Kamar Sempit, Mimpi Besar
---o0o---
Hujan deras mengguyur atap seng sebuah rumah kontrakan tua di pemukiman padat pinggiran kota besar. Di dalam kamar berukuran dua kali tiga meter yang lembap itu, Fardhan Ar Rimbai melipat sajadah lusuhnya usai menunaikan shalat Isya. Dinding kamar yang terbuat dari papan triplek bercat putih kusam dihiasi beberapa kelupas air hujan. Satu-satunya penerangan adalah sebuah bohlam lima watt yang berpendar temaram, membiaskan bayangan tubuh tegap Fardhan di dinding yang lembap.
Di sudut kamar, terhampar kasur kapuk tipis tanpa sprei, sebuah tas kain lusuh yang berisi pakaian, serta meja lipat kayu bekas yang dipenuhi tumpukan buku kuliah perbankan syariah dan kamus bahasa asing.
Fardhan memegang dompet kulitnya yang tipis. Ketika dibuka, hanya tersisa dua lembar uang lima ribu rupiah dan beberapa keping uang logam. Sisa beasiswa bulanannya belum cair karena proses administrasi kampus yang berbelit-belit, sementara pekerjaan paruh waktunya sebagai juru ketik rekapitulasi data di toko grosir kelontong hanya memberi upah yang jauh dari cukup untuk menutupi biaya hidup kota yang mencekik.
Pintu kamar tripleknya diketuk pelan dari luar. Ibu Ratna, pemilik kontrakan paruh baya yang bertubuh agak tambun, berdiri di balik pintu kayu yang renggang.
"Fardhan, kamu di dalam, Nak?" panggil Ibu Ratna dengan nada suara yang sedikit ragu.
Fardhan bergegas membuka pintu, menyunggingkan senyum hangat yang santun. "Iya, Ibu Ratna. Silakan masuk, Bu."
Ibu Ratna melongokkan kepalanya ke dalam kamar yang sempit itu, memandangi ruangan yang serba terbatas namun tertata amat rapi dan wangi minyak atar.
"Ibu tidak berniat menganggumu, Fardhan," ujar Ibu Ratna seraya memegang kusen pintu. "Ibu cuma mau mengingatkan, tunggakan sewa kamar bulan ini tinggal tiga hari lagi batas waktunya. Kalau belum dibayar, Ibu terpaksa menyewakan kamar ini ke buruh pabrik lain."
Fardhan menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap Ibu Ratna dengan penuh kesungguhan. "Ibu Ratna, Fardhan paham sekali. Beri Fardhan waktu sampai lusa ya, Bu? Fardhan sedang menunggu upah dari toko grosir Pak Seno dan pencairan dana bantuan beasiswa."
Ibu Ratna menghela napas panjang, tatapannya melunak melihat kesantunan pemuda desa itu. "Kamu anak yang jujur dan rajin, Fardhan. Ibu sebenarnya kasihan melihatmu makan nasi bungkus dibagi dua setiap hari. Tapi Ibu juga butuh uang sewa ini untuk bayar listrik."
"Iya, Bu. Fardhan janji tidak akan mengecewakan Ibu Ratna," pangkas Fardhan mantap.
Peristiwa pemicu itu menegaskan realitas pahit di awal perantauan Fardhan, di mana impian tingginya langsung dibenturkan pada kesempitan hidup, keterbatasan uang, dan ancaman pengusiran dari kamar kontrakan sempitnya.
°˖✧✿✧˖°
Pagi harinya, sebelum azan Subuh berkumandang, Fardhan sudah melangkah keluar dari kontrakan sempitnya menuju Pasar Induk Kota. Dinginnya angin fajar menusuk hingga ke tulang, namun Fardhan mengayuh sepeda tua bekas yang dibelinya dari tukang rosok dengan penuh semangat. Ia mengambil pekerjaan sampingan tambahan sebagai kuli panggul karung beras dari pukul empat hingga pukul enam pagi, sebelum meluncur ke kampus untuk kuliah pagi.
Di lorong pasar yang becek dan riuh oleh teriakan pedagang, Fardhan memanggul karung beras seberat lima puluh kilogram di atas pundaknya. Peluh mengucur deras membasahi kemeja kusamnya, namun jemarinya memegang erat karung goni tersebut tanpa keluhan.
"Ayo, Fardhan! Tambah satu karung lagi ke truk depan!" teriak Bang Hasan, mandor pasar bertubuh kekar.
"Siap, Bang Hasan! Bismillah!" sahut Fardhan seraya mengangkat karung berikutnya dengan mantap.
Usai menyelesaikan tugas panggulnya, Bang Hasan menyerahkan beberapa lembar uang kertas lusuh kepada Fardhan.
"Ini upahmu pagi ini, Fardhan. Tiga puluh ribu rupiah," ujar Bang Hasan seraya menepuk bahu tegap Fardhan. "Kamu ini mahasiswa berseragam rapi, kenapa mau menyiksa diri jadi kuli panggul begini?"
Fardhan menerima uang tersebut dengan kedua tangannya, mengusapnya penuh kesyukuran. "Uang yang didapat dari keringat halal tidak pernah menyiksa diri, Bang Hasan. Yang menyiksa itu kalau kita sok gengsi tapi makan dari jalan yang salah."
Titik plot pertama tercipta saat Fardhan menegaskan prinsip hidupnya yang tak tergoyahkan, bahwa kesempitan fisik dan pekerjaan kasar tidak akan pernah meruntuhkan martabat kejujuran dan kehormatan jiwanya.
"Kamu pemuda langka, Fardhan," puji Bang Hasan seraya tersenyum bangga. "Anak-anak muda kota zaman sekarang mana ada yang mau kotor-kotoran begini demi uang tiga puluh ribu."
"Setiap rupiah ini adalah penyambung napas cita-cita saya di kota ini, Bang," jawab Fardhan seraya tersenyum tulus.
°˖✧✿✧˖°
Siang harinya di kampus, kontras kehidupan Fardhan makin terasa menyengat. Di saat mahasiswa-mahasiswa lain dari keluarga kaya berkumpul di kantin modern seraya memamerkan kendaraan baru dan pakaian bermerek, Fardhan duduk bersila di sudut selasar perpustakaan kampus yang sepi. Ia menyantap bekal nasi dingin berlauk tahu goreng yang dibawanya dari kontrakan.
Dzulfikar, alumni kaya yang kini menjadi pengurus asosiasi mahasiswa perbankan kota, melintas di selasar bersama dua orang pengikutnya. Langkah kakinya terhenti tepat di hadapan tempat Fardhan duduk.
Dzulfikar melipat kedua tangannya di dada, menatap Fardhan dari atas ke bawah dengan senyum ejekan yang dingin.
"Lihat ini, anak emas Desa Rimbai yang dibangga-banggakan Kiai Zulfikar," sindir Dzulfikar dengan suara lantang hingga terdengar oleh beberapa mahasiswa lain. "Makan nasi dingin di lantai perpustakaan seperti pengemis kota. Apakah beasiswa murahmu itu bahkan tidak cukup untuk membeli semangkuk mie di kantin, Fardhan?"
Para pengikut Dzulfikar tertawa kecil mendengar sindiran tersebut.
Fardhan mengunyah nasi dinginnya dengan tenang, menutup tempat makannya dengan rapi, lalu bangkit berdiri menatap lurus mata Dzulfikar tanpa ada sedikit pun rasa rendah diri atau amarah yang liar.
"Makanan yang saya makan didapat dari keringat yang halal, Saudara Dzulfikar," jawab Fardhan dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Kesempitan tempat duduk saya di lantai ini tidak mengurang sedikit pun kehormatan ilmu yang sedang saya tuntut di kampus ini."