SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

MENUJU KOTA

Bus Malam Menuju Kota

---o0o---

Roda-roda besi bus malam Laju Bahari bergulir lambat membelah kerikil pelataran terminal kecil di pinggir jalan raya kecamatan Rimbai. Bau asap solar, debu jalanan, dan embun dingin bercampur menjadi satu di udara malam yang pekat. Fardhan Ar Rimbai berdiri di samping pintu bus yang terbuka, menjinjing tas kain lusuhnya dengan erat. Di usianya yang kini genap delapan belas tahun, tubuhnya yang tegap dibalut jaket kain kusam pemberian ayahnya.

Di hadapannya, Abdul Karim dan Maryam berdiri berdampingan di bawah temaram sinar lampu pijar terminal. Binar kebanggaan dan duka perpisahan menyatu di raut wajah kedua orang tua itu.

"Fardhan, cepat naik, Nak. Kondektur sudah memanggil para penumpang," panggil Abdul Karim seraya menepuk bahu tegap putra sulungnya dengan jemari yang kasar.

Fardhan memandangi ayahnya, lalu beralih menatap ibunya yang sedang mengusap sudut matanya dengan ujung kain sarung. "Ayah, Ibu... Fardhan berangkat sekarang. Jaga kesehatan Ayah dan Ibu di rumah."

Maryam melangkah mendekat, merangkul leher Fardhan dan mencium kedua pipinya berulang kali dengan terisak pelan. "Hati-hati di jalan, Fardhan... Jangan pernah tinggalkan shalat lima waktu, Nak. Jika kamu merasa haus dan lapar di kota nanti, ingatlah doa Ibu yang selalu menyertaimu."

"Iya, Bu. Fardhan akan selalu ingat," bisik Fardhan seraya menahan air mata yang berkaca-kaca di pelupuk matanya.

"Ingat janji laki-laki, Fardhan," pangkas Abdul Karim tegas, meski matanya sendiri tampak meredup oleh haru. "Jangan pernah berlutut pada kesusahan. Kota besar boleh keras, tapi imanmu harus lebih keras dari batu karang!"

"Siap, Ayah! Fardhan pegang nasihat Ayah!" jawab Fardhan mantap.

Peristiwa pemicu itu terukir indah dalam keheningan malam terminal, saat Fardhan melangkah menaiki tangga bus malam, meninggalkan pelukan hangat kedua orang tuanya demi menjemput takdir baru.

°˖✧✿✧˖°

Fardhan berjalan menyusuri lorong sempit bus malam yang beraroma minyak kayu putih dan tumpukan barang bawaan. Ia menemukan nomor kursinya di baris tengah, tepat di samping jendela kaca yang sedikit berdebu. Setelah menaruh tas kainnya di rak atas, ia duduk perlahan dan langsung melemparkan pandangannya ke luar jendela.

Mesin bus meraung kencang, lalu kendaraan besar itu perlahan-lahan bergerak maju meninggalkan pelataran terminal.

Dari balik kaca jendela, Fardhan melihat bayangan Abdul Karim dan Maryam yang masih berdiri melambaikan tangan di bawah lampu pijar. Sosok kedua orang tuanya perlahan-lahan makin mengecil, terhalang oleh deretan pohon mahoni di tepi jalan, hingga akhirnya lenyap ditelan kegelapan malam.

Fardhan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kain yang kusam. Dari jendela bus, ia melihat titik-titik lampu pemukiman Kampung Rimbai yang berada di lereng bukit makin jauh dan meredup satu per satu.

Titik plot pertama tercipta saat Fardhan menyaksikan lampu-lampu kampung kelahirannya perlahan menghilang, menandai secara visual dan batiniah bahwa batas kehidupan lamanya telah resmi terlewati.

"Selamat tinggal, desaku... Selamat tinggal, rumah kayuku," bisik Fardhan pelan, membiarkan napas hangatnya membiaskan embun tipis di kaca jendela.

Di sebelah kursinya, seorang penumpang pria paruh baya mengenakan peci hitam dan sarung tebal menoleh ke arah Fardhan.

"Baru pertama kali merantau ke kota ya, Anak Muda?" sapa pria tua itu dengan suara serak yang ramah.

Fardhan menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang sopan. "Iya, Pak. Ini perjalanan pertama saya meninggalkan desa menuju kota besar."

"Pantas saja pandangan matamu sangat berat menatap ke luar jendela," ujar pria tua itu seraya tersenyum bijak. "Nama saya Pak Sastro. Saya sudah puluh tahun bolak-balik desa-kota untuk jualan konveksi."

"Saya Fardhan, Pak," balas Fardhan seraya menjabat tangan Pak Sastro dengan ikhlas.

°˖✧✿✧˖°

Bus malam Laju Bahari terus melaju menembus kegelapan perbukitan. Guncangan keras akibat jalanan berlubang sesekali membuat para penumpang terbangun dan berpegangan pada sandaran kursi. Di dalam bus yang remang-remang, hanya terdengar deru mesin yang konstan dan dengkur halus dari beberapa penumpang yang tertidur lelap.

Fardhan tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Pikiran dan ingatannya melayang bebas melintasi rentang waktu belasan tahun yang lalu.

Refleksi waktu menghantam batinnya dengan sangat kuat. Pandangan matanya yang menatap kegelapan di luar jendela seolah membiaskan rekaman masa kecilnya. Ia teringat saat-saat di mana ia masih berusia tujuh tahun, berlari tanpa alas kaki mengejar layangan putus bersama Hafiz di pematang sawah yang basah. Ia teringat tawa lugunya saat memanjat pohon nangka di samping rumah kayu, dan momen ketika ayahnya pertama kali mengajarinya memegang gagang cangkul di bawah terik matahari siang.

Semua kenangan masa kanak-kanak itu terasa begitu dekat, seolah baru terjadi kemarin sore. Namun kini, di usianya yang delapan belas tahun, masa-masa polos dan tanpa beban itu seakan mendadak tertinggal jauh di belakang, terisolasi di dalam batas Desa Rimbai yang makin menjauh.

Ini menjadi titik tekan pertama bagi jiwa muda Fardhan. Rasa kehilangan yang halus namun menghunjam mulai merayap masuk ke dalam dada. Ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi anak kecil yang terlindung di bawah ketiak orang tuanya lagi.

Pak Sastro yang memperhatikan raut wajah Fardhan yang tampak murung kembali membuka suara.

"Fardhan, apa yang sedang kamu pikirkan sampai menggelengkan kepala begitu?" tanya Pak Sastro seraya menyodorkan sebuah roti tawar bungkus dari tasnya.

Lihat selengkapnya