SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

ANTARA DI DESA ATAU MERANTAU

Antara Tinggal atau Merantau

---o0o---

Lampu minyak tanah di ruang tengah rumah kayu keluarga Ar Rimbai membiaskan cahaya jingga yang temaram. Surat telegram bermaterai dari kota besar tergeletak terbuka di atas meja kayu yang melengkung dipakan usia. Di sampingnya, terdapat selembar surat bertinta emas dari Kepala Desa Rimbai yang baru tiba petang tadi. Fardhan Ar Rimbai duduk termenung di atas tikar pandan, menatap dua pucuk surat yang menyodorkan dua alur takdir yang berseberangan.

Surat pertama adalah panggilan kerja dan verifikasi beasiswa tingkat lanjut di kota metropolitan. Surat tersebut menawarkan posisi sebagai asisten peneliti muda di konsorsium perbankan syariah sekaligus jaminan pendidikan tinggi penuh. Namun, surat kedua dari Pak Kades berisi tawaran yang tak kalah menggiurkan: pengangkatan langsung menjadi Kepala Bagian Administrasi dan Pembangunan Desa Rimbai dengan gaji tetap, fasilitas rumah dinas sederhana, serta jaminan hidup tenteram di tanah kelahirannya sendiri.

Abdul Karim melangkah masuk dari teras depan, melepaskan peci hitamnya lalu duduk perlahan di hadapan putri dan putra sulungnya. Matanya yang tajam menatap gurat kebingungan di wajah Fardhan.

"Fardhan, kenapa dua surat itu kamu biarkan tergeletak seperti dua musuh yang sedang bertarung?" tanyakan Abdul Karim seraya menyulut rokok lintingannya.

Fardhan membasahi bibirnya yang kering, mendongak menatap ayahnya. "Ayah, Fardhan berada di persimpangan jalan yang sangat sulit. Dua tawaran ini datang di waktu yang bersamaan."

"Apa yang membuatmu ragu, Nak?" tanya Maryam yang baru muncul dari balik tirai dapur seraya membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat. "Bukankah merantau ke kota adalah impianmu sejak awal?"

Fardhan menarik napas dalam-dalam, meraba permukaan meja kayu. "Iya, Bu. Tapi tawaran dari Pak Kades untuk tinggal di desa sangat nyata dan aman. Fardhan bisa langsung bekerja besok, mendapat penghasilan halal, dan yang paling penting... Fardhan tidak perlu meninggalkan Ayah dan Ibu di rumah ini."

Abdul Karim tersenyum tipis, menghembuskan asap tipis ke udara. "Jadi, anak laki-lakiku mulai merasa nyaman dan takut melangkah ke luar batas desa?"

Peristiwa pemicu itu menghentak kesadaran Fardhan, memperhadapkan dirinya pada dilema besar antara tetap bertahan di zona nyaman desa atau memberanikan diri menembus ketidakpastian kota besar.

°˖✧✿✧˖°

Pagi harinya, Fardhan mengayuh sepeda tuanya menuju Balai Desa untuk bertemu Pak Kades dan memastikan detail tawaran tersebut. Angin pagi yang dingin berembus menyejukkan, namun pikiran Fardhan tetap bergelora rapat. Di kantor desa, Pak Kades menyambutnya dengan senyum lebar dan seduhan kopi panas.

"Fardhan! Duduk, Nak, duduk!" panggil Pak Kades ramah seraya menunjuk kursi jati di depan mejanya. "Bagaimana? Kamu sudah membaca surat penawaran dari pimpinan desa?"

"Sudah, Pak Kades. Terima kasih banyak atas kepercayaan yang begitu besar kepada Fardhan," jawab Fardhan dengan nada sopan dan santun.

Pak Kades menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Desa Rimbai butuh pemuda cerdas dan jujur sepertimu, Fardhan. Kalau kamu terima tawaran ini, kamu tidak perlu menghadapi kerasnya persaingan kota besar. Kamu bisa membangun desa kita dari sini, dekat dengan orang tuamu, dan hidup tenteram tanpa risiko besar."

Titik plot pertama tercipta ketika tawaran dari desa tersebut terasa makin kuat dan memikat, menjadi godaan zona nyaman yang sangat rasional bagi Fardhan yang diliputi rasa cemas.

"Tapi Pak Kades, bagaimana dengan beasiswa dan panggilan kerja di kota itu?" tanya Fardhan pelan.

"Kota besar itu penuh kepalsuan dan persaingan kejam, Fardhan," pangkas Pak Kades dengan raut serius. "Di sana kamu cuma sebutir debu di antara jutaan orang. Di sini, di desa ini, kamu adalah tokoh muda yang dihormati. Kenapa harus bertaruh di tempat asing kalau kamu sudah punya kepastian di rumah sendiri?"

Fardhan terdiam. Kata-kata Pak Kades merasuk dalam ke batinnya, memperkuat benteng ketakutan di dalam dirinya untuk meninggalkan kenyamanan desa.

"Beri Fardhan waktu dua hari untuk berpikir dan bermusyawarah dengan keluarga, Pak Kades," bisik Fardhan.

"Tentu, Fardhan. Tapi ingat, posisi ini tidak bisa kosong terlalu lama," sahut Pak Kades seraya menepuk bahu Fardhan.

°˖✧✿✧˖°

Siang harinya, Fardhan berjalan melintasi pelataran surau tua. Langkah kakinya terasa berat, terombang-ambing oleh dua pilihan yang sama-sama memiliki alasan kuat. Di teras surau, Hafiz sedang merapikan saf sajadah bersama Ustaz Ahmad Fathan.

Melihat kehadiran sahabatnya yang tampak murung, Hafiz langsung melambaikan tangan. "Fardhan! Kenapa mukamu dilipat seperti kain belum diseterika begitu?"

Fardhan duduk di tangga surau, melepas sandal jepitnya. "Aku sedang bingung setengah mati, Hafiz."

Ustaz Ahmad Fathan mendekat, duduk bersila di sebelah Fardhan. "Bingung karena dua surat itu, Fardhan?"

"Iya, Ustaz," aku Fardhan jujur. "Tawaran tinggal di desa memberikan kepastian hidup, keamanan, dan kedekatan dengan orang tua. Tapi merantau ke kota menawarkan kesempatan belajar dan mewujudkan cita-cita besar di buku kecilku. Fardhan takut... Fardhan takut gagal di kota dan menyesal telah melepas kesempatan di desa."

Ini menjadi titik tekan pertama bagi Fardhan. Ketakutan akan kegagalan dan kenyamanan zona aman desa mulai melumpuhkan keberanian serta keyakinan dirinya.

Lihat selengkapnya