SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

RESTU DARI IBU

Restu dari Ibu

---o0o---

Angin malam berembus perlahan melalui celah dinding papan kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Di sudut ruang tengah yang beralaskan tikar pandan kusam, sebuah pelita minyak tanah bergoyang pelan, melemparkan bayang-bayang panjang ke dinding anyaman bambu. Malam itu, sunyi terasa lebih pekat dari biasanya. Udara dingin pegunungan merayap masuk, namun di atas tungku tanah liat kecil di sudut dapur, air rebusan daun serai dan melati menebarkan aroma hangat yang menenangkan.

Fardhan duduk bersila, melipat kemeja katun lusuh satu-satunya yang masih layak pakai ke dalam tas kain terpal usang. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Setiap lipatan kain seolah menjadi hitungan mundur menuju perpisahan yang tak terelakkan. Besok subuh, sebelum azan pertama berkumandang di puncak bukit, ia harus menaiki gerobak pengangkut singkong menuju dermaga pelabuhan selatan.

Di hadapannya, Maryam—ibunya yang berambut kelabu dan bertangan kasar penuh guratan kerja keras bertahun-tahun—duduk menuangkan air hangat ke dalam dua cangkir seng berkarat di tepinya. Tangan wanita tua itu tampak begitu tenang, bertolak belakang dengan gemuruh batin pemuda berusia dua puluh dua tahun itu.

“Minumlah dulu, Fardhan,” ujar Maryam pelan, suaranya serak namun teduh laksana telaga di tengah rimba. “Perjalananmu esok akan panjang dan melelahkan raga.”

Fardhan mengangkat cangkir seng tersebut dengan kedua telapak tangannya. “Ibu belum tidur? Seharusnya Ibu beristirahat. Angin malam ini sangat menusuk sendi.”

“Mana mungkin seorang ibu bisa memejamkan mata di malam sebelum anak semata wayangnya dilepas ke lautan luas?” Maryam tersenyum tipis, matanya yang teduh menatap lekat paras putranya.

“Ibu masih mengkhawatirkan keputusanku?” tanya Fardhan dengan nada bergetar. “Aku terpaksa merantau, Bu. Tanah ladang kita sudah disita juragan, dan gubuk ini pun atapnya hampir roboh. Aku tidak tega melihat Ibu terus menumbuk melinjo hingga jemari Ibu bengkak setiap malam.”

Maryam meletakkan cangkir sengnya ke lantai tanah yang dingin. Ia menggeser duduknya, mendekat ke arah putranya. Pandangannya menatap lurus ke dalam bola mata Fardhan yang berkilat oleh genangan air mata tertahan.

“Fardhan, dengarkan Ibumu baik-baik,” bisik Maryam dengan ketegasan yang murni. “Ibu tahu mengapa kau melangkah pergi. Kau memikul rasa lapar keluarga ini di pundak mudamu.”

“Lalu mengapa Ibu tampak begitu risau?” desak Fardhan, meletakkan cangkir yang masih mengepul. “Apakah Ibu ragu aku bisa bertahan di kota besar?”

“Bukan kemampuanmu yang kuragukan, Nak,” sahut Maryam sembari menggeleng perlahan. “Kota besar itu seperti kawah raksasa yang menyala. Ia tidak hanya menuntut keringatmu, tetapi sering kali rakus memangsa kejujuran manusia. Banyak orang pergi dari desa ini dengan niat mulia, tetapi pulang dengan jiwa yang binasa karena silau harta.”

Fardhan terdiam, jemarinya meremas kain tas terpalnya. “Aku hanya ingin mengubah nasib kita, Bu. Aku tidak ingin kita terus dihina dan dianggap tidak berharga hanya karena kita miskin.”

Maryam meraih telapak tangan kanan Fardhan, menggenggamnya erat dengan jemarinya yang kapalan. Tatapan matanya berkilau oleh kearifan hidup yang ditempa puluhan tahun penderitaan.

“Nak, jangan takut miskin. Takutlah kalau kehilangan keberkahan.”

Kalimat itu meluncur dari bibir Maryam laksana mata air jernih yang membasuh dahaga jiwa. Suaranya tidak keras, tetapi menggetarkan rongga dada Fardhan hingga relung terdalam.

“Apa arti keberkahan jika kita tetap lapar, Bu?” tanya Fardhan, suaranya tercekat oleh kepedihan yang terpendam.

“Keberkahan adalah rasa cukup di dalam dada walau di piring hanya ada sebutir garam,” jawab Maryam tegas tanpa keraguan sedikit pun. “Uang yang melimpah tanpa berkah hanya akan menjadi api yang membakar ketenangan tidurmu. Tetapi rezeki yang sedikit namun diridhai Tuhan akan menumbuhkan kedamaian yang tak terbeli oleh emas sekarung.”

Fardhan menundukkan kepala. Kalimat itu menancap kuat menjadi bekal batin yang mengunci segala kegelisahannya di awal malam itu.

°˖✧✿✧˖°

Tiba-tiba, suara ketukan keras pada daun pintu kayu mengejutkan keheningan malam yang sunyi. Tiga kali ketukan terdengar mantap dan tergesa-gesa di tengah lolongan anjing liar dari kejauhan lereng bukit.

Fardhan menoleh ke arah pintu dengan dahi berkerut. “Siapa yang bertamu selarut ini?”

“Biar Ibu yang membukanya,” kata Maryam bangkit berdiri sambil membenarkan letak selendang lusuhnya.

“Biar aku saja, Bu,” cegah Fardhan seraya berdiri mendahului ibunya.

Fardhan menarik gerendel kayu yang berderit nyaring. Di ambang pintu yang remang-remang, berdirilah Pak Usman, juragan perahu motor dan tengkulak kayu yang disegani di muara sungai. Pria bertubuh gempal itu mengenakan jaket kulit tebal dengan rokok kretek mengepul di ujung bibirnya.

“Malam, Fardhan. Untung kau belum terlelap,” sapa Pak Usman dengan senyum tersungging di wajahnya yang berkilat minyak.

“Pak Usman? Ada urusan apa malam-malam begini mendatangi gubuk kami?” tanya Fardhan dengan nada waspada.

Pak Usman melangkah masuk tanpa dipersilakan, melirik sekilas ke arah Maryam yang berdiri kaku di dekat meja dapur. “Kudengar dari orang-orang pasar, besok subuh kau nekat berangkat ke pelabuhan kota tanpa kepastian kerja?”

“Benar, Pak. Saya ingin mencari peruntungan halal di sana,” jawab Fardhan lugas.

Pak Usman tertawa pendek, tawa yang terdengar mengejek realitas hidup. “Halal? Anak muda, dunia luar tidak seindah khotbah di surau! Di sana kau hanya akan jadi kuli panggul yang diinjak-injak dengan upah receh.”

“Kami terbiasa hidup susah, Pak Usman,” timpal Maryam dari kejauhan, nada suaranya dingin membeku. “Anak saya tidak mencari kemewahan yang membutakan.”

Pak Usman merogoh saku dalam jaket kulitnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapat. Ia meletakkannya dengan suara berdebuk di atas meja kayu lapuk.

“Ini uang muka lima juta rupiah tunai,” kata Pak Usman menatap lekat mata Fardhan. “Kapal kargo kayuku berangkat besok malam ke selat utara. Kau tidak perlu bawa muatan legal, cukup jaga peti-peti khusus di palka bawah tanpa bertanya apa isinya. Dalam seminggu, gubuk ini bisa kau bangun jadi rumah batu permanen.”

Fardhan menahan napas. Matanya terpaku pada amplop tebal yang mampu melunasi seluruh utang tanah mereka seketika.

Lihat selengkapnya