Dunia Baru
---o0o---
Deru mesin bus antarkota perlahan meredup, menyisakan kepulan asap tipis di pelataran terminal yang panas dan sesak. Bau sangit bahan bakar bercampur aroma gurih gorengan jalanan menyergap penciuman Fardhan Ar Rimbai begitu pijakan kakinya menyentuh permukaan aspal yang retak-retak. Riuk pikuk jeritan calo penumpang, dentuman musik dari warung remang-remang, serta lalu lalang lautan manusia yang berdesakan langsung menyambut kedatangannya.
Di sudut terminal, Fardhan tertegun sejenak. Ia menggenggam erat tali tas kain kusam yang menyilang di dadanya. Pemandangan di hadapannya sungguh berbeda dengan ketenangan desa yang selama ini menjadi tempatnya bernapas.
"Kota tidak pernah tidur, Fardhan," bisik sebuah suara hangat dari balik punggungnya.
Fardhan menoleh dan menemukan Hafiz Al-Manshur berdiri memamerkan senyum lebar. Sahabat lama dari desa tetangga itu mengenakan jaket agak kusam dengan helm tergantung di siku tangannya.
"Alhamdulillah, Hafiz. Terima kasih banyak sudah sudi menjemputku di tengah riuhnya terminal ini," tutur Fardhan seraya merangkul sahabatnya itu.
"Sama-sama, Saudaraku! Selamat datang di belantara beton," jawab Hafiz seraya menepuk bahu Fardhan cukup keras. "Bagaimana perjalananmu dari desa? Cukup melelahkan, bukan?"
"Lumayan panjang, Hafiz," sahut Fardhan seraya mengusap peluh di dahinya. "Namun rasa lelah itu langsung menguap begitu melihat betapa cepatnya ritme kehidupan di tempat ini. Semua orang tampak seperti sedang berlari."
Hafiz terkekeh pelan seraya memimpin jalan menuju deretan sepeda motor yang terparkir rapi. "Di kota ini, jika kamu berjalan perlahan, kamu akan tergilas. Siapa yang berhenti, dia yang tertinggal. Ayo, kita ke kontrakan dulu sebelum kamu kelelahan menghirup debu jalanan."
Mereka menembus kemacetan kota dengan sepeda motor tua milik Hafiz. Fardhan menatap deretan gedung pencakar langit yang menjulang megah menantang langit sore. Kaca-kaca gedungnya memantulkan cahaya matahari keemasan, berdampingan sangat kontras dengan pemukiman kumuh di bawah kolong jembatan layang.
"Kota ini menawarkan segalanya, Fardhan," ujar Hafiz sedikit berteriak di antara gemuruh suara knalpot. "Kemewahan, kesuksesan, tetapi juga kehancuran yang sangat cepat."
"Mengapa kamu berkata demikian, Hafiz?" tanya Fardhan, mendekatkan posisinya agar suaranya terdengar.
"Sebab di sini, nilai seseorang sering kali diukur hanya dari apa yang tampak di permukaan," balas Hafiz seraya membelokkan setang motornya memasuki gang sempit. "Harta, jabatan, dan pakaian necis adalah paspor utama. Tanpa itu semua, kamu hanyalah bayangan asing yang tak dianggap."
Motor berhenti di depan sebuah bangunan petak dua lantai bertuliskan kontrakan bersahaja. Fardhan menurunkan barang bawaannya, lalu memandangi sekeliling gang yang padat penduduk.
"Ini tempat tinggalku selama dua tahun terakhir," kata Hafiz seraya membuka gembok pintu kayu yang agak melengkung. "Sederhana, tetapi cukup untuk merebahkan badan setelah seharian bertarung dengan kerasnya kota."
Fardhan melangkah masuk, mengamati ruangan berukuran tiga kali empat meter yang beralaskan tikar plastik warna hijau. "Tempat ini sangat cukup dan terasa hangat, Hafiz. Aku sangat bersyukur kamu mau menampungku."
"Jangan berkata begitu, Fardhan," potong Hafiz cepat seraya menyodorkan segelas air putih dingin. "Kita sama-sama anak desa yang mengadu nasib. Di perantauan, persahabatan adalah harta yang paling berharga."
Fardhan menerima gelas tersebut, lalu duduk bersila di tikar. Ia merogoh saku bajunya, meraba benjolan kecil Al-Qur'an saku pemberian ayahnya. Kehangatan kulit sampulnya membawa ingatan Fardhan kembali pada petuah sang ayah sebelum ia melangkah meninggalkan rumah.
"Apa yang sedang kamu lamunkan, Fardhan?" tanya Hafiz seraya menyeduh dua cangkir kopi hitam.
"Aku hanya sedang teringat pesan Ayah," jawab Fardhan lembut. "Kota ini membuatku sadar betapa kecilnya diri kita, sekaligus betapa besarnya godaan yang menunggu di depan."
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, petualangan Fardhan yang sesungguhnya di perantauan dimulai. Berbekal kemeja putih polos yang rapi dan celana kain hitam, Fardhan berdiri di depan gedung megah milik PT Nuansa Niaga, perusahaan distribusi berskala nasional yang dipimpin oleh pengusaha dermawan, Pak Rafiq Al-Hakim.
Lobi gedung itu dilapisi marmer mengilap yang memantulkan bayangan deretan orang berkemeja necis. Fardhan melangkah pelan menuju meja resepsionis, menyerahkan map cokelat berisi surat lamaran kerja yang disarankan oleh Ustaz Ahmad Fathan.
"Atas nama Fardhan Ar Rimbai?" tanya staf perempuan di balik meja dengan senyum formal.
"Benar, Mbak. Saya mendapat rujukan untuk menyerahkan berkas ini kepada bagian personalia," jawab Fardhan sopan seraya membungkukkan badan.
"Silakan tunggu di ruang tunggu lantai dua, Mas Fardhan. Nanti akan dipanggil sesuai urutan," petunjuk staf tersebut.
Fardhan mengangguk, lalu menaiki tangga eskalator menuju ruang tunggu. Di sana, puluhan pelamar kerja duduk berjejer. Wajah-wajah mereka tampak tegang, masing-masing sibuk membaca berkas atau menatap layar telepon pintar berteknologi tinggi.
Fardhan mengambil tempat duduk di barisan paling belakang. Ia menaruh map cokelatnya di pangkuan. Di sebelahnya, seorang pemuda berjas rapi menatap penampilan Fardhan dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan skeptis.
"Kamu melamar untuk posisi apa?" tanya pemuda itu tiba-tiba dengan nada ketus.
Fardhan menoleh dan tersenyum ramah. "Saya melamar untuk posisi staf administrasi operasional. Nama saya Fardhan."
"Saya Rangga," jawab pemuda itu dingin tanpa membalas juluran tangan Fardhan. "Peluangmu tipis jika tidak punya pengalaman di kota besar. Perusahaan ini mengutamakan lulusan universitas ternama dan orang-orang yang punya jaringan kuat."
"Segala rezeki sudah digariskan oleh Allah, Saudaraku," sahut Fardhan tenang. "Tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin dan berprasangka baik."
Rangga tertawa kecil, bernada ejekan. "Bahasa agama tidak akan membantumu menjawab tes analisis data di dalam sana, Teman. Kota ini bekerja dengan logika angka, bukan dengan kepasrahan."
Sebelum Fardhan sempat membalas, pintu ruang rapat utama terbuka. Pria paruh baya bertubuh tegap dengan wajah penuh wibawa melangkah keluar didampingi oleh seorang manajer muda berdasi merah. Pria tua itu adalah Rafiq Al-Hakim, sementara manajer di sampingnya adalah Dzulfikar.
"Dzulfikar, pastikan proses seleksi hari ini berjalan transparan," tegasi Rafiq Al-Hakim dengan suara berat namun tegas. "Kita mencari orang yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang tidak bisa dibeli."
"Siap, Pak Rafiq. Segala proses akan saya awasi secara ketat," jawab Dzulfikar seraya membungkuk hormat, meski matanya memancarkan keangkuahan yang terselubung.
Pandangan Rafiq Al-Hakim menyapu ruang tunggu, hingga akhirnya berhenti tepat pada sosok Fardhan yang duduk bersahaja di barisan belakang. Tatapan mata Fardhan yang tenang dan jernih membuat Rafiq menghentikan langkahnya sejenak.
"Siapa pemuda di barisan belakang itu?" tanya Rafiq pelan kepada Dzulfikar.
Dzulfikar melirik Fardhan dengan kening berkerut. "Hanya pelamar dari daerah, Pak. Membawa surat rekomendasi dari salah seorang kenalan lama Bapak di desa."
"Panggil dia masuk pertama kali," perintah Rafiq Al-Hakim tanpa ragu.
Dzulfikar tampak terkejut dengan instruksi tersebut. "Namun, Pak Rafiq, sesuai daftar urutan, harusnya saudara Rangga yang masuk terlebih dahulu..."
"Lakukan saja apa yang saya katakan, Dzulfikar," potong Rafiq dengan tatapan tak terbantahkan, sebelum berjalan memasuki ruang kerjanya.
Dzulfikar membalikkan badan, menatap Fardhan dengan pandangan penuh rasa tidak suka yang teramat sangat. "Fardhan Ar Rimbai! Masuk ke ruang wawancara sekarang!" serunya keras.
Sontak seluruh mata di ruang tunggu tertuju pada Fardhan, termasuk Rangga yang menatap Fardhan dengan raut wajah tidak percaya dan penuh kejengkolan. Fardhan berdiri perlahan, merapikan kemejanya, lalu meraba saku dadanya seraya berbisik lirih: "Masya Allah, la quwwata illa billah."
°˖✧✿✧˖°
Wawancara kerja berjalan begitu intens. Di balik meja kayu jati yang megah, Rafiq Al-Hakim dan Dzulfikar duduk berhadapan langsung dengan Fardhan. Berbagai pertanyaan teknis mengenai pengelolaan dokumen, analisis risiko operasional, hingga simpul-simpul persoalan bisnis dilemparkan secara bertubi-tubi.
"Jika kamu menemukan adanya ketidaksesuaian antara catatan fisik keuangan dengan angka di sistem digital milik atasannmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dzulfikar dengan nada menjebak. "Apakah kamu akan melaporkannya dan mempertaruhkan posisimu, atau menutup mata demi keamanan kerjamu?"
Fardhan menatap mata Dzulfikar secara lurus tanpa keraguan. "Kejujuran bukanlah barang dagangan yang bisa ditawar demi kenyamanan posisi, Pak. Saya akan mengonfirmasi perbedaan tersebut secara tertulis kepada pihak yang berwenang, karena membiarkan kebohongan kecil adalah awal dari kehancuran sistem yang besar."
Rafiq Al-Hakim tersenyum tipis mendengarkan jawaban tersebut, sementara Dzulfikar hanya menyunggingkan senyum sinis yang sarat kemarahan tersembunyi.
Kejujuran dan ketajaman pemikiran Fardhan akhirnya membuat Rafiq memutuskannya diterima bekerja sebagai staf administrasi khusus. Namun, keputusan itu langsung menjadi titik awal ujian Fardhan di tengah belantara perantauan.
Dunia kerja di PT Nuansa Niaga ternyata penuh dengan persaingan terselubung. Persaingan antar-karyawan tidak lagi menggunakan cara yang sehat, melainkan saling menjatuhkan demi mendapatkan promosi jabatan dan bonus bulanan.
Suatu sore di ruang arsip kantor, Fardhan sedang merapikan bertumpuk-tumpuk dokumen transaksi tahun lalu. Pintu ruang arsip terbuka, dan Dzulfikar melangkah masuk dengan tangan bersedekap di dada.