Pesan Ayah Sebelum Pergi---o0o---
Aroma kayu jati tua dan rempah cengkih yang mengering di pelataran surau senantiasa menjadi udara pertama yang dihirup Fardhan Ar Rimbai setiap kali fajar menyingsing. Namun, pagi itu udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Angin pegunungan berembus membawa kabut tipis yang menyapu permukaan lantai bambu rumah mereka. Di sudut ruangan, sebuah tas kain kusam yang diisi beberapa helai pakaian dan sarung tenun sudah terikat rapi.
Fardhan duduk bersila di hadapan ayahnya, Abdul Karim Ar Rimbai. Lelaki tua itu baru saja menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu rumah setelah menunaikan dua rakaat salat Subuh. Garis-garis usia yang terukir mendalam di dahi dan sudut mata Abdul Karim menyimpang sejuta cerita perjuangan, namun matanya tetap memancarkan ketenangan yang tiada tara.
“Kamu benar-benar sudah mantap untuk pergi besok pagi, Fardhan?” tanya Abdul Karim, suaranya tenang namun bergema pelan di dalam ruangan yang sunyi.
Fardhan menundukkan kepala sebentar, meremas jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. “Insya Allah, Ayah. Panggilan kerja dari perantauan ini adalah jalan yang harus Fardhan tempuh. Fardhan tidak ingin terus menjadi beban bagi Ayah dan Ibu di desa.”
“Pergi merantau bukan sekadar berpindah tempat tidur, Nak,” sahut Abdul Karim seraya menatap lurus ke dalam mata putranya. “Di luar sana, kota bukan seperti desa kita yang dikelilingi suara azan dari tiap penjuru. Kota adalah belantara yang bisa membuat orang lupa diri jika hatinya tidak berpijak pada fondasi yang kokoh.”
“Fardhan paham, Ayah,” jawab Fardhan lembut. “Fardhan akan selalu ingat semua ajaran Ayah dan Kiai Zulfikar.”
Abdul Karim tersenyum tipis. Ia meraih sebuah bungkusan kain beludru hijau dari samping tempat duduknya. Dengan gerakan perlahan dan penuh penghormatan, ia membuka lipatan kain tersebut. Di dalamnya, terbaring sebuah Al-Qur'an kecil berukuran saku dengan sampul kulit cokelat tua yang sudah agak mengelupas di bagian pinggirnya.
“Mendekatlah, Fardhan,” panggil sang ayah.
Fardhan bergeser maju, mendekatkan lututnya ke lutut sang ayah. Abdul Karim mengambil Al-Qur'an kecil itu lalu meletakkannya di atas kedua telapak tangan Fardhan yang terbuka.
“Ini adalah mushaf yang selalu Ayah bawa sejak Ayah seusiamu,” ujar Abdul Karim. “Buku ini tidak akan membuatmu kaya secara harta dalam semalam, tetapi ia akan menjagamu agar tidak miskin secara jiwa.”
Fardhan membelai sampul kulit yang terasa halus dan dingin di kulit jarinya. “Terima kasih, Ayah. Fardhan akan menjaganya dengan jiwa dan raga Fardhan.”
Abdul Karim menggenggam jemari Fardhan yang menopang Al-Qur'an tersebut, menatap tepat ke manik mata anaknya dengan kedalaman rasa kasih seorang ayah.
“Ke mana pun kamu pergi, jangan pernah merasa sendirian. Allah selalu melihatmu,” bisik Abdul Karim penuh penekanan, mengukir kalimat itu langsung ke dalam relung batin Fardhan.
“Fardhan akan selalu mengingat pesan Ayah ini. Di mana pun Fardhan berdiri, Allah senantiasa ada,” janji Fardhan dengan tenggorokan yang mulai terasa menyempit oleh haru.
Ibu Fardhan, Maryam, muncul dari balik tirai dapur membawa nampan berisi dua cangkir kopi hangat dan sepiring singkong rebus. Matanya berkaca-kaca melihat interaksi antara suami dan anak sulungnya.
“Diminum dulu kopinya, Fardhan, Ayah,” tutur Maryam dengan suara agak bergetar. Ia duduk di samping suaminya, menatap Fardhan dengan pandangan penuh kerinduan yang sudah terbayang sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi.
“Ibu... jangan menangis,” kata Fardhan seraya meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
“Ibu tidak menangis karena sedih, Nak,” jawab Maryam seraya mengelus kepala Fardhan. “Ibu menangis karena bersyukur memiliki putra sepertimu. Namun, hati ibu mana yang tidak berat melepas anaknya pergi ke belantara asing?”
“Fardhan pergi untuk berjuang, Bu. Doa Ibu adalah perisai terbaik Fardhan di sana,” bisik Fardhan menenangkan.
°˖✧✿✧˖°
Langkah kaki Fardhan melintasi jalan setapak berkerikil menuju pelataran surau desa beberapa jam sebelum keberangkatannya. Suara gemercik air wudu yang mengalir dari pancuran bambu menyambut kehadirannya. Di teras surau, Kiai Zulfikar Al-Faruqi sedang duduk bersama Ustaz Ahmad Fathan. Kedua sosok guru dan sahabat itu tampak memang telah menunggunya.
“Assalamu’alaikum, Kiai, Ustaz,” salam Fardhan seraya membungkuk hormat dan mencium tangan Kiai Zulfikar.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah, Fardhan. Duduklah,” sambut Kiai Zulfikar dengan senyum hangat yang menentramkan.
Ustaz Ahmad Fathan menepuk bahu Fardhan cukup keras, mencoba mencairkan suasana yang terasa hening. “Jadi, besok kamu benar-benar berangkat ke kota besar itu, Fardhan? Meninggalkan kesederhanaan desa ini?”
“Niat sudah bulat, Ustaz Ahmad,” jawab Fardhan. “Roda kehidupan harus terus berputar. Saya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menguji dan menempa diri.”
Kiai Zulfikar membetulkan letak sorbannya. “Fardhan, perantauan adalah tempat di mana janji imanmu diuji. Di desa, semua orang mengenali keluargamu, semua orang menuntunmu ke surau. Namun di kota, kamu adalah asing. Tidak ada yang akan menegurmu jika kamu meninggalkan salat, dan tidak ada yang akan memujimu jika kamu berbuat baik.”
“Nasihat Kiai akan selalu menjadi cermin bagi saya,” ujar Fardhan penuh rasa hormat. “Saya takut terjatuh, Kiai. Namun pesan Ayah tadi pagi menjadi penguat dada saya.”
“Apa yang dikatakan ayahmu?” tanya Ustaz Ahmad penasaran.
“Ayah memberikan Al-Qur'an kecil ini,” kata Fardhan seraya mengeluarkan mushaf saku dari balik saku bajunya. “Ayah berpesan, ke mana pun saya pergi, jangan pernah merasa sendirian, karena Allah selalu melihat saya.”
Kiai Zulfikar mengangguk-angguk langsing, matanya memancarkan rasa bangga. “Ayahmu adalah pria yang bijaksana, Fardhan. Pegang teguh prinsip itu. Ingatlah selalu ayat dalam Surah Al-Kahfi yang sering kita kaji bersama.”
“Masya Allah, la quwwata illa billah,” ucap Fardhan dan Ustaz Ahmad secara bersamaan.
“Benar,” puji Kiai Zulfikar. “Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, dan tidak ada daya maupun kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya. Jika kamu memegang kalimat itu, kamu tidak akan pernah sombong saat berhasil, dan tidak akan hancur saat gagal.”
Saat Fardhan sedang berdiskusi di teras surau, dari kejauhan terlihat dua sosok wanita berjalan perlahan melintasi jalan setapak menuju area keputrian surau. Salah satunya adalah Humaira, mengenakan pakaian muslimah anggun berwarna teduh dengan kerudung lebar yang menyapu bahunya. Di sampingnya berjalan Aisyah Rahmah, sahabat dekatnya.
Langkah Fardhan terhenti sejenak ketika pandangannya tidak sengaja beradu dengan Humaira dari kejauhan. Tak ada kata yang terucap di antara mereka secara langsung di hadapan publik, namun ada getaran halus yang menyelinap di relung dada masing-masing.
“Humaira tahu kamu akan berangkat besok?” bisik Ustaz Ahmad yang menyadari arah pandangan Fardhan.
Fardhan dengan cepat menundukkan pandangannya, menatap lantai bambu surau. “Saya sudah menyampaikan pamit melalui Aisyah kemarin, Ustaz. Tidak ada yang perlu disampaikan secara berlebihan.”
“Kamu menjaga perasaanmu dengan sangat baik, Fardhan,” ujar Ustaz Ahmad senyum-senyum. “Garis ikhtiar dan doa adalah cara terbaik menjaga kehormatan cinta.”
Di sudut lain area surau, Aisyah berbisik pelan pada Humaira. “Fardhan ada di sana, Humaira. Apakah kamu tidak ingin menyampaikan sepatah kata pun untuk melepas keberangkatannya?”
Humaira meremas pinggiran selendangnya, menatap lurus ke depan tanpa berani mengarahkan mata langsung ke arah teras utama. “Tidak perlu, Aisyah. Doa dalam diam adalah bahasa paling jujur antara dua hati yang menjaga diri.”
“Kamu yakin sanggup menahan rindu dan ketidakpastian di kota besar nanti?” tanya Aisyah lembut.
“Jika nama kami memang tertulis di Lauhul Mahfuzh, sejauh apa pun jarak perantauan itu, takdir pasti akan mempertemukannya kembali pada waktu yang tepat,” tutur Humaira dengan kelembutan yang penuh keteguhan. “Tugas saya di sini hanyalah mendoakan agar ia senantiasa berada dalam lindungan Allah.”
°˖✧✿✧˖°
Pagi keberangkatan pun tiba. Bus antarkota yang berdebu melaju membelah jalanan beraspal yang berlubang, meninggalkan bayangan pepohonan rindang desa yang kian mengecil di kaca jendela belakang. Fardhan duduk di samping jendela, meraba saku bajunya di mana Al-Qur'an kecil pemberian ayahnya tersimpan rapat tepat di atas dadanya.
Beberapa jam perjalanan membawanya masuk ke dalam rimba beton kota besar. Kebisingan klakson kendaraan, deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, serta lautan manusia yang berlalu-lalang dengan wajah tergesa-gesa menyambut kedatangannya. Tempat ini sungguh asing, bising, dan seolah tidak pernah tidur.
Di terminal kota, seorang pemuda bertopi lusuh dengan senyum lebar melambaikan tangan ke arahnya. Dialah Hafiz Al-Manshur, sahabat lama dari desa tetangga yang sudah lebih dulu mengadu nasib di kota.
“Fardhan! Akhirnya kamu sampai juga di kota ini!” seru Hafiz seraya memeluk Fardhan dengan erat.
“Alhamdulillah, Hafiz. Terima kasih sudah mau menjemputku,” balas Fardhan dengan rasa lega melihat wajah yang dikenalnya.
“Ayo, kita langsung ke kontrakan kecilkuku. Di sana kamu bisa menaruh barang-barangmu sebelum besok mulai mencari peruntungan,” ajak Hafiz seraya membawakan salah satu tas Fardhan.
Di kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter yang beralaskan tikar plastik, Fardhan mulai merasakan betapa kerasnya kehidupan kota. Malam pertama di perantauan tidak dihiasi oleh suara jangkrik atau lantunan ayat Al-Qur'an dari surau desa, melainkan deru mesin kendaraan dan teriakan orang-orang di luar gang.
“Bagaimana rasanya malam pertama di kota, Fardhan?” tanya Hafiz seraya menyeduh dua cangkir kopi instan di sudut ruangan.
Fardhan tersenyum tipis seraya melipat sarungnya setelah menunaikan salat Isya. “Rasanya sangat berbeda, Hafiz. Di sini semuanya bergerak begitu cepat. Rasanya jika kita berhenti sejenak, kita akan tertinggal jauh.”
“Itulah kota, kawan,” ujar Hafiz seraya menyodorkan cangkir kopi. “Di sini tidak ada tempat untuk orang yang ragu-ragu. Tapi ingat, kamu harus hati-hati. Di kota ini, mencari teman itu mudah, tapi mencari orang yang bisa dipercaya sangatlah sulit.”
“Terima kasih atas peringatannya, Hafiz. Ayahku juga berpesan hal yang sama sebelum aku pergi,” kata Fardhan.