cermin tua yang menggantung di dinding papan kamar sederhananya. Ia merapikan lipatan kerah kemeja putih berbalut jas almamater sekolah yang bersih dan wangi.

Dari luar kamar, suara langkah kaki yang pelan mendatangi pintu. Maryam melangkah masuk seraya membawa kain sarung tenun yang telah diseterika rapi. Matanya yang mulai dihiasi gurat-gurat halus menatap sosok putra sulungnya dengan gumpalan haru yang sulit disembunyikan.

"Fardhan," panggil Maryam dengan suara lembut yang sedikit bergetar.

Fardhan membalikkan badannya, menyunggingkan senyum hangat yang meneduhkan. "Iya, Bu? Ada apa?"

"Biarkan Ibu merapikan dasimu sedikit lagi, Nak," ujar Maryam seraya mendekati Fardhan dan meraba ujung dasi berwarna biru tua tersebut.

"Ibu... kenapa mata Ibu berkaca-kaca sejak subuh tadi?" tanya Fardhan pelan, menatap lurus ke dalam iris mata ibunya.

Maryam menghentikan gerakan tangannya, menarik napas panjang untuk menahan bulir air mata yang hendak menetes. "Ibu cuma masih belum percaya, Fardhan. Rasanya baru kemarin Ibu mengantarkanmu ke sekolah dasar dengan sepeda tua Ayahmu. Sekarang anak laki-laki kecil Ibu sudah menjadi pemuda delapan belas tahun yang berdiri tegap untuk lulus sekolah."

"Ini semua berkat doa dan ketulusan Ibu merawat Fardhan," balur Fardhan seraya menggenggam erat kedua tangan ibunya.

Abdul Karim melangkah masuk ke kamar seraya mengancingkan jas kusam satu-satunya yang ia miliki, jas yang dahulu dipakai saat meminang Maryam puluhan tahun lalu. Wajahnya yang tegap memancarkan binar kebanggaan yang luar biasa, meski ada gurat cemas yang tersimpan di balik senyumnya.

"Fardhan, apakah semua berkas dan dokumen pentingmu sudah siap?" tanya Abdul Karim seraya menepuk bahu tegap anaknya.

"Sudah siap semua, Ayah. Semua tersimpan rapi di dalam tas," jawab Fardhan mantap.

Abdul Karim menatap wajah anaknya dengan dalam. "Hari ini adalah hari wisudamu, Fardhan. Hari di mana kamu menyelesaikan satu babak penting di desa ini, sebelum kamu melangkah menuju lautan perantauan yang sesungguhnya."

Peristiwa pemicu itu mengukir keharuan mendalam di pagi hari kelulusan, di mana kebanggaan terpancar jelas di wajah sang ayah dan genangan air mata menyelimuti ketulusan hati sang ibu.

°˖✧✿✧˖°

Gedung serbaguna kecamatan tempat digelarnya acara perpisahan dan kelulusan dipenuhi oleh ratusan siswa, guru, serta tamu undangan. Karangan bunga dan spanduk bertuliskan Pelepasan Siswa-Siswi Kelas XII SMA Negeri 1 Rimbai menghiasi panggung utama. Keheningan merayap ketika Kepala Sekolah, Bapak Drs. H. Sukardi, melangkah menuju podium utama dengan membawa map tebal bersampul beludru merah.

"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," sapa Kepala Sekolah menggelegar melalui pengeras suara. "Hari ini, di hadapan Bapak dan Ibu orang tua siswa, kami mengumumkan hasil kelulusan sekaligus penghargaan bagi lulusan terbaik tahun ini."

Seluruh hadirin menahan napas, termasuk Abdul Karim dan Maryam yang duduk di deretan kursi kayu bagian tengah.

"Lulusan Terbaik dengan nilai akademis tertinggi, predikat kelakuan terbaik, serta penerima Beasiswa Penuh Pendidikan Tinggi Perbankan Syariah jatuh kepada..." Kepala Sekolah sengaja jeda sejenak, membuat suasana makin tegang. "...Fardhan Ar Rimbai!"

Tepuk tangan bergemuruh hebat memenuhi seluruh sudut gedung. Abdul Karim langsung berdiri dari kursinya, dadanya berombak kencang, matanya berbinar menatap Fardhan yang berjalan tegap menuju panggung. Sementara di sampingnya, Maryam menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak menangis membendung rasa syukur yang membuncah.

Titik plot pertama tercipta saat Fardhan menerima piagam penghargaan di atas panggung, menegaskan keberhasilannya membuahkan hasil manis dari deretan perjuangan dan doa-doanya selama ini.

"Selamat, Fardhan Ar Rimbai," ujar Kepala Sekolah seraya menyerahkan plakat emas dan menyalami tangan Fardhan dengan erat. "Kamu adalah kebanggaan sekolah ini dan bukti bahwa keterbatasan ekonomi desa bukanlah penghalang untuk meraih prestasi tertinggi."

Fardhan memegang mikrofon podium, menatap ratusan pasang mata di hadapannya. "Terima kasih kepada para guru yang tak lelah mendidik kami. Tapi prestasi ini bukan milik saya pribadi. Prestasi ini milik dua orang luar biasa yang duduk di kursi tengah sana... Ayah dan Ibu saya."

Suara Fardhan terdengar bergetar namun sarat kekuatan, membuat beberapa orang tua murid yang hadir ikut menyapu air mata mereka.

°˖✧✿✧˖°

Acara formal kelulusan berakhir saat siang mulai meninggi. Para siswa berkumpul di halaman sekolah untuk saling berfoto, berjabat tangan, dan bertukar catatan kesan pesan di buku alumni. Hafiz Al-Manshur berjalan tergesa-gesa menghampiri Fardhan yang sedang berdiri bersama kedua orang tuanya di bawah naungan pohon rindang.

"Fardhan! Selamat, sahabatku!" seru Hafiz seraya merangkul erat bahu Fardhan.

"Terima kasih banyak, Hafiz. Tanpa dukungan dan bantuanmu selama ini, aku tidak akan bisa berdiri di sini," balas Fardhan seraya menepuk-nepuk punggung sahabatnya.

Namun, di tengah gelak tawa dan riuhnya perayaan teman-teman seangkatannya, sebuah rasa cemas yang tak kasat mata mendadak merayap masuk mengguncang batin Fardhan. Ini menjadi titik tekan pertama bagi jiwa mudanya.

Keinginan untuk merayakan hari bahagia ini tertutupi oleh kenyataan pahit bahwa dalam hitungan hari, kehidupan nyatanya akan berubah total. Kelulusan ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan pintu gerbang menuju ketidakpastian kota besar yang asing dan menakutkan.

"Fardhan, kenapa kamu mendadak melamun?" tanya Abdul Karim yang menyadari gurat ketegangan pada mata anaknya.

Lihat selengkapnya